KOMPAS.com - Elon Musk berencana menempatkan pusat data AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) ke ruang angkasa. Wacana ini muncul menyusul usulan bergabungnya SpaceX milik Musk dengan perusahaan xAI.
Saat ini pusat data AI ruang angkasa Musk masih berupa konsep tahap awal. Sistemnya kemungkinan bakal mengandalkan ratusan satelit bertenaga surya yang saling terhubung di orbit untuk menangani besarnya kebutuhan komputasi AI, seperti Grok dari xAI atau ChatGPT dari OpenAI.
Baca juga:
Pasalnya, fasilitas pusat data AI di bumi dinilai kian boros energi listrik dan makin mahal untuk dioperasikan.
“Ini keputusan yang jelas untuk membangun pusat data bertenaga surya di ruang angkasa. Lokasi berbiaya murah untuk menempatkan AI adalah ruang angkasa, dan hal itu akan berlaku dalam dua tahun, paling lambat tiga tahun,” kata Musk dalam World Economic Forum di Davos, Swiss, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (30/1/2026).
Roket SpaceX Falcon 9 meluncurkan 28 satelit Starlink ke orbit dari Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg di California pada 25 Oktober 2025. Elon Musk berencana menempatkan pusat data AI di ruang angkasa dengan ratusan satelit bertenaga surya. Konsep ini diklaim lebih murah dan efisien.SpaceX merupakan perusahaan pembuat roket yang telah meluncurkan ribuan satelit ke orbit dengan sebagiannya untuk layanan internet Starlink.
Apabila komputasi AI berbasis ruang angkasa berhasil, SpaceX berada pada posisi paling ideal untuk mengoperasikan klaster satelit AI atau memfasilitasi pembangunan komputasi di orbit.
Operasional pusat data AI di ruang angkasa juga dinilai memungkinkan penggunaan stabilitas energi surya, sekaligus menghilangkan kebutuhan pendinginan yang selama ini mendominasi biaya pusat data di daratan. Dengan demikian, pemrosesan AI dinilai akan menjadi jauh lebih efisien.
Dilaporkan bahwa SpaceX tengah mempertimbangkan penawaran umum perdana tahun ini yang bisa mendanai perusahaan lebih dari satu triliun dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 16.789 triliun). Sebagian hasil IPO disebut akan digunakan untuk pengembangan satelit pusat data AI.
Namun, para pakar ruang angkasa memperingatkan bahwa kelayakan komersialnya membutuhkan waktu beberapa tahun lagi.
Mereka menyoroti risiko besar, seperti puing-puing ruang angkasa, perlindungan perangkat keras dari radiasi kosmik, keterbatasan perawatan langsung, serta biaya peluncuran.
Deutsche Bank memperkirakan penerapan pusat data orbital skala kecil pertama akan dilaksanakan pada 2027–2028 guna menguji teknologi dan nilai ekonominy.
Setidaknya, ratusan hingga ribuan satelit baru muncul pada tahun 2030-an jika misi awal ini berhasil.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya