Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia

Kompas.com, 12 April 2026, 19:31 WIB
Ni Luh Made Pertiwi F.

Editor

Sumber KompasTV

SEBAGAI negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, Indonesia memegang kunci vital dalam upaya global mitigasi perubahan iklim.

Pesisir Indonesia bukan hanya hamparan pantai yang luas tetapi bagian krusial dalam keberlangsungan hidup di bumi. Laut menghasilkan sebagian besar oksigen di bumi.

Laut mengatur iklim dan menyediakan sumber protein serta rumah keanekaragaman hayati. Laut dan ekosistem pesisir adalah penopang hidup bagi masyarakat pesisir.

Di balik pesona hamparan bahari Indonesia, tersimpan kekayaan yang kerap luput dari pandangan mata: ekosistem karbon biru. Istilah ini merujuk pada karbon dioksida yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir, terutama melalui rimbunnya hutan mangrove dan hamparan padang lamun yang membentang di bawah permukaan air.

Baca juga: Potensi Karbon Biru Indonesia Capai Rp 33 Triliun per Tahun, Apa Tantangannya?

Berdasarkan Peta Mangrove Nasional yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021, total luas hutan mangrove Indonesia seluas 3.364.076 Ha. Luas ini berarti sekitar 20 persen dari total mangrove dunia.

Ekosistem ini bukan sekadar vegetasi di tepian air, melainkan sebuah benteng fisik yang mampu meredam abrasi, hantaman tsunami, hingga mencegah intrusi air laut ke pemukiman warga. 

Secara biologis, akar-akar mangrove yang kokoh menjadi rumah bagi berbagai biota laut untuk memijah dan berkembang biak. Lebih dari itu, kemampuannya menyimpan karbon di dalam tanah di bawah akarnya menjadikan mangrove salah satu penyerap emisi paling efisien di bumi, jauh melampaui kemampuan hutan hujan tropis di daratan.

Lamun dan Mangrove, Pahlawan Laut yang Terlupakan

Perlindungan iklim Indonesia tidak hanya berhenti di garis pantai. Masuk sedikit ke dalam perairan dangkal, terdapat padang lamun yang sering dijuluki sebagai "Pahlawan Laut yang Terlupakan". Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang mampu hidup sepenuhnya di bawah permukaan laut. 

Meski jarang dibicarakan, lamun memiliki efisiensi mengunci karbon sangat tinggi, para ilmuwan memperkirakan lamun mampu mengunci karbon hingga 35 kali lebih cepat dibandingkan hutan tropis di daratan. 

Data Low Carbon Development Indonesia menunjukkan Indonesia memiliki luas padang lamun terbesar kedua dunia setelah Australia. Itu artinya kurang lebih 15 persen dari total padang lamun dunia. Kekayaan aset karbon biru yang melimpah ini bisa menjadi daya tawar kuat dalam diskursus iklim internasional.

Padang lamun merupakan bioindikator atau petunjuk alami kesehatan ekosistem pesisir Menjadi seabed atau alas laut, keberadaan lamun akan selaras dengan melimpahnya populasi ikan. Namun realitanya, biota laut seperti mangrove dan lamun di pesisir Indonesia terus tergerus akibat laju peralihan tata ruang seperti pembangunan pariwisata.

Potensi ekologi yang masif ini berbanding lurus dengan peluang ekonomi biru yang menjanjikan. Melalui skema perdagangan karbon dan pembayaran jasa ekosistem, perlindungan wilayah pesisir dapat bertransformasi menjadi sumber pendanaan baru bagi pembangunan berkelanjutan.

Strategi ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat sehingga penduduk lokal yang merawat pesisir bisa mendapatkan insentif ekonomi langsung. Dengan begitu, upaya konservasi tidak lagi dipandang sebagai hambatan pembangunan, melainkan aset masa depan yang meningkatkan taraf hidup nelayan dan masyarakat pesisir.

Tantangan Pencemaran dan Reklamasi di Wilayah Pesisir

Menurut Eco-Socio Journalist Didi Kasim, pencemaran masih jadi tantangan besar. Pencemaran sampah plastik dari daratan yang tersangkut di akar-akar mangrove sehingga mencekik pertumbuhannya.

Di sisi lain, praktik pembabatan mangrove ilegal serta reklamasi demi pembangunan resor wisata terus menggerus rumah alami bagi ikan dan udang. Dampaknya dirasakan langsung oleh para nelayan kecil yang melaporkan penurunan drastis hasil tangkapan dibandingkan beberapa dekade silam.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Pemerintah
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
LSM/Figur
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau