Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier

Kompas.com, 3 April 2026, 18:56 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perempuan tertinggal di dunia kerja bukan hanya karena perbedaan gaji atau diskriminasi, tapi karena mereka tidak memiliki waktu yang sama dengan laki-laki untuk bersaing.

Itu merupakan kesimpulan dari penelitian baru yang ditulis oleh Profesor Toyin Adisa dari University of East London dan diterbitkan dalam International Journal of Management Reviews.

Melansir Phys, Rabu (1/4/2026) laporan tersebut menganalisis 88 penelitian dan menemukan bahwa kehidupan kerja perempuan dibatasi oleh "himpitan waktu" yang terus-menerus akibat pekerjaan rumah tangga, mengurus keluarga tanpa dibayar, serta tuntutan sosial yang kaku.

Baca juga: Fenomena Sticky Floor, Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja

Ini berarti banyak perempuan secara efektif melakukan dua pekerjaan. Akibatnya, mereka memiliki lebih sedikit waktu untuk membangun jaringan, pelatihan, visibilitas, dan kemajuan, yang semuanya sangat penting untuk maju di tempat kerja.

Beban Kerja Ganda

Para peneliti berpendapat bahwa kesenjangan waktu yang tersembunyi ini adalah penghalang besar bagi kesetaraan karier yang sering kali diabaikan.

Bahkan ketika perusahaan menawarkan sistem kerja fleksibel, hal itu sering kali gagal menyelesaikan masalah karena tuntutan mengenai ketersediaan waktu dan produktivitas tetap tidak berubah.

Meskipun studi ini berfokus pada tempat kerja di Afrika, para penulis menyatakan bahwa temuan tersebut mencerminkan masalah global yang lebih luas.

Banyak perusahaan masih menggambarkan sosok pekerja ideal yang selalu siap sedia dan memiliki sedikit tanggung jawab di luar pekerjaan. Kenyataannya, model seperti itu menyisihkan banyak perempuan di mana pun mereka berada.

Penelitian ini juga memaparkan lima cara bagaimana waktu memengaruhi perempuan di tempat kerja, mulai dari tekanan fase kehidupan seperti menjadi ibu, hingga faktor sejarah dan budaya yang menentukan siapa yang diharapkan untuk mengurus rumah tangga.

Dari semua faktor tersebut, hasilnya tetap sama: kesempatan yang lebih sedikit, pengakuan yang lebih rendah, dan inklusi yang lebih sempit.

Solusi Wujudkan Kesetaraan

Para penulis menyatakan bahwa pemberi kerja perlu merombak cara kerja di perusahaan. Saran perubahannya bisa meliputi dukungan penitipan anak yang lebih baik, beban kerja yang lebih adil, dan ekspektasi yang lebih masuk akal mengenai jam kerja.

Baca juga: Beban Perempuan Global, Habiskan 250 Juta Jam Setiap Hari demi Air

"Perempuan tertinggal bukan karena mereka kurang ambisi atau kemampuan. Mereka tertinggal karena memikul 'shift kedua' atau pekerjaan rumah tangga yang sebagian besar tempat kerja masih abaikan. Jika kita ingin kesetaraan yang nyata, kita harus berhenti merancang pekerjaan dengan anggapan bahwa setiap orang punya waktu tanpa batas," ungkap Profesor Adisa.

Lebih lanjut, penelitian ini memperingatkan bahwa tidak ada solusi instan.

Meskipun jam kerja fleksibel dan bantuan penitipan anak bisa membantu, masalahnya jauh lebih mendalam. Ketidakadilan bagi perempuan di tempat kerja berakar dari cara waktu dibagi di masyarakat, yang dipengaruhi oleh peran gender yang kaku, ekspektasi budaya, dan aturan perusahaan.

"Jika kita serius ingin mewujudkan kesetaraan, kita tidak bisa hanya mengandalkan perubahan kebijakan kecil. Kita harus merombak cara kerja diatur dan bagaimana pekerjaan mengurus keluarga dihargai di masyarakat," tambah Profesor Adisa.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau