KOMPAS.com - Penelitian baru mengungkapkan mayoritas petani padi di India dan Pakistan tidak ingin anak-anak mereka menjadi petani.
Petani merasa bertani sudah tidak menjanjikan lagi untuk masa depan anak mereka. Penyebabnya, cuaca ekstrem yang merusak hasil panen secara global setiap tahunnya.
Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran besar karena dunia bisa-bisa terancam kekurangan stok beras di masa depan.
Melansir Edie, Kamis (2/4/2026) temuan tersebut berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan oleh Mars, yang menyoroti meningkatnya tekanan yang dihadapi petani padi di seluruh dunia.
Perusahaan produsen barang konsumsi itu sebelumnya melakukan survei terhadap petani dan riset konsumen, serta mengkaji data terkait iklim dan data dari internal bisnis mereka.
Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran, FAO Ingatkan Petani dan Pekerja Migran Bisa Terdampak Parah
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan bahwa beras memberi makan lebih dari setengah populasi dunia setiap hari.
Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir, telah mengurangi hasil panen padi global rata-rata 4,3 persen setiap tahun sejak 1980. Ini setara dengan 18 juta ton beras yang hilang setiap tahun.
Di tengah situasi ini, Mars bekerja sama dengan 60 Decibels melakukan survei terhadap 1.613 petani padi di India, Pakistan, dan Thailand pada tahun 2024.
Hasilnya, 70 persen petani padi di India dan 63 persen petani padi di Pakistan menyatakan bahwa kondisi saat ini sudah tidak lagi layak atau berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Hal tersebut dapat memicu kelangkaan beras dunia, mengingat India saat ini menyumbang hampir 40 persen dari seluruh ekspor beras global dan Pakistan mengekspor sekitar 8 persen beras dunia.
Laporan penelitian tersebut juga menyoroti adanya kesenjangan besar dalam kesadaran konsumen mengenai bagaimana perubahan iklim dapat berdampak pada produksi beras global di masa depan, misalnya saja yang terjadi di Inggris.
Menurut data pemerintah, Inggris sepenuhnya bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan berasnya, terutama dari India dan Pakistan.
Namun, survei terhadap 2.000 orang dewasa di Inggris menemukan bahwa meskipun 62 persen orang menganggap beras sebagai makanan pokok, sebanyak 38 persen di antaranya tidak percaya bahwa perubahan iklim bisa mengganggu produksi beras.
Selain itu, 36 persen konsumen sama sekali tidak tahu tanaman mana yang paling berdampak buruk bagi lingkungan.
Meski begitu, dua perlima responden percaya bahwa pemerintah dan pembuat kebijakanlah yang memegang tanggung jawab terbesar untuk membuat pertanian padi menjadi lebih ramah lingkungan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya