Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa

Kompas.com, 8 April 2026, 17:49 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menilai bahwa Republik Rwanda, Afrika Tengah, menjadi wilayah yahg berhasil melakukan konservasi gorila gunung di Taman Nasional Volcanoes.

Upaya Rwanda disebut sebagai model global dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui kebijakan yang konsisten dan perlindungan kawasan yang kuat.

“Melalui kebijakan konservasi yang konsisten serta keterlibatan aktif masyarakat lokal, populasi gorila meningkat signifikan dan menjadi ikon keberhasilan konservasi dunia,” ujar Raja Juli saat menghadiri peringatan ke-32 Kwibuka, dikutip Rabu (8/4/2026).

Ia menambahkan, keberhasilan Rwanda dalam konservasi gorila tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional negara itu.

Baca juga: Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?

Pariwisata berbasis konservasi, khususnya pelacakan gorila, menjadi salah satu sumber devisa utama negara tersebut.

“Hal ini menunjukkan bahwa konservasi dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan,” ucap Raja Juli.

Dia pun menyoroti pentingnya tata kelola kolaboratif dalam pengelolaan kawasan konservasi. Raja Juli berpandangan, pendekatan jasa ekosistem merupakan kunci utama keberhasilan Rwanda.

Sebab, bagi masyarakat hutan bukan hanya dipandang sebagai kawasan lindung, tetapi juga sumber air, penyerap karbon, dan sumber penghidupan.

“Dengan pendekatan ini, konservasi menjadi relevan secara ekologis sekaligus bernilai secara ekonomi. Taman nasional tidak lagi dipandang sebagai pembatas ruang hidup, melainkan sebagai sumber kesejahteraan bersama,” jelas dia.

Baca juga: Wehea-Kelay Kaltim Jadi Rumah Satwa Langka yang Terancam Punah

Sebagai informasi, Kwibuka adalah peringatan mengenang genosida di Republik Rwanda pada 1994 terhadap etnis Tutsi. Raja Juli menyebut peringatan ini adalah momentum refleksi sejarah, sekaligus pembelajaran global tentang pemulihan dan pembangunan berkelanjutan.

“Perjalanan luar biasa Rwanda dalam pemulihan tidak hanya tercermin pada masyarakatnya, tetapi juga pada komitmen kuatnya terhadap pengelolaan lingkungan,” papar dia.

Pariwisata Berkelanjutan

Menurut laporan International Institute for Sustainable Development, inisiatif yang dipimpin Pemerintah Rwanda meningkatkan tutupan hutan dari 10,7 persen pada 2010 menjadi 30,4 persen pada 2022. 

Pencapaian luar biasa bagi negara berpenduduk padat yang bergantung pada pertanian untuk seperempat pendapatan nasionalnya.

"Yang lebih mencengangkan lagi adalah kebangkitan kembali populasi gorila gunung yang terancam punah, yang dulunya berada di ambang kepunahan," kata Christian Benimana selaku Co-Executive Director and Senior Principal MASS dilansir dari laman World Economic Forum. 

Upacara Kwita Izina dilakukan setiap tahunnya dalam rangka untuk memberikan nama bayi gorila gunung di Rwanda. Peringatan ini memainkan peran penting guna meningkatkan kesadaran akan konservasi satwa dilindungi tersebut. 

Baca juga: Indonesia-Jepang Sepakati Kerja Sama Terkait Konservasi Komodo

Benimana menyatakan, keberhasilan pemulihan populasi gorila gunung sebagian besar disebabkan oleh kerja sama antara aktor sektor publik dengan swasta seperti Dewan Pembangunan Rwanda dan Dana Gorila Dian Fossey.

Didirikan pada tahun 1960-an, organisasi itu telah bekerja tanpa henti untuk melindungi gorila gunung. Para mitra bekerja sama dengan komunitas lokal untuk mewujudkan konservasi yang berpusat pada komunitas.

"Masyarakat setempat diberi insentif untuk bertindak sebagai penjaga lingkungan alam mereka dengan berbagi hasil yang dihasilkan oleh pariwisata berkelanjutan," tutur dia.

Pada 1980-an, kurang dari 300 gorila gunung di Rwanda yang tersisa di pegunungan Virunga. Berkat upaya konservasi yang berkelanjutan, jumlah tersebut melebihi 600 ekor di 2024. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau