KOMPAS.com - Penelitian dari Deloitte menemukan cuaca ekstrem sering kali mengganggu dinamika kerja sehari-hari, tidak sekedar membuat karyawan absen kerja.
Melansir ESG Dive, Kamis (9/4/2026) menurut laporan tersebut, kejadian cuaca ekstrem di dunia kini semakin sering terjadi dan sulit diprediksi sehingga perusahaan perlu menyadari dampaknya terhadap para karyawan mereka.
Dalam survei terhadap warga di hampir 20 negara, 66 persen orang mengaku pernah mengalami setidaknya satu kejadian cuaca ekstrem dalam enam bulan terakhir, dan lebih dari separuhnya merasakan panas yang luar biasa.
Dari mereka yang terdampak cuaca ekstrem tersebut, 22 persen terpaksa bolos kerja atau sekolah. Angka ini bahkan melonjak jadi 35 persen untuk anak muda usia 18–34 tahun.
Selain itu, mereka juga melaporkan adanya masalah pada transportasi, kesehatan, hingga keuangan akibat cuaca tersebut.
Baca juga: AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
Penelitian Deloitte menemukan bahwa gangguan cuaca sering kali mengacaukan suasana kerja sehari-hari, bukan cuma soal karyawan yang absen.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa masalah kesehatan dan kesulitan ekonomi yang muncul akibat cuaca buruk bisa menurunkan produktivitas dan kualitas kerja.
Akibatnya, 54 persen orang di 17 negara mulai melakukan persiapan mandiri agar lebih tahan menghadapi kerusakan lingkungan.
Langkah yang mereka ambil antara lain menyetok makanan awet, membeli perlengkapan darurat, hingga memperbaiki sistem ventilasi atau AC di rumah.
Deloitte menyatakan bahwa persiapan mandiri ini menunjukkan bahwa karyawan merasa risiko bencana semakin nyata. Hal ini seharusnya mendorong perusahaan untuk mulai memikirkan cara menjaga ketahanan karyawan sebagai bagian dari strategi manajemen risiko dan pengelolaan SDM mereka.
Menurut laporan tersebut, perusahaan yang tidak memperhitungkan dampak cuaca ekstrem terhadap kehidupan pribadi karyawannya mungkin saja "salah perhitungan" dalam menilai risiko operasional mereka yang sebenarnya.
Penelitian terbaru menemukan bahwa perubahan iklim juga bisa berdampak pada biaya asuransi kesehatan dan keselamatan kerja.
Untuk membantu organisasi menghadapi risiko cuaca, laporan tersebut menyarankan perusahaan untuk mengevaluasi posisi, lokasi, dan tim mana yang paling berisiko terkena dampak cuaca atau sering absen.
Baca juga: Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
Termasuk juga seberapa efektif rencana darurat perusahaan jika banyak karyawan terdampak dalam waktu yang bersamaan.
Deloitte juga menyarankan perusahaan untuk memeriksa bantuan apa yang bisa diberikan guna membantu pekerja menghadapi cuaca panas, kualitas udara buruk, dan gangguan lingkungan lainnya.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa "langkah kecil" pun bisa sangat membantu karyawan yang membutuhkan, misalnya saja jadwal kerja yang fleksibel atau cuti darurat.
"Cuaca ekstrem kemungkinan akan semakin sering dan parah di masa depan," tulis laporan tersebut.
Dengan menyadari bahwa masalah cuaca memengaruhi ketahanan karyawan dan operasional, perusahaan bisa membuat investasi yang lebih tepat sasaran.
Dengan cara ini, organisasi tidak hanya menjaga kinerja bisnis, tetapi juga membentuk karyawan yang lebih tangguh, setia, dan mudah beradaptasi dalam menghadapi ketidakpastian iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya