Kondisi ini akan sangat menakutkan dan memakan biaya yang sangat besar, serta diprediksi akan menyebabkan lebih banyak lagi bencana yang menimbulkan kerugian hingga belasan triliun rupiah di masa mendatang.
Hamed Moftakhari, profesor dari University of Alabama yang juga menulis penelitian ini menjelaskan bahwa dari sisi teknik dan manajemen risiko, temuan ini sangat penting bagi pemerintah dalam merancang rencana menghadapi bencana.
Baca juga: Krisis Iklim, Banjir dan Badai di Asia Makin Sering Sejak 1988
Menurutnya, rencana evakuasi harus memperhitungkan bahwa badai yang melewati area laut yang panas akan menguat jauh lebih cepat dan lebih berbahaya. Peringatan dini mungkin harus diberikan lebih awal agar warga punya waktu lebih untuk mengungsi.
Selain itu, rancangan tanggul laut, sistem drainase, dan pelindung banjir harus diperbarui agar sesuai dengan kenyataan bahwa badai sekarang semakin buruk.
Para ilmuwan lain mengatakan bahwa penelitian ini sejalan dengan ilmu fisika tentang badai dan perubahan iklim. Bedanya, studi ini memberikan angka yang lebih pasti tentang seberapa besar risiko kerusakan parah saat ada gelombang panas di laut.
Brian Tang, seorang profesor ilmu atmosfer, menjelaskan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas di laut bertahan lebih lama dan lebih kuat. Badai mendapatkan energinya dari penguapan air laut yang hangat.
"Sangat masuk akal jika gelombang panas laut ini mempercepat kekuatan badai," katanya.
Ia mengibaratkan kondisi ini seperti "dadu yang sudah diatur" agar lebih sering memunculkan hasil yang buruk.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya