KOMPAS.com - Penelitian terbaru mengungkapkan penggunaan pusat data secara global untuk menggerakkan kecerdasan buatan (AI) menciptakan "pulau panas" yang secara signifikan menghangatkan lingkungan di sekitarnya.
Melansir Independent, Selasa (31/3/2026) studi yang dipimpin oleh para peneliti dari Universitas Cambridge di Inggris ini menunjukkan bahwa pusat data AI yang sangat besar dapat meningkatkan suhu permukaan tanah di sekitarnya rata-rata sebesar 2 derajat C, bahkan dalam beberapa kasus ekstrem kenaikannya mencapai 9,1 derajat C.
Efek pemanasan lokal ini diperkirakan berdampak pada lebih dari 340 juta orang di seluruh dunia yang tinggal dalam radius 10 km dari sebuah pusat data. Para peneliti pun memperingatkan minimnya pengawasan terhadap jejak lingkungan dari fasilitas tersebut
"Masih ada celah besar dalam pemahaman kita mengenai dampak dari pusat data," kata Andrea Marinoni, profesor di Universitas Cambridge sekaligus salah satu penulis studi tersebut.
Baca juga: Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang fokus pada emisi karbon atau penggunaan air, studi yang belum melalui peninjauan sejawat (peer-reviewed) ini meneliti panas fisik yang dilepaskan oleh sistem pendingin server dan proses komputasi.
Para peneliti menganalisis data satelit dari sensor NASA selama 20 tahun, lalu membandingkannya dengan lebih dari 6.000 pusat data yang terletak jauh dari perkotaan padat.
Hal ini dilakukan untuk memisahkan efek panas fasilitas tersebut dari faktor lain, seperti pemanas rumah warga atau pabrik besar.
Mereka menemukan bahwa efek pemanasan ini tidak hanya terjadi di area sekitar bangunan saja. Kenaikan suhu yang signifikan terdeteksi hingga jarak 10 kilometer dari lokasi pusat data.
Skala pemanasan ini serupa dengan fenomena "pulau panas perkotaan" (urban heat island) yang biasa terlihat di kota-kota besar.
Studi tersebut kemudian mengidentifikasi tren pemanasan yang konsisten di seluruh dunia, salah satunya di provinsi Aragón, Spanyol. Di sana, kenaikan suhu sebesar 2 derajat C tampak menonjol sebagai sebuah anomali dibandingkan dengan wilayah-wilayah di sekitarnya.
Efek serupa terlihat di wilayah Bajío, Meksiko, yang mengalami kenaikan suhu sekitar 2 derajat C selama dua dekade terakhir seiring dengan semakin intensifnya pembangunan pusat data.
Di Brasil, para peneliti mencatat kenaikan suhu permukaan yang lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 2,8 derajat C di negara bagian Ceará dan Piauí. Pemanasan ini berpusat di sekitar pusat layanan AI di Teresina dan dianggap sangat tidak biasa bagi iklim di wilayah tersebut.
Baca juga: Elon Musk Ingin Bangun Pusat Data AI di Ruang Angkasa, Dinilai Lebih Efisien
Temuan ini muncul di saat pusat data diperkirakan akan menjadi salah satu sektor yang paling boros listrik dalam ekonomi global. Studi juga memperingatkan bahwa dalam lima tahun ke depan, listrik yang dibutuhkan untuk pengolahan data kemungkinan besar akan melebihi jumlah anggaran listrik untuk sektor manufaktur di seluruh dunia.
Deborah Andrews, profesor emiritus desain keberlanjutan di London South Bank University, mengatakan meskipun kekhawatiran terhadap pusat data terus meningkat, penelitian ini adalah yang pertama yang fokus secara khusus pada panas yang dihasilkan.
Untuk mengatasi pemanasan ini, para peneliti pun menunjukkan beberapa solusi. Hal ini mencakup perangkat lunak sadar karbon yang dirancang agar pelatihan AI tidak terlalu boros energi, serta perangkat keras baru yang mampu mendaur ulang listrik alih-alih melepaskannya sebagai panas.
Para peneliti juga menyoroti teknologi pendinginan pasif, seperti lapisan pendingin radiatif untuk bangunan, yang dapat mengurangi konsumsi energi pendinginan antara 8 persen hingga 20 persen.
Marinoni berharap bahwa penelitian ini akan memicu diskusi yang lebih luas mengenai cara memisahkan kemajuan teknologi dari kerusakan lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya