KOMPAS.com-Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) merilis laporan terbaru yang mencatat bahwa dunia menambah 692GW kapasitas energi terbarukan pada tahun 2025.
Angka tersebut naik 15,5 persen dibanding tahun sebelumnya dan menjadi ekspansi tahunan terbesar sepanjang sejarah industri ini.
Melansir Edie, Rabu (1/4/2026) berkat kemajuan pesat dalam penggunaan energi hijau, energi terbarukan kini mendominasi pertumbuhan kapasitas energi dunia. Tahun lalu, energi terbarukan menyumbang 85,6 persen dari total penambahan kapasitas, sementara porsi bahan bakar fosil terus berkurang.
Baca juga: Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Tenaga surya kembali mendominasi dengan tambahan sebesar 511,2 GW. Angka ini setara dengan sekitar 75 persen dari seluruh total penambahan kapasitas energi terbarukan dunia.
Energi angin juga mengalami peningkatan besar dengan tambahan kapasitas sebesar 158,7 GW. Sebagian besar berasal dari China yang menyumbang 119,4 GW, sejalan dengan ambisi negara tersebut untuk meninggalkan bahan bakar fosil dan melipatgandakan energi terbarukan dalam sepuluh tahun ke depan.
Asia terus memimpin dunia dengan total kapasitas energi terbarukan hampir 3.000 GW hingga akhir 2025. Di sisi lain, Afrika hanya menyumbang 1,6 persen dari pertumbuhan tahun lalu, sementara negara-negara kepulauan kecil hanya menyumbang 0,2 persen dari total dunia.
“Di tengah masa yang tidak pasti, energi terbarukan tetap konsisten dan kokoh dalam perkembangannya,” ujar Direktur Jenderal IRENA, Francesco La Camera.
“Ini tidak hanya menunjukkan pilihan pasar, tetapi juga membuktikan dengan sangat jelas betapa kuatnya daya tahan energi terbarukan,” paparnya lagi.
Perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia, ditambah ketegangan politik yang belum mereda, membuat banyak negara merasa sangat mendesak untuk meningkatkan energi terbarukan di dalam negeri.
Pemerintah Inggris, misalnya, mempercepat jadwal lelang proyek energi bersih mereka demi mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga baru dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca juga: Krisis Timur Tengah, China Gandeng Asia Tenggara Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Langkah-langkah lain juga diusulkan untuk mengatasi krisis energi dalam jangka pendek maupun panjang, seperti memisahkan harga gas dari harga listrik dan mempercepat pemberian pinjaman untuk proyek tenaga surya.
Seperti yang dijelaskan La Camera, sistem energi yang lebih tersebar dengan porsi energi terbarukan yang lebih besar membuat negara lebih tangguh.
Negara-negara yang berinvestasi pada transisi energi mampu melewati krisis ini dengan kerugian ekonomi yang lebih kecil, karena mereka berhasil meningkatkan keamanan, ketahanan, dan daya saing energi mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya