Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pusat Data Picu 'Pulau Panas', Suhu Sekitar Melonjak Hingga 2 Derajat

Kompas.com, 6 April 2026, 19:02 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian terbaru mengungkapkan penggunaan pusat data secara global untuk menggerakkan kecerdasan buatan (AI) menciptakan "pulau panas" yang secara signifikan menghangatkan lingkungan di sekitarnya.

Melansir Independent, Selasa (31/3/2026) studi yang dipimpin oleh para peneliti dari Universitas Cambridge di Inggris ini menunjukkan bahwa pusat data AI yang sangat besar dapat meningkatkan suhu permukaan tanah di sekitarnya rata-rata sebesar 2 derajat C, bahkan dalam beberapa kasus ekstrem kenaikannya mencapai 9,1 derajat C.

Efek pemanasan lokal ini diperkirakan berdampak pada lebih dari 340 juta orang di seluruh dunia yang tinggal dalam radius 10 km dari sebuah pusat data. Para peneliti pun memperingatkan minimnya pengawasan terhadap jejak lingkungan dari fasilitas tersebut

"Masih ada celah besar dalam pemahaman kita mengenai dampak dari pusat data," kata Andrea Marinoni, profesor di Universitas Cambridge sekaligus salah satu penulis studi tersebut.

Baca juga: Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara

Efek Pemanasan dari Pusat Data

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang fokus pada emisi karbon atau penggunaan air, studi yang belum melalui peninjauan sejawat (peer-reviewed) ini meneliti panas fisik yang dilepaskan oleh sistem pendingin server dan proses komputasi.

Para peneliti menganalisis data satelit dari sensor NASA selama 20 tahun, lalu membandingkannya dengan lebih dari 6.000 pusat data yang terletak jauh dari perkotaan padat.

Hal ini dilakukan untuk memisahkan efek panas fasilitas tersebut dari faktor lain, seperti pemanas rumah warga atau pabrik besar.

Mereka menemukan bahwa efek pemanasan ini tidak hanya terjadi di area sekitar bangunan saja. Kenaikan suhu yang signifikan terdeteksi hingga jarak 10 kilometer dari lokasi pusat data.

Skala pemanasan ini serupa dengan fenomena "pulau panas perkotaan" (urban heat island) yang biasa terlihat di kota-kota besar.

Studi tersebut kemudian mengidentifikasi tren pemanasan yang konsisten di seluruh dunia, salah satunya di provinsi Aragón, Spanyol. Di sana, kenaikan suhu sebesar 2 derajat C tampak menonjol sebagai sebuah anomali dibandingkan dengan wilayah-wilayah di sekitarnya.

Efek serupa terlihat di wilayah Bajío, Meksiko, yang mengalami kenaikan suhu sekitar 2 derajat C selama dua dekade terakhir seiring dengan semakin intensifnya pembangunan pusat data.

Di Brasil, para peneliti mencatat kenaikan suhu permukaan yang lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 2,8 derajat C di negara bagian Ceará dan Piauí. Pemanasan ini berpusat di sekitar pusat layanan AI di Teresina dan dianggap sangat tidak biasa bagi iklim di wilayah tersebut.

Baca juga: Elon Musk Ingin Bangun Pusat Data AI di Ruang Angkasa, Dinilai Lebih Efisien

Temuan ini muncul di saat pusat data diperkirakan akan menjadi salah satu sektor yang paling boros listrik dalam ekonomi global. Studi juga memperingatkan bahwa dalam lima tahun ke depan, listrik yang dibutuhkan untuk pengolahan data kemungkinan besar akan melebihi jumlah anggaran listrik untuk sektor manufaktur di seluruh dunia.

Deborah Andrews, profesor emiritus desain keberlanjutan di London South Bank University, mengatakan meskipun kekhawatiran terhadap pusat data terus meningkat, penelitian ini adalah yang pertama yang fokus secara khusus pada panas yang dihasilkan.

Untuk mengatasi pemanasan ini, para peneliti pun menunjukkan beberapa solusi. Hal ini mencakup perangkat lunak sadar karbon yang dirancang agar pelatihan AI tidak terlalu boros energi, serta perangkat keras baru yang mampu mendaur ulang listrik alih-alih melepaskannya sebagai panas.

Para peneliti juga menyoroti teknologi pendinginan pasif, seperti lapisan pendingin radiatif untuk bangunan, yang dapat mengurangi konsumsi energi pendinginan antara 8 persen hingga 20 persen.

Marinoni berharap bahwa penelitian ini akan memicu diskusi yang lebih luas mengenai cara memisahkan kemajuan teknologi dari kerusakan lingkungan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 Prabowo: Krisis Global Buka Peluang Percepat Pengembangan EBT Nasional
Prabowo: Krisis Global Buka Peluang Percepat Pengembangan EBT Nasional
Pemerintah
Pertamina Raih 14 PROPER Emas dan 108 Hijau, KLH Soroti Peran Inovasi Lingkungan
Pertamina Raih 14 PROPER Emas dan 108 Hijau, KLH Soroti Peran Inovasi Lingkungan
BUMN
Estonia Tawarkan Kolaborasi untuk Transisi Hijau dengan Indonesia
Estonia Tawarkan Kolaborasi untuk Transisi Hijau dengan Indonesia
Pemerintah
Prabowo Bahas Percepatan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Timur Tengah
Prabowo Bahas Percepatan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Timur Tengah
Pemerintah
Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa
Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa
Pemerintah
WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan
WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan
Pemerintah
Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Swasta
Biofoam Bonggol Jagung, Cara Siswa SMAN 1 Blora Atasi Dominasi Styrofoam
Biofoam Bonggol Jagung, Cara Siswa SMAN 1 Blora Atasi Dominasi Styrofoam
Swasta
Kesenjangan Gaji Berdasarkan Gender Makin Lebar pada Tahun 2026
Kesenjangan Gaji Berdasarkan Gender Makin Lebar pada Tahun 2026
LSM/Figur
Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
Pemerintah
Kompetisi Climate Impact Innovations Challenge Dibuka, Hadiahnya Capai Rp 15 miliar
Kompetisi Climate Impact Innovations Challenge Dibuka, Hadiahnya Capai Rp 15 miliar
Swasta
Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Pemerintah
Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
LSM/Figur
GASP Nilai Kebijakan Uni Eropa soal Sawit Tak Selesaikan Masalah Deforestasi
GASP Nilai Kebijakan Uni Eropa soal Sawit Tak Selesaikan Masalah Deforestasi
LSM/Figur
Program Bioetanol Berisiko Bebani Keuangan Negara dan Ancam Ketahanan Pangan
Program Bioetanol Berisiko Bebani Keuangan Negara dan Ancam Ketahanan Pangan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau