Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Bikin Ular Berbisa Pindah ke Kawasan Pesisir Padat Penduduk

Kompas.com, 6 April 2026, 17:28 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan iklim akan mendorong ular berbisa yang awalnya tinggal di daerah pedalaman kering menuju kawasan pesisir yang padat penduduk.

Menurut studi global terbaru, hal ini meningkatkan risiko konflik antara satwa liar dengan jutaan orang yang mematikan.

Studi tersebut mencatat bahwa populasi ular secara umum akan berpindah ke wilayah yang lebih dingin dan daerah yang lebih ramai, karena suhu yang memanas membuat habitat mereka saat ini tidak lagi nyaman.

Melansir Independent, Kamis (2/4/2026) temuan tersebut didapat setelah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases ini memodelkan habitat dari seluruh 508 spesies ular berbisa yang penting secara medis.

Penelitian tersebut memproyeksikan bagaimana wilayah persebaran mereka akan bergeser pada tahun 2050 dan 2090.

"Sebelum studi ini dilakukan, secara mengejutkan sangat sedikit yang diketahui tentang persebaran pasti banyak ular berbisa, bahkan untuk jenis yang tersebar luas dan sering menggigit manusia," catat studi tersebut.

Baca juga: 450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak

"Alasan utama mengapa gigitan ular dianggap sebagai penyakit tropis yang 'terabaikan' adalah karena kita sangat sedikit tahu tentang berapa banyak orang yang digigit dan di mana lokasinya, meskipun beban yang ditimbulkan oleh gigitan ini sangat besar di banyak negara," tulis studi itu lagi.

Wilayah dengan Konflik Manusia vs Ular Terbanyak

Secara global, pertemuan paling sering antara populasi ular dan manusia terjadi di Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, wilayah yang memang sudah memiliki kasus gigitan ular tertinggi.

Seiring memanasnya bumi, pertemuan ini diperkirakan akan meningkat drastis di anak benua India, Amerika Utara bagian timur, dan sebagian wilayah China.

Menurut studi empat spesies ular yang diperkirakan paling sering bertemu manusia pada tahun 2090 adalah kobra pemurah leher hitam, krait pita banyak, cottonmouth, dan copperhead.

Studi ini adalah yang pertama memodelkan seluruh ular berbisa yang berbahaya secara medis, termasuk spesies yang datanya sangat sedikit dengan tingkat ketelitian wilayah hingga sekitar satu kilometer.

Penelitian ini menggunakan berbagai sumber data, mulai dari basis data pemerintah dan swasta, platform laporan warga (citizen science), catatan museum, literatur ilmiah, hingga pengamatan ahli. Semua data tersebut telah diperiksa oleh panel internasional yang terdiri dari sekitar 30 pakar.

Mengurangi Gigitan Ular

Gigitan ular membunuh sekitar 138.000 orang dan menyebabkan 400.000 orang cacat setiap tahunnya, terutama di komunitas pedesaan miskin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. WHO menargetkan untuk mengurangi dampak tersebut sebesar 50 persen pada tahun 2030.

Perilaku manusia membuat gambaran risiko ini menjadi lebih rumit. Pekerja tani tanpa alat pelindung diri jauh lebih rentan terkena gigitan ular dibandingkan mereka yang menggunakan mesin.

Selain itu, banjir akibat cuaca ekstrem diketahui meningkatkan kasus gigitan ular karena membuat manusia maupun ular terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Pemerintah
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Pemerintah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
LSM/Figur
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
LSM/Figur
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
LSM/Figur
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Swasta
AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau