Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan

Kompas.com, 9 April 2026, 14:49 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com-  Peneliti dari University of Bath memperingatkan bahwa penggunaan AI di kantor bisa mengancam kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan.

Para pemimpin bisnis diminta untuk lebih berhati-hati, terutama karena AI berisiko menumpulkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis karyawan.

Melansir ESG Dive, Rabu (8/4/2026) menurut Profesor Dirk Lindebaum, AI memang bisa membantu memperlancar pekerjaan atau memastikan aturan ditaati.

Namun, ia memperingatkan jika karyawan terlalu mengandalkan AI dan tidak lagi terjun langsung dalam proses kerja yang penting, maka keahlian dan pemahaman mendalam mereka lama-lama akan hilang.

Baca juga: ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik

Produktivitas Tertekan karena AI

Di sisi lain, banyak pekerja mengaku mereka sebenarnya tidak tahu cara menggunakan AI meskipun perusahaan sudah menghabiskan banyak uang untuk uji coba, pemasangan sistem, dan biaya langganan aplikasi AI tersebut.

Sebagai contoh, sekitar 26 persen orang mengaku tidak tahu apa itu prompt engineering atau cara memberi perintah pada AI. Angka tersebut malah naik dibandingkan tahun lalu.

J.P. Gownder dari Forrester menyebut hasil penelitian ini mengkhawatirkan. Alasannya, kemampuan memberi perintah ini sangat penting jika ingin menggunakan alat AI seperti Microsoft 365 Copilot atau Google Workspace secara maksimal.

Sementara itu, karyawan tidak hanya merasa tertekan karena kurangnya keahlian AI, tetapi mereka juga merasa dipaksa untuk bekerja lebih banyak dengan sumber daya yang terbatas.

Meskipun sebagian besar petinggi perusahaan berharap AI bisa meningkatkan hasil kerja, kenyataannya justru berbeda. Dalam laporan bulan lalu, 77 persen karyawan malah merasa bahwa alat-alat AI tersebut justru menambah beban kerja mereka.

Kenyataan bahwa AI justru membuat pekerjaan jadi lebih sulit bukan lebih mudah kini mulai disadari oleh para ahli HR.

Baca juga: Menyiapkan Anak Hadapi Era AI, Jangan Cuma Jadi Pengguna

Dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh Asosiasi Chief Human Resources Officer (CHRO), 91 persen Direktur SDM menyatakan bahwa AI dan digitalisasi adalah kekhawatiran utama mereka bahkan lebih mengkhawatirkan daripada masalah kepemimpinan lainnya.

CEO CHRO Association, Tim Bartl, menyebut bahwa para pemimpin HR sekarang sedang dipaksa untuk memperkuat ketahanan perusahaan sambil mengubah cara kerja menjadi lebih modern.

Kesimpulannya, seperti yang ditunjukkan oleh berbagai laporan dan menurut Profesor Lindebaum dari University of Bath, AI di tempat kerja memang bisa bermanfaat, tapi jangan langsung percaya begitu saja atau menelan mentah-mentah manfaatnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau