Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Di sisi lain, dari perspektif penanganan, kenaikan harga plastik seharusnya mengubah cara kita memandang sampah.
Jika bahan baku plastik menjadi mahal, maka sampah plastik sejatinya adalah “cadangan sumber daya” yang selama ini terabaikan.
Sayangnya, potensi ini terhambat oleh satu persoalan klasik: pemilahan.
Baca juga: Perekonomian Vietnam Berlari, Bisakah Indonesia Lampaui?
Sampah yang tercampur membuat plastik kehilangan nilai ekonominya. Ia sulit didaur ulang, kualitasnya rendah, dan biaya pengolahannya tinggi.
Akibatnya, plastik yang seharusnya bisa menjadi bahan baku alternatif justru berakhir di TPA atau mencemari lingkungan. Ini ironi besar.
Di satu sisi kita menghadapi kenaikan harga bahan baku, di sisi lain kita menyia-nyiakan bahan baku yang sudah ada di depan mata.
Krisis ini juga memperlihatkan bahwa persoalan sampah plastik tidak berdiri sendiri. Ia terkait erat dengan sistem energi, industri, dan bahkan geopolitik global.
Plastik berbasis minyak bumi berarti setiap gangguan pada sektor energi akan berdampak langsung pada ketersediaan dan harga plastik.
Dengan kata lain, ketergantungan kita pada plastik juga berarti ketergantungan pada sistem yang rentan.
Maka, refleksi yang perlu dibangun bukan sekadar bagaimana mengelola sampah lebih baik, tetapi bagaimana mengurangi ketergantungan itu sendiri.
Di sinilah konsep ekonomi sirkular menjadi relevan. Plastik tidak lagi dipandang sebagai produk sekali pakai, tetapi sebagai material yang harus terus berputar dalam siklus penggunaan.
Pada akhirnya, kenaikan harga plastik adalah momentum yang langka.
Ia memaksa kita berhenti sejenak dan bertanya: mengapa kita bisa sampai pada titik ini?
Mengapa sesuatu yang kita gunakan setiap hari justru menjadi sumber krisis?
Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi arahnya jelas. Kita tidak bisa lagi mengandalkan solusi di hilir semata.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya