Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa curah hujan rata-rata pada musim kemarau 2026 lebih rendah dibandingkan rata-rata curah hujan dalam 30 tahun terakhir.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan BMKG memprediksi musim kemarau pada tahun ini akan berlangsung lebih awal dan lebih lama, yang dimulai pada April atau Mei, dengan puncaknya pada Agustus.
"Dengan hujan rata-rata di bawah normal dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan di tahun ini akan lebih rendah atau di bawah normal," kata Teuku Faisal Fathani, Senin sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
"Kemarau akan datang lebih cepat dan lebih panjang. Kita akan memasuki musim kemarau, mulai April atau Mei, puncaknya nanti di Agustus, kemudian nanti berakhir di bulan September atau awal Oktober," lanjut Teuku Faisal Fathani.
Sementara BMKG juga memantau fenomena El Nino di Indonesia, yang sejauh ini masih dalam kategori lemah hingga moderat.
Kementerian Kehutanan juga menggandeng BMKG untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.
Salah satu upayanya dengan rewetting (pembasahan kembali) lahan gambut dengan menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) BMKG.
Baca juga: Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
"Kita melakukan upaya preventif, kita coba melakukan rewetting ketika kita masih punya awan yang bisa kita semai, dengan bahan semai kemudian terjadi hujan itu dapat membasahkan lahan gambut sehingga nantinya potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan ini dapat kita tekan semaksimal mungkin," kata Teuku Faisal Fathani.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya