Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi

Kompas.com, 13 April 2026, 21:08 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Ancaman terhadap Gajah Sumatera semakin meningkat, salah satunya akibat pemasangan jerat listrik di kawasan habitatnya yang memicu konflik dengan manusia dan mengganggu jalur pergerakan satwa tersebut.

Di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh, Jambi, yang menjadi habitat sekitar 120 ekor gajah, kondisi koridor satwa dilaporkan semakin terfragmentasi akibat perambahan untuk perkebunan sawit, karet, hingga pemukiman.

Organisasi lingkungan Geopix menemukan adanya jerat listrik yang membentang sepanjang puluhan kilometer di wilayah konsesi, termasuk di area konservasi satwa liar (Wildlife Conservation Area/WCA).

Baca juga: Cegah Konflik Manusia-Gajah, Kemenhut Pasang Pembatas di TN Way Kambas

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, mengatakan kondisi ini mengancam keberlangsungan habitat gajah karena memutus koridor yang seharusnya menjadi jalur penting pergerakan satwa.

“Koridor tersebut harus dipandang sebagai ruang strategis, bukan sekadar pelengkap, karena gajah membutuhkan ruang jelajah sekitar 15–20 kilometer setiap hari,” ujar Annisa dalam siaran pers, Minggu (12/4/2026).

Populasi Terus Tertekan

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Satyawan Pudyatmoko, menyebut ancaman terhadap gajah semakin serius dan membutuhkan perubahan tata kelola secara menyeluruh.

Ia mengungkapkan, jumlah kantong habitat gajah di Pulau Sumatera terus menyusut dari 42 wilayah pada 1980-an menjadi hanya 21 saat ini.

“Dengan tata kelola yang ada saat ini, kita belum mampu menghentikan penurunan populasi gajah,” ujarnya.

Dari sisi teknis, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) menegaskan bahwa jerat listrik bertegangan tinggi menjadi salah satu penyebab utama kematian gajah.

Berbeda dengan pagar listrik yang hanya memberikan efek kejut, jerat listrik bertegangan tinggi bersifat mematikan dan kerap dipasang di jalur perlintasan gajah.

Selain itu, keberadaan koridor yang aman menjadi krusial bagi keberlangsungan hidup gajah, terutama untuk memastikan akses terhadap sumber air dan pakan.

Baca juga: Inpres Baru Presiden Prabowo Akan Wajibkan Perusahaan Jaga Habitat Gajah

Butuh Kolaborasi Lintas Pihak

Berbagai pihak menilai penyelamatan gajah tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.

Satyawan menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor, termasuk satuan tugas terkait penataan kawasan hutan, untuk menangani persoalan yang kompleks di lapangan.

Sementara itu, peran media juga dinilai penting dalam mengangkat isu konservasi dan meningkatkan kesadaran publik terhadap kondisi satwa liar.

Masalah fragmentasi habitat dan ancaman jerat listrik menunjukkan bahwa upaya perlindungan gajah Sumatera masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga koridor ekologis sebagai ruang hidup utama satwa tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau