Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Jejak Komoditas pada Lonjakan Kesejahteraan Petani

Kompas.com, 17 April 2026, 14:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DALAM lima tahun terakhir, kesejahteraan petani sektor perkebunan Indonesia menunjukkan arah yang kian menguat.

Dorongan datang dari membaiknya harga komoditas global, semakin terbukanya akses pasar, serta tumbuhnya upaya hilirisasi yang menambah nilai ekonomi produk.

Data BPS menegaskan, sektor ini tetap menjadi salah satu penopang utama devisa nasional, sekaligus ruang strategis bagi peningkatan pendapatan jutaan rumah tangga petani.

Baca juga: Setelah UI, Terbitlah ITB: Matinya Etika dan Marwah Perempuan

Satu hal yang kian jelas, kesejahteraan petani meningkat paling cepat ketika nilai tambah tidak berhenti di hilir, tetapi benar-benar mengalir hingga ke tingkat kebun.

Perubahan ini tercermin dari praktik budidaya yang semakin efisien, pengelolaan pascapanen yang lebih rapi, hingga akses yang lebih luas terhadap pembiayaan dan kepastian kontrak.

Ketika petani tidak lagi sekadar menjual bahan mentah, melainkan mampu meningkatkan kualitas dan memperkuat posisi tawarnya dalam rantai nilai, dampaknya terasa langsung pada pendapatan dan stabilitas ekonomi mereka.

Jika melihat “papan skor” berbagai komoditas perkebunan, lanskapnya tetap berwarna. Ada komoditas yang melesat berkat dukungan pasar dan inovasi, tetapi ada pula yang tertahan oleh persoalan produktivitas dan tata kelola.

Sawit, misalnya, menghadapi tekanan isu keberlanjutan dan regulasi global seperti EUDR, meski di saat yang sama menyimpan peluang besar dari hilirisasi energi.

Kopi dan kakao menikmati pasar premium dan sertifikasi, namun masih rentan terhadap perubahan iklim dan konsistensi mutu.

Sementara itu, pala, lada, rempah lainnya, dan kelapa menawarkan potensi nilai tinggi melalui diferensiasi produk dan pengolahan lanjutan, meski tetap dibayangi tantangan klasik, yaitu produktivitas, standar kualitas, dan fluktuasi harga.

Jejak dari Lapangan

Kinerja kopi sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kopi Indonesia pada 2025 mencapai 1,87 miliar Dolar AS (sekitar Rp31 triliun), meningkat tajam sebesar 81,08 persen dibandingkan tahun 2024.

Sejumlah negara masih menjadi pasar utama kopi Indonesia dengan Amerika Serikat tetap menjadi tujuan utama.

Adapun komoditas kakao tetap mempertahankan tren peningkatan nilai ekspor dalam beberapa tahun terakhir, yang dipengaruhi oleh dinamika harga global dan permintaan industri.

Sementara itu, ekspor kelapa sawit menunjukkan dominasi yang semakin kuat pada tahun 2025, dengan volume mencapai sekitar 32 juta ton dan nilai ekspor sekitar 35 miliar Dolar AS (setara Rp577,5 triliun), meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya dan tetap menjadi penyumbang utama surplus perdagangan Indonesia.

Baca juga: MBG Reborn: Menakar Keadilan di Piring yang Tepat

Komoditas karet menjadi contoh nyata bagaimana tantangan struktural dapat menghambat. Produksi nasional cenderung menurun sejak 2019 akibat konversi lahan, periode panjang harga rendah, serta serangan penyakit tanaman.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau