KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) dilaporkan hampir menjadi eksportir bersih minyak mentah untuk pertama kalinya sejak era Perang Dunia II, seiring meningkatnya permintaan dari Eropa dan Asia.
Kondisi ini terjadi di tengah lonjakan konflik Timur Tengah antara AS, Israel dengan Iran yang mengganggu pasokan energi global.
Ditutupnya jalur pelayaran di Selat Hormuz turut menyebabkan terhentinya seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Gangguan tersebut membuat negara-negara di Eropa dan Asia beralih mencari pasokan alternatif termasuk dari AS yang merupakan produsen minyak terbesar dunia.
Baca juga: Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Ekspor minyak mentah AS melonjak hingga 5,2 juta barel per hari pekan lalu, mendekati rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
"Setiap barel tambahan dari sini akan membutuhkan biaya pengiriman dan logistik yang lebih tinggi daripada barel sebelumnya," ungkap pedagang minyak di Dubai, Bekzod Zukhritdinov dilansir dari CNA, Jumat (17/4/2026).
Data pemerintah AS menunjukkan selisih impor dan ekspor minyak yang menyempit drastis menjadi hanya 66.000 barel per har. Angka tersebut menjadi level terendah sejak pencatatan dimulai pada 2001.
Secara historis, AS terakhir kali menjadi eksportir bersih minyak mentah pada 1943. Selisih harga antara minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai lebih dari 20 dollar AS (Rp 310.000) per barel, membuat minyak AS lebih kompetitif di pasar internasional.
Belanda, Jepang, Prancis, Jerman, dan Korea Selatan menjadi pembeli utama minyak mentah AS. Ekspor ke Turki diperkirakan kembali terjadi setelah sempat terhenti selama setidaknya satu tahun.
Baca juga: Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
"Meningkatnya ekspor minyak mentah AS merupakan bukti bahwa pembeli di kawasan Atlantik dan Asia mencari pasokan yang tersedia di wilayah yang lebih jauh, dengan perbedaan harga minyak regional yang menutupi biaya pengiriman," jelas Wakil Presiden Pasar Minyak Rystad, Janiv Shah.
Bahkan, negara seperti Yunani telah membeli minyak mentah AS untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut layanan pelacakan kapal Kpler, sebanyak 2,4 juta barel minyak per hari atau sekitar 47 persen dari ekspor AS pekan lalu berlayar menuju Eropa. Sekitar 1,49 juta barel atau 37 persennya menuju Asia, naik dari 30 persen di tahun 2025.
Di sisi lain, para analis memperingatkan kapasitas ekspor AS mulai mendekati batas. Musababnya, infrastruktur pipa serta jumlah kapal tanker menjadi kendala untuk meningkatkan volume ekspor lebih lanjut.
Kapasitas maksimal ekspor AS diperkirakan berada di kisaran 6 juta barel per hari. Sementara rekor sebelumnya tercatat sebesar 5,6 juta barel per hari tahun 2023.
Baca juga: Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari Paman Sam
Impor minyak AS tercatat turun lebih dari 1 juta barel per hari menjadi 5,3 juta barel. Namun, negara ini masih tetap mengimpor minyak mentah berat lantaran kebutuhan kilang domestik yang tidak sepenuhnya sesuai dengan jenis minyak ringan yang diproduksi di dalam negeri.
Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan terbatasnya kapasitas logistik, pasar energi global diperkirakan akan tetap berada dalam tekanan dalam waktu dekat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya