Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim

Kompas.com, 15 April 2026, 08:18 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kanada mendanai program penguatan peran perempuan dalam melindungi Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), istilah geografis untuk perairan di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon.

‎Segitiga Terumbu Karang merupakan kawasan yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia, dengan 76 persen spesies terumbu karang dan 37 persen spesies ikan karang dunia.

Namun, krisis iklim, eksploitasi berlebihan, dan praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan terus mengancam kelestarian keanekaragaman hayati di Segitiga Terumbu Karang.

Baca juga: Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak

Pemberdayaan perempuan pesisir melalui program Global Affairs Canada dilaksanakan di empat negara, yaitu Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Di Indonesia, program tersebut dilaksanakan di dua wilayah strategis Segitiga Terumbu Karang yang memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi, tetapi semakin terancam krisis iklim dan praktik eksploitasi sumber daya alam.

‎Pertama, Bentang Alam Kepala Burung di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Kedua, Kepulauan Teon, Nila, dan Serua di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

‎Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton menggarisbawahi pentingnya perluasan akses terhadap mekanisme pendanaan yang memungkinkan partisipasi setara perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam dan solusi krisis iklim.

‎Ia berharap, perempuan pesisir bisa mengambil peran kepemimpinan dalam melindungi ekosistem laut dan pesisir sekaligus memperkuat ketangguhan komunitas mereka.

‎“Kanada meyakini bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam,” ujar Dutton dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).

‎Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) di Indonesia bersama pemerintah dan masyarakat lokal telah bekerja di Bentang Laut Kepala Burung sejak tahun 2002.

‎Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto mengatakan, mendukung kearifan tradisional dan praktik lokal, seperti sasi, dalam perlindungan dan pengelolaan sumber daya laut menjadi salah satu pendekatan utama yang dilakukan.

‎“Di tiga kampung di Raja Ampat, kami mendukung kelompok perempuan untuk memimpin praktik sasi. Kami juga akan melakukan pendampingan kepada kelompok perempuan di Kepulauan Teon, Nila, dan Serua. Dukungan dari Pemerintah Kanada memungkinkan kami untuk semakin memperkuat peran aktif perempuan dalam memimpin aksi perlindungan dan pengelolaan laut yang lebih adil dan berkelanjutan,” tutur Herlina.

Baca juga: 51 Persen Terumbu Karang Dunia Memutih akibat Gelombang Panas 2014–2017

‎Joom Jak Sasi merupakan kelompok perempuan yang dipercaya untuk mengelola sumber daya alam di wilayah mereka melalui sistem sasi sejak tahun 2022.

‎Seorang anggota kelompok perempuan Joom Jak Sasi, Silpa Botot mengatakan, dukungan pendanaan sangat penting untuk menjaga kelestarian alam yang merupakan warisan leluhur mereka.

‎"Semoga ke depan upaya kami bisa lebih baik dan lebih maju, serta tidak berhenti sampai di sini. Kami masih ingin terus belajar agar alam tetap terjaga hingga anak cucu,” ujar Silpa, perempuan asal Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau