KOMPAS.com- Peneliti dari University of Bath memperingatkan bahwa penggunaan AI di kantor bisa mengancam kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan.
Para pemimpin bisnis diminta untuk lebih berhati-hati, terutama karena AI berisiko menumpulkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis karyawan.
Melansir ESG Dive, Rabu (8/4/2026) menurut Profesor Dirk Lindebaum, AI memang bisa membantu memperlancar pekerjaan atau memastikan aturan ditaati.
Namun, ia memperingatkan jika karyawan terlalu mengandalkan AI dan tidak lagi terjun langsung dalam proses kerja yang penting, maka keahlian dan pemahaman mendalam mereka lama-lama akan hilang.
Baca juga: ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Di sisi lain, banyak pekerja mengaku mereka sebenarnya tidak tahu cara menggunakan AI meskipun perusahaan sudah menghabiskan banyak uang untuk uji coba, pemasangan sistem, dan biaya langganan aplikasi AI tersebut.
Sebagai contoh, sekitar 26 persen orang mengaku tidak tahu apa itu prompt engineering atau cara memberi perintah pada AI. Angka tersebut malah naik dibandingkan tahun lalu.
J.P. Gownder dari Forrester menyebut hasil penelitian ini mengkhawatirkan. Alasannya, kemampuan memberi perintah ini sangat penting jika ingin menggunakan alat AI seperti Microsoft 365 Copilot atau Google Workspace secara maksimal.
Sementara itu, karyawan tidak hanya merasa tertekan karena kurangnya keahlian AI, tetapi mereka juga merasa dipaksa untuk bekerja lebih banyak dengan sumber daya yang terbatas.
Meskipun sebagian besar petinggi perusahaan berharap AI bisa meningkatkan hasil kerja, kenyataannya justru berbeda. Dalam laporan bulan lalu, 77 persen karyawan malah merasa bahwa alat-alat AI tersebut justru menambah beban kerja mereka.
Kenyataan bahwa AI justru membuat pekerjaan jadi lebih sulit bukan lebih mudah kini mulai disadari oleh para ahli HR.
Baca juga: Menyiapkan Anak Hadapi Era AI, Jangan Cuma Jadi Pengguna
Dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh Asosiasi Chief Human Resources Officer (CHRO), 91 persen Direktur SDM menyatakan bahwa AI dan digitalisasi adalah kekhawatiran utama mereka bahkan lebih mengkhawatirkan daripada masalah kepemimpinan lainnya.
CEO CHRO Association, Tim Bartl, menyebut bahwa para pemimpin HR sekarang sedang dipaksa untuk memperkuat ketahanan perusahaan sambil mengubah cara kerja menjadi lebih modern.
Kesimpulannya, seperti yang ditunjukkan oleh berbagai laporan dan menurut Profesor Lindebaum dari University of Bath, AI di tempat kerja memang bisa bermanfaat, tapi jangan langsung percaya begitu saja atau menelan mentah-mentah manfaatnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya