Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?

Kompas.com, 13 April 2026, 15:13 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Penelitian dari Deloitte menemukan cuaca ekstrem sering kali mengganggu dinamika kerja sehari-hari, tidak sekedar membuat karyawan absen kerja.

Melansir ESG Dive, Kamis (9/4/2026) menurut laporan tersebut, kejadian cuaca ekstrem di dunia kini semakin sering terjadi dan sulit diprediksi sehingga perusahaan perlu menyadari dampaknya terhadap para karyawan mereka.

Dalam survei terhadap warga di hampir 20 negara, 66 persen orang mengaku pernah mengalami setidaknya satu kejadian cuaca ekstrem dalam enam bulan terakhir, dan lebih dari separuhnya merasakan panas yang luar biasa.

Dari mereka yang terdampak cuaca ekstrem tersebut, 22 persen terpaksa bolos kerja atau sekolah. Angka ini bahkan melonjak jadi 35 persen untuk anak muda usia 18–34 tahun.

Selain itu, mereka juga melaporkan adanya masalah pada transportasi, kesehatan, hingga keuangan akibat cuaca tersebut.

Baca juga: AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan

Penelitian Deloitte menemukan bahwa gangguan cuaca sering kali mengacaukan suasana kerja sehari-hari, bukan cuma soal karyawan yang absen.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa masalah kesehatan dan kesulitan ekonomi yang muncul akibat cuaca buruk bisa menurunkan produktivitas dan kualitas kerja.

Akibatnya, 54 persen orang di 17 negara mulai melakukan persiapan mandiri agar lebih tahan menghadapi kerusakan lingkungan.

Langkah yang mereka ambil antara lain menyetok makanan awet, membeli perlengkapan darurat, hingga memperbaiki sistem ventilasi atau AC di rumah.

Deloitte menyatakan bahwa persiapan mandiri ini menunjukkan bahwa karyawan merasa risiko bencana semakin nyata. Hal ini seharusnya mendorong perusahaan untuk mulai memikirkan cara menjaga ketahanan karyawan sebagai bagian dari strategi manajemen risiko dan pengelolaan SDM mereka.

Solusi Perusahaan untuk Pekerja

Menurut laporan tersebut, perusahaan yang tidak memperhitungkan dampak cuaca ekstrem terhadap kehidupan pribadi karyawannya mungkin saja "salah perhitungan" dalam menilai risiko operasional mereka yang sebenarnya.

Penelitian terbaru menemukan bahwa perubahan iklim juga bisa berdampak pada biaya asuransi kesehatan dan keselamatan kerja.

Untuk membantu organisasi menghadapi risiko cuaca, laporan tersebut menyarankan perusahaan untuk mengevaluasi posisi, lokasi, dan tim mana yang paling berisiko terkena dampak cuaca atau sering absen.

Baca juga: Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras

Termasuk juga seberapa efektif rencana darurat perusahaan jika banyak karyawan terdampak dalam waktu yang bersamaan.

Deloitte juga menyarankan perusahaan untuk memeriksa bantuan apa yang bisa diberikan guna membantu pekerja menghadapi cuaca panas, kualitas udara buruk, dan gangguan lingkungan lainnya.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa "langkah kecil" pun bisa sangat membantu karyawan yang membutuhkan, misalnya saja jadwal kerja yang fleksibel atau cuti darurat.

"Cuaca ekstrem kemungkinan akan semakin sering dan parah di masa depan," tulis laporan tersebut.

Dengan menyadari bahwa masalah cuaca memengaruhi ketahanan karyawan dan operasional, perusahaan bisa membuat investasi yang lebih tepat sasaran.

Dengan cara ini, organisasi tidak hanya menjaga kinerja bisnis, tetapi juga membentuk karyawan yang lebih tangguh, setia, dan mudah beradaptasi dalam menghadapi ketidakpastian iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau