KOMPAS.com - India tengah bersiap merombak salah satu industri penyumbang polusi terbesarnya demi menyeimbangkan pertumbuhan industri dan tekanan iklim dunia.
Melansir ESG News, Kamis (9/4/2026) industri yang dimaksud adalah industri baja. Berdasarkan draft Kebijakan Baja Nasional 2025, India menargetkan untuk menaikkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat. Tetapi di saat yang sama, pemerintah menargetkan pengurangan emisi sekitar 25 persen dalam sepuluh tahun ke depan.
Kebijakan tersebut merencanakan pengurangan emisi dari 2,65 ton karbon menjadi 2 ton untuk setiap satu ton baja yang dihasilkan pada tahun 2035–2036.
Target tersebut akan membuat standar industri India mendekati rata-rata dunia dan memperkecil kesenjangan yang saat ini masih sekitar 32 persen.
Produksi baja menyumbang 10–12 persen dari total emisi India, menjadikannya sektor paling penting dalam strategi iklim jangka panjang negara tersebut.
"Seiring meningkatnya kapasitas produksi baja, mengurangi polusi di sektor ini sangat penting agar India bisa mencapai target bebas emisi pada tahun 2070," tulis dokumen tersebut.
Baca juga: Tiga Negara Berkembang Beralih ke EBT, Ada Kenya dan India
Perubahan kebijakan India ini tidak terjadi begitu saja. Adanya pajak karbon dari Uni Eropa terhadap barang impor seperti baja telah menekan para eksportir.
Aturan tersebut mulai mengubah arus perdagangan dan memaksa produsen India memutar otak soal biaya dan pasar tujuan mereka. Karena biaya kepatuhan yang makin mahal, kebijakan ini mendorong perusahaan untuk beralih ke cara produksi yang lebih rendah polusi dan mencari tujuan ekspor baru yang lebih beragam.
India menargetkan untuk menaikkan ekspor baja hingga lebih dari dua kali lipat menjadi 20 juta ton pada tahun 2035–2036, meskipun mereka harus menyesuaikan diri dengan standar lingkungan yang lebih ketat di pasar-pasar utama dunia.
Untuk mencapai target emisi, kebijakan ini mengutamakan pengalihan dari penggunaan batu bara. Caranya adalah dengan memperbanyak produksi baja berbasis gas, meningkatkan penggunaan besi bekas, dan memberikan insentif bagi perusahaan yang terus mengurangi polusi.
Namun, masalah infrastruktur menjadi kendala besar. Saat ini, baru sebagian kecil pabrik yang punya akses ke pipa gas, sehingga rencana untuk ganti bahan bakar dalam skala besar masih sulit dilakukan dalam waktu dekat.
Kebijakan ini mendorong kerja sama yang lebih erat dengan Kementerian Minyak untuk mengamankan pasokan gas dari luar negeri dan memperluas jaringan pipa gas di dalam negeri.
Selain itu, laporan ini menekankan pentingnya kemitraan dengan 19 negara seperti Australia, Jepang, Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat untuk membantu pemindahan teknologi dan kemudahan akses sumber daya.
Peningkatan produksi baja dan dampak perekonomian
Rencana ekspansi baja India berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonominya. Dengan meningkatnya pengeluaran infrastruktur dan permintaan pasar, India menargetkan kapasitas baja naik menjadi 400 juta ton pada 2035–2036, dari yang saat ini hanya sekitar 168 juta ton.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya