KOMPAS.com - Perempuan tertinggal di dunia kerja bukan hanya karena perbedaan gaji atau diskriminasi, tapi karena mereka tidak memiliki waktu yang sama dengan laki-laki untuk bersaing.
Itu merupakan kesimpulan dari penelitian baru yang ditulis oleh Profesor Toyin Adisa dari University of East London dan diterbitkan dalam International Journal of Management Reviews.
Melansir Phys, Rabu (1/4/2026) laporan tersebut menganalisis 88 penelitian dan menemukan bahwa kehidupan kerja perempuan dibatasi oleh "himpitan waktu" yang terus-menerus akibat pekerjaan rumah tangga, mengurus keluarga tanpa dibayar, serta tuntutan sosial yang kaku.
Baca juga: Fenomena Sticky Floor, Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Ini berarti banyak perempuan secara efektif melakukan dua pekerjaan. Akibatnya, mereka memiliki lebih sedikit waktu untuk membangun jaringan, pelatihan, visibilitas, dan kemajuan, yang semuanya sangat penting untuk maju di tempat kerja.
Para peneliti berpendapat bahwa kesenjangan waktu yang tersembunyi ini adalah penghalang besar bagi kesetaraan karier yang sering kali diabaikan.
Bahkan ketika perusahaan menawarkan sistem kerja fleksibel, hal itu sering kali gagal menyelesaikan masalah karena tuntutan mengenai ketersediaan waktu dan produktivitas tetap tidak berubah.
Meskipun studi ini berfokus pada tempat kerja di Afrika, para penulis menyatakan bahwa temuan tersebut mencerminkan masalah global yang lebih luas.
Banyak perusahaan masih menggambarkan sosok pekerja ideal yang selalu siap sedia dan memiliki sedikit tanggung jawab di luar pekerjaan. Kenyataannya, model seperti itu menyisihkan banyak perempuan di mana pun mereka berada.
Penelitian ini juga memaparkan lima cara bagaimana waktu memengaruhi perempuan di tempat kerja, mulai dari tekanan fase kehidupan seperti menjadi ibu, hingga faktor sejarah dan budaya yang menentukan siapa yang diharapkan untuk mengurus rumah tangga.
Dari semua faktor tersebut, hasilnya tetap sama: kesempatan yang lebih sedikit, pengakuan yang lebih rendah, dan inklusi yang lebih sempit.
Solusi Wujudkan Kesetaraan
Para penulis menyatakan bahwa pemberi kerja perlu merombak cara kerja di perusahaan. Saran perubahannya bisa meliputi dukungan penitipan anak yang lebih baik, beban kerja yang lebih adil, dan ekspektasi yang lebih masuk akal mengenai jam kerja.
Baca juga: Beban Perempuan Global, Habiskan 250 Juta Jam Setiap Hari demi Air
"Perempuan tertinggal bukan karena mereka kurang ambisi atau kemampuan. Mereka tertinggal karena memikul 'shift kedua' atau pekerjaan rumah tangga yang sebagian besar tempat kerja masih abaikan. Jika kita ingin kesetaraan yang nyata, kita harus berhenti merancang pekerjaan dengan anggapan bahwa setiap orang punya waktu tanpa batas," ungkap Profesor Adisa.
Lebih lanjut, penelitian ini memperingatkan bahwa tidak ada solusi instan.
Meskipun jam kerja fleksibel dan bantuan penitipan anak bisa membantu, masalahnya jauh lebih mendalam. Ketidakadilan bagi perempuan di tempat kerja berakar dari cara waktu dibagi di masyarakat, yang dipengaruhi oleh peran gender yang kaku, ekspektasi budaya, dan aturan perusahaan.
"Jika kita serius ingin mewujudkan kesetaraan, kita tidak bisa hanya mengandalkan perubahan kebijakan kecil. Kita harus merombak cara kerja diatur dan bagaimana pekerjaan mengurus keluarga dihargai di masyarakat," tambah Profesor Adisa.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya