KOMPAS.com - Ilmuwan China baru-baru ini menemukan cara untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi bahan kimia berharga, termasuk bahan pembuat bensin.
Proses pembuatan tersebut sepenuhnya menggunakan bantuan cahaya matahari sebagai sumber energinya.
Melansir Green Matters, Selasa (10/2/2026) peneliti mengungkapkan cara kerja pembuatan bahan bakar meniru proses fotosintesis yaitu cara alami tumbuhan mengolah sinar matahari, air, dan karbon dioksida menjadi energi.
Baca juga: Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM
Tujuan utama dari eksperimen ini sendiri adalah untuk menciptakan cara produksi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Jika berhasil, penemuan ini bisa menjadi langkah besar untuk menyeimbangkan kebutuhan manusia dengan kelestarian alam. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Communications.
Metodologi ini dikembangkan oleh tim ilmuwan dari Chinese Academy of Sciences dan Hong Kong University of Science and Technology.
Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah material yang dapat menangkap sejumlah kecil energi listrik untuk mendorong reaksi kimia dalam proses yang menyerupai fotosintesis guna mengubah CO2 menjadi senyawa yang bermanfaat.
Selanjutnya, dengan menggabungkan sistem tersebut dengan katalis yang mengubah karbon dioksida menjadi berbagai bahan kimia, para peneliti berhasil memproduksi karbon monoksida menggunakan tenaga surya. Proses ini juga berpotensi menghasilkan bahan bakar dalam tahapannya.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa bahan bakar yang dihasilkan sangat mirip dengan bensin atau solar saat ini, sehingga bisa langsung digunakan pada mesin kendaraan atau pompa bensin yang sudah ada tanpa perlu diubah. Para peneliti menyebut sistem ini sebagai "strategi penyimpanan energi yang meniru alam."
Baca juga: Hidrogen Hijau Terancam Gagal Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Saat ini, energi terbarukan seperti misalnya panel surya biasa belum mampu mencukupi kebutuhan industri besar yang butuh tenaga kuat, seperti pesawat terbang. Penemuan baru ini berpotensi mengubah keadaan tersebut.
Namun, ini bukan satu-satunya upaya untuk membuat bahan bakar dengan cara meniru fotosintesis. Tim peneliti lain juga berhasil menciptakan alat yang bisa mengubah karbon dioksida menjadi metana.
"Penelitian ini akan membantu mempercepat proses agar teknologi yang mengubah karbon dioksida menjadi bahan bakar ini bisa segera dijual dan digunakan secara luas," ujar Profesor Suil In yang merupakan pemimpin studi ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya