Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) yang sekadar dijadikan tempat pembuangan akhir.
Bahkan tidak sedikit yang bocor ke lingkungan. Sungai dan laut menjadi saksi nyata bahwa sistem pengelolaan sampah kita belum bekerja.
Dalam konteks ini, kenaikan harga plastik seharusnya dibaca sebagai “alarm keras”.
Ia bukan sekadar gangguan pasar, tetapi sinyal bahwa model ekonomi linear --ambil, pakai, buang-- tidak lagi relevan.
Ketika bahan baku mahal, sementara limbahnya melimpah dan tidak termanfaatkan, maka ada sesuatu yang keliru secara mendasar.
Momentum ini menjadi sangat relevan dengan kampanye para pegiat lingkungan dengan tagar seperti #kurangiplastiksekalipakai atau #stopsingleuseplastic.
Selama ini, slogan tersebut sering dipersepsikan sebagai ajakan moral yang idealistis, bahkan dianggap merepotkan.
Dalam situasi sekarang, pesan itu justru menemukan konteks ekonominya.
Baca juga: Ekonomi Berbentuk Huruf K
Mengurangi plastik sekali pakai bukan hanya soal menyelamatkan lingkungan, tetapi juga strategi bertahan di tengah ketidakpastian harga dan pasokan.
Dari sisi pengurangan, kenaikan harga plastik bisa menjadi pemicu perubahan perilaku yang selama ini sulit didorong.
Ketika biaya kantong plastik meningkat, konsumen mulai mempertimbangkan alternatif: membawa tas sendiri, memilih produk dengan kemasan minimal, atau beralih ke sistem guna ulang.
Perubahan ini mungkin kecil di tingkat individu, tetapi jika terjadi secara kolektif, dampaknya signifikan.
Refleksi ini tidak boleh berhenti pada individu. Justru di sinilah peran kebijakan publik menjadi krusial.
Tanpa arah yang jelas, kenaikan harga plastik hanya akan menjadi beban tambahan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM.
Negara perlu mengubah momentum ini menjadi titik akselerasi: memperkuat regulasi pembatasan plastik sekali pakai, memberi insentif bagi inovasi kemasan ramah lingkungan, serta memastikan edukasi publik berjalan konsisten.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya