KOMPAS.com - Perubahan iklim akan mendorong ular berbisa yang awalnya tinggal di daerah pedalaman kering menuju kawasan pesisir yang padat penduduk.
Menurut studi global terbaru, hal ini meningkatkan risiko konflik antara satwa liar dengan jutaan orang yang mematikan.
Studi tersebut mencatat bahwa populasi ular secara umum akan berpindah ke wilayah yang lebih dingin dan daerah yang lebih ramai, karena suhu yang memanas membuat habitat mereka saat ini tidak lagi nyaman.
Melansir Independent, Kamis (2/4/2026) temuan tersebut didapat setelah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases ini memodelkan habitat dari seluruh 508 spesies ular berbisa yang penting secara medis.
Penelitian tersebut memproyeksikan bagaimana wilayah persebaran mereka akan bergeser pada tahun 2050 dan 2090.
"Sebelum studi ini dilakukan, secara mengejutkan sangat sedikit yang diketahui tentang persebaran pasti banyak ular berbisa, bahkan untuk jenis yang tersebar luas dan sering menggigit manusia," catat studi tersebut.
Baca juga: 450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
"Alasan utama mengapa gigitan ular dianggap sebagai penyakit tropis yang 'terabaikan' adalah karena kita sangat sedikit tahu tentang berapa banyak orang yang digigit dan di mana lokasinya, meskipun beban yang ditimbulkan oleh gigitan ini sangat besar di banyak negara," tulis studi itu lagi.
Secara global, pertemuan paling sering antara populasi ular dan manusia terjadi di Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, wilayah yang memang sudah memiliki kasus gigitan ular tertinggi.
Seiring memanasnya bumi, pertemuan ini diperkirakan akan meningkat drastis di anak benua India, Amerika Utara bagian timur, dan sebagian wilayah China.
Menurut studi empat spesies ular yang diperkirakan paling sering bertemu manusia pada tahun 2090 adalah kobra pemurah leher hitam, krait pita banyak, cottonmouth, dan copperhead.
Studi ini adalah yang pertama memodelkan seluruh ular berbisa yang berbahaya secara medis, termasuk spesies yang datanya sangat sedikit dengan tingkat ketelitian wilayah hingga sekitar satu kilometer.
Penelitian ini menggunakan berbagai sumber data, mulai dari basis data pemerintah dan swasta, platform laporan warga (citizen science), catatan museum, literatur ilmiah, hingga pengamatan ahli. Semua data tersebut telah diperiksa oleh panel internasional yang terdiri dari sekitar 30 pakar.
Gigitan ular membunuh sekitar 138.000 orang dan menyebabkan 400.000 orang cacat setiap tahunnya, terutama di komunitas pedesaan miskin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. WHO menargetkan untuk mengurangi dampak tersebut sebesar 50 persen pada tahun 2030.
Perilaku manusia membuat gambaran risiko ini menjadi lebih rumit. Pekerja tani tanpa alat pelindung diri jauh lebih rentan terkena gigitan ular dibandingkan mereka yang menggunakan mesin.
Selain itu, banjir akibat cuaca ekstrem diketahui meningkatkan kasus gigitan ular karena membuat manusia maupun ular terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya