Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) melirik tebu untuk menjadi bahan baku bahan bakar nabati (BBN) jenis bensin, yakni bioetanol, dalam rangka mendukung pemerintah merealisasikan campuran etanol dalam bensin hingga 20 persen atau E20.
“Jadi, selain sawit, kami sudah mulai melirik tebu, ya, untuk molase. Kami ada untuk bioetanol di Glenmore,” ujar SVP Business Sustainability PT Pertamina (Persero) Wenny Ipmawan ketika ditemui di sela-sela acara Sustainability Champions yang digelar di Jakarta, Kamis.
Wenny menyampaikan tebu itu nantinya diolah menjadi bioetanol, seperti bioetanol 5 persen atau campuran 5 persen etanol terhadap bensin. Saat ini, lanjut dia, Pertamina sudah menerapkannya di Pertamina Green.
Baca juga: Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Ke depan, Wenny menyampaikan, Pertamina turut mendukung pemerintah untuk merealisasikan E20 atau campuran 20 persen etanol terhadap bensin.
Terkait rencana E20, Pertamina saat ini masih meneliti sumber-sumber nabati apa saja yang bisa digunakan sebagai bahan baku. Penelitian tersebut juga mempertimbangkan faktor bahan baku yang digunakan untuk makanan.
“Tentu kami harus seimbang antara mana (bahan baku) yang food grade, mana yang fuel grade. Ini juga perlu bantuan pemerintah untuk kemudian menyeimbangkan ini, sih,” ujar Wenny.
Diwartakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akan mempercepat penerapan kebijakan mandatori campuran etanol ke bahan bakar minyak (BBM), sebagai respons harga minyak dunia yang meroket hingga tembus 100 dolar AS per barel.
Baca juga: Bahlil Wajibkan BBM Campur Etanol 20 Persen pada 2028 untuk Tekan Impor Bensin
Bahlil sebelumnya berencana untuk mewajibkan kandungan etanol sebesar 20 persen pada bahan bakar minyak (BBM) atau E20 pada 2028 untuk mengurangi impor bensin.
Kebijakan tersebut dapat diimplementasikan lebih cepat apabila melihat bagaimana dinamika geopolitik di Timur Tengah mempengaruhi negara-negara yang masih bergantung dengan energi fosil.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya