KOMPAS.com - Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menilai bahwa Republik Rwanda, Afrika Tengah, menjadi wilayah yahg berhasil melakukan konservasi gorila gunung di Taman Nasional Volcanoes.
Upaya Rwanda disebut sebagai model global dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui kebijakan yang konsisten dan perlindungan kawasan yang kuat.
“Melalui kebijakan konservasi yang konsisten serta keterlibatan aktif masyarakat lokal, populasi gorila meningkat signifikan dan menjadi ikon keberhasilan konservasi dunia,” ujar Raja Juli saat menghadiri peringatan ke-32 Kwibuka, dikutip Rabu (8/4/2026).
Ia menambahkan, keberhasilan Rwanda dalam konservasi gorila tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional negara itu.
Baca juga: Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pariwisata berbasis konservasi, khususnya pelacakan gorila, menjadi salah satu sumber devisa utama negara tersebut.
“Hal ini menunjukkan bahwa konservasi dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan,” ucap Raja Juli.
Dia pun menyoroti pentingnya tata kelola kolaboratif dalam pengelolaan kawasan konservasi. Raja Juli berpandangan, pendekatan jasa ekosistem merupakan kunci utama keberhasilan Rwanda.
Sebab, bagi masyarakat hutan bukan hanya dipandang sebagai kawasan lindung, tetapi juga sumber air, penyerap karbon, dan sumber penghidupan.
“Dengan pendekatan ini, konservasi menjadi relevan secara ekologis sekaligus bernilai secara ekonomi. Taman nasional tidak lagi dipandang sebagai pembatas ruang hidup, melainkan sebagai sumber kesejahteraan bersama,” jelas dia.
Baca juga: Wehea-Kelay Kaltim Jadi Rumah Satwa Langka yang Terancam Punah
Sebagai informasi, Kwibuka adalah peringatan mengenang genosida di Republik Rwanda pada 1994 terhadap etnis Tutsi. Raja Juli menyebut peringatan ini adalah momentum refleksi sejarah, sekaligus pembelajaran global tentang pemulihan dan pembangunan berkelanjutan.
“Perjalanan luar biasa Rwanda dalam pemulihan tidak hanya tercermin pada masyarakatnya, tetapi juga pada komitmen kuatnya terhadap pengelolaan lingkungan,” papar dia.
Menurut laporan International Institute for Sustainable Development, inisiatif yang dipimpin Pemerintah Rwanda meningkatkan tutupan hutan dari 10,7 persen pada 2010 menjadi 30,4 persen pada 2022.
Pencapaian luar biasa bagi negara berpenduduk padat yang bergantung pada pertanian untuk seperempat pendapatan nasionalnya.
"Yang lebih mencengangkan lagi adalah kebangkitan kembali populasi gorila gunung yang terancam punah, yang dulunya berada di ambang kepunahan," kata Christian Benimana selaku Co-Executive Director and Senior Principal MASS dilansir dari laman World Economic Forum.
Upacara Kwita Izina dilakukan setiap tahunnya dalam rangka untuk memberikan nama bayi gorila gunung di Rwanda. Peringatan ini memainkan peran penting guna meningkatkan kesadaran akan konservasi satwa dilindungi tersebut.
Baca juga: Indonesia-Jepang Sepakati Kerja Sama Terkait Konservasi Komodo
Benimana menyatakan, keberhasilan pemulihan populasi gorila gunung sebagian besar disebabkan oleh kerja sama antara aktor sektor publik dengan swasta seperti Dewan Pembangunan Rwanda dan Dana Gorila Dian Fossey.
Didirikan pada tahun 1960-an, organisasi itu telah bekerja tanpa henti untuk melindungi gorila gunung. Para mitra bekerja sama dengan komunitas lokal untuk mewujudkan konservasi yang berpusat pada komunitas.
"Masyarakat setempat diberi insentif untuk bertindak sebagai penjaga lingkungan alam mereka dengan berbagi hasil yang dihasilkan oleh pariwisata berkelanjutan," tutur dia.
Pada 1980-an, kurang dari 300 gorila gunung di Rwanda yang tersisa di pegunungan Virunga. Berkat upaya konservasi yang berkelanjutan, jumlah tersebut melebihi 600 ekor di 2024.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya