Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik dengan Iran, AS Hampir Jadi "Nett Exporter" Minyak

Kompas.com, 17 April 2026, 14:23 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber CNA

KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) dilaporkan hampir menjadi eksportir bersih minyak mentah untuk pertama kalinya sejak era Perang Dunia II, seiring meningkatnya permintaan dari Eropa dan Asia.

Kondisi ini terjadi di tengah lonjakan konflik Timur Tengah antara AS, Israel dengan Iran yang mengganggu pasokan energi global.

Ditutupnya jalur pelayaran di Selat Hormuz turut menyebabkan terhentinya seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Gangguan tersebut membuat negara-negara di Eropa dan Asia beralih mencari pasokan alternatif termasuk dari AS yang merupakan produsen minyak terbesar dunia.

Baca juga: Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan

Ekspor minyak mentah AS melonjak hingga 5,2 juta barel per hari pekan lalu, mendekati rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

"Setiap barel tambahan dari sini akan membutuhkan biaya pengiriman dan logistik yang lebih tinggi daripada barel sebelumnya," ungkap pedagang minyak di Dubai, Bekzod Zukhritdinov dilansir dari CNA, Jumat (17/4/2026).

Data pemerintah AS menunjukkan selisih impor dan ekspor minyak yang menyempit drastis menjadi hanya 66.000 barel per har. Angka tersebut menjadi level terendah sejak pencatatan dimulai pada 2001.

Secara historis, AS terakhir kali menjadi eksportir bersih minyak mentah pada 1943. Selisih harga antara minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai lebih dari 20 dollar AS (Rp 310.000) per barel, membuat minyak AS lebih kompetitif di pasar internasional.

Belanda, Jepang, Prancis, Jerman, dan Korea Selatan menjadi pembeli utama minyak mentah AS. Ekspor ke Turki diperkirakan kembali terjadi setelah sempat terhenti selama setidaknya satu tahun.

Baca juga: Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida

"Meningkatnya ekspor minyak mentah AS merupakan bukti bahwa pembeli di kawasan Atlantik dan Asia mencari pasokan yang tersedia di wilayah yang lebih jauh, dengan perbedaan harga minyak regional yang menutupi biaya pengiriman," jelas Wakil Presiden Pasar Minyak Rystad, Janiv Shah.

Bahkan, negara seperti Yunani telah membeli minyak mentah AS untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagian Besar ke Eropa

Menurut layanan pelacakan kapal Kpler, sebanyak 2,4 juta barel minyak per hari atau sekitar 47 persen dari ekspor AS pekan lalu berlayar menuju Eropa. Sekitar 1,49 juta barel atau 37 persennya menuju Asia, naik dari 30 persen di tahun 2025.

Di sisi lain, para analis memperingatkan kapasitas ekspor AS mulai mendekati batas. Musababnya, infrastruktur pipa serta jumlah kapal tanker menjadi kendala untuk meningkatkan volume ekspor lebih lanjut.

Kapasitas maksimal ekspor AS diperkirakan berada di kisaran 6 juta barel per hari. Sementara rekor sebelumnya tercatat sebesar 5,6 juta barel per hari tahun 2023.

Baca juga: Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari Paman Sam

Impor minyak AS tercatat turun lebih dari 1 juta barel per hari menjadi 5,3 juta barel. Namun, negara ini masih tetap mengimpor minyak mentah berat lantaran kebutuhan kilang domestik yang tidak sepenuhnya sesuai dengan jenis minyak ringan yang diproduksi di dalam negeri.

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan terbatasnya kapasitas logistik, pasar energi global diperkirakan akan tetap berada dalam tekanan dalam waktu dekat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau