Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Ancaman terhadap Gajah Sumatera semakin meningkat, salah satunya akibat pemasangan jerat listrik di kawasan habitatnya yang memicu konflik dengan manusia dan mengganggu jalur pergerakan satwa tersebut.
Di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh, Jambi, yang menjadi habitat sekitar 120 ekor gajah, kondisi koridor satwa dilaporkan semakin terfragmentasi akibat perambahan untuk perkebunan sawit, karet, hingga pemukiman.
Organisasi lingkungan Geopix menemukan adanya jerat listrik yang membentang sepanjang puluhan kilometer di wilayah konsesi, termasuk di area konservasi satwa liar (Wildlife Conservation Area/WCA).
Baca juga: Cegah Konflik Manusia-Gajah, Kemenhut Pasang Pembatas di TN Way Kambas
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, mengatakan kondisi ini mengancam keberlangsungan habitat gajah karena memutus koridor yang seharusnya menjadi jalur penting pergerakan satwa.
“Koridor tersebut harus dipandang sebagai ruang strategis, bukan sekadar pelengkap, karena gajah membutuhkan ruang jelajah sekitar 15–20 kilometer setiap hari,” ujar Annisa dalam siaran pers, Minggu (12/4/2026).
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Satyawan Pudyatmoko, menyebut ancaman terhadap gajah semakin serius dan membutuhkan perubahan tata kelola secara menyeluruh.
Ia mengungkapkan, jumlah kantong habitat gajah di Pulau Sumatera terus menyusut dari 42 wilayah pada 1980-an menjadi hanya 21 saat ini.
“Dengan tata kelola yang ada saat ini, kita belum mampu menghentikan penurunan populasi gajah,” ujarnya.
Dari sisi teknis, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) menegaskan bahwa jerat listrik bertegangan tinggi menjadi salah satu penyebab utama kematian gajah.
Berbeda dengan pagar listrik yang hanya memberikan efek kejut, jerat listrik bertegangan tinggi bersifat mematikan dan kerap dipasang di jalur perlintasan gajah.
Selain itu, keberadaan koridor yang aman menjadi krusial bagi keberlangsungan hidup gajah, terutama untuk memastikan akses terhadap sumber air dan pakan.
Baca juga: Inpres Baru Presiden Prabowo Akan Wajibkan Perusahaan Jaga Habitat Gajah
Berbagai pihak menilai penyelamatan gajah tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.
Satyawan menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor, termasuk satuan tugas terkait penataan kawasan hutan, untuk menangani persoalan yang kompleks di lapangan.
Sementara itu, peran media juga dinilai penting dalam mengangkat isu konservasi dan meningkatkan kesadaran publik terhadap kondisi satwa liar.
Masalah fragmentasi habitat dan ancaman jerat listrik menunjukkan bahwa upaya perlindungan gajah Sumatera masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga koridor ekologis sebagai ruang hidup utama satwa tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya