Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan ING: Asia Pasifik Dominasi Tren Keuangan Berkelanjutan

Kompas.com, 7 April 2026, 13:50 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Terlepas dari volatilitas politik dan ekonomi global, keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik tetap stabil selama bertahun-tahun.

Tren tersebut diperkirakan oleh lembaga keuangan global ING juga tetap akan berlanjut pada tahun 2026.

Melansir Eco Business, Senin (6/4/2026) ING menyatakan dalam laporan terbarunya bahwa wilayah Asia Pasifik kini menjadi penyumbang utama bagi keuangan berkelanjutan dunia, di saat pasar lain justru menunjukkan tren yang tidak menentu.

Pada tahun 2025, wilayah Asia Pasifik mencatatkan pertumbuhan tahunan yang kuat pada instrumen obligasi hijau (green bonds) dan pinjaman hijau (green loans), meskipun pinjaman berbasis keberlanjutan dan obligasi transisi sedikit mengalami penurunan.

Menurut ING, tren ini sebagian besar didorong oleh sektor korporasi dan lembaga keuangan. Di sisi lain, aktivitas dari pemerintah, perusahaan supranasional, serta dana kekayaan negara (sovereign funds) dan agensi justru mengalami sedikit penurunan.

Baca juga: Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara

“Di tahun 2026, kami memperkirakan pertumbuhan yang lebih besar dari Asia Pasifik dan potensi peningkatan penerbitan obligasi transisi seiring dengan terus berkembangnya kerangka kebijakan di seluruh wilayah tersebut,” ujar Martijn Hoogerwerf, Kepala Sustainable Solutions Group ING di Asia Pasifik.

Laporan menambahkan bahwa wilayah ini berpotensi melihat kebangkitan kembali utang obligasi transisi tahun ini.

Data ING menunjukkan bahwa pada tahun 2025, volume keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik mencapai rekor tertinggi berkat banyaknya kesepakatan bisnis yang terjadi.

Hal ini didorong oleh kinerja kuat di sembilan bulan pertama tahun tersebut, di mana ING berperan penting sebagai koordinator utama dalam mengatur sebagian besar transaksi keuangan berkelanjutan tersebut.

"Klien-klien ING di kawasan Asia Pasifik lebih 'memprioritaskan solusi pembiayaan hijau dan transisi yang praktis serta layak secara finansial. Ini menunjukkan betapa pentingnya keahlian dalam menyusun struktur pembiayaan untuk mewujudkan jalur dekarbonisasi yang kredibel," ujar Anand Sachdev, Country Manager ING Singapura sekaligus Head of South & Southeast Asia."

Sachdev menambahkan bahwa kuatnya pasar keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik semakin didorong oleh kebutuhan nyata di sektor-sektor seperti energi, infrastruktur, dan kapasitas digital.

Instrumen Keuangan Berkelanjutan Global

Secara global, total penerbitan instrumen keuangan berkelanjutan mencapai 1,557 triliun dolar AS atau sekitar Rp 26.587 triliun pada tahun 2025. Angka tersebut sekitar 6,7 persen lebih rendah dibandingkan perolehan tahun 2024 yang sebesar 1,669 triliun dolar AS atau sekitar Rp 28.500 triliun.

Untuk tahun 2026, ING memperkirakan angka tersebut akan kembali naik dengan total penerbitan mencapai sekitar 1,621 triliun dolar AS atau sekitar Rp 27.680 triliun.

ING mengungkapkan pula bahwa meskipun wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) kemungkinan tetap menjadi sumber keuangan berkelanjutan terbesar di tahun 2026, pertumbuhannya lebih didorong oleh pemerintah dan lembaga keuangan, sementara sektor perusahaan justru menurun cukup drastis.

Baca juga: Pasar Keuangan Berkelanjutan Diprediksi Tumbuh Dua Kali Lipat pada 2031

Hal ini sebagian disebabkan karena perusahaan lebih memilih beralih ke utang konvensional yang aksesnya lebih mudah dan tidak terikat dengan aturan lingkungan, sosial, maupun tata kelola (ESG).

Laporan juga menambahkan, wilayah EMEA sebenarnya sudah menjadi pasar yang matang bagi perusahaan dengan aturan ESG, namun semangatnya kini mulai menurun. Utang berbasis keberlanjutan (sustainability-linked debt) menjadi titik terlemah saat ini.

Sebaliknya, penerbitan keuangan berkelanjutan di Eropa Tengah dan Timur sedang melonjak tajam. ING mencatat pertumbuhan sebesar 40 persen pada tahun 2025 yang dipimpin oleh pemerintah dan perusahaan negara.

Meskipun ada perubahan tren di berbagai wilayah dan jenis produk, ING tetap optimis akan pertumbuhan sektor ini di masa depan.

"Awal tahun ini sudah cukup kuat dengan dana sebesar 257 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4.388 triliun yang masuk ke pasar dalam dua bulan pertama, meskipun pada bulan Maret sempat melambat akibat ketidakstabilan pasar yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah," tulis laporan tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau