Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara

Kompas.com, 27 April 2026, 08:38 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tingkat kesembuhan anak penderita kanker telah meningkat di seluruh dunia selama 30 tahun terakhir, namun kesenjangan yang besar masih terjadi, menurut sebuah studi dalam jurnal The Lancet.

Saat ini, tingkat kesembuhan sudah melebihi 80 persen di banyak negara maju, tetapi masih tertahan di angka 50-60 persen di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Melansir Down to Earth, Rabu (8/4/2026) studi bernama CONCORD-4 yang terbit pada 4 April 2026 ini menemukan bahwa banyak negara sedang dalam jalur yang benar, bahkan berpotensi melampaui target WHO tahun 2018, yaitu mencapai tingkat kesembuhan 60 persen pada tahun 2030.

Namun, kemajuan ini menutupi adanya kesenjangan data yang besar dan ketimpangan yang mendalam dalam perawatan kanker di seluruh dunia. Anak-anak di negara-negara termiskin kemungkinan besar menghadapi tingkat kesembuhan yang jauh lebih rendah.

Peningkatan angka kesembuhan kanker anak

Kelompok Kerja CONCORD, yang dipimpin oleh Claudia Allemani, mengembangkan sebuah indeks kelangsungan hidup kanker (CSI) menggunakan data nyata dari 307 pusat pendaftaran kanker.

Baca juga: 4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular

Analisis ini mencakup 613.021 anak penderita kanker di 68 negara dari tahun 1990 hingga 2019 untuk memperkirakan perubahan tingkat kesembuhan selama lima tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kesembuhan anak di sebagian besar negara terus membaik.

Di Asia, beberapa negara maju terus menunjukkan peningkatan. Contohnya Jepang, di mana tingkat kesembuhannya melonjak dari 66,2 persen menjadi 85,9 persen. Keberhasilan ini kemungkinan besar didorong oleh kebijakan pemerintah Jepang yang memberikan subsidi pengobatan kanker bagi anak-anak dan remaja sejak awal tahun 1970-an.

Tren peningkatan juga terlihat di wilayah Asia lainnya. Di Thailand, misalnya, tingkat kesembuhan naik dari 55,7 persen menjadi 66 persen. Hal ini kemungkinan besar berkat sistem jaminan kesehatan dan panduan nasional yang memudahkan akses pengobatan.

Kemajuan juga tercatat di Amerika Utara, Oseania, dan sebagian Eropa, di mana tingkat kesembuhan naik dari sekitar 60 persen pada tahun 1990-an menjadi lebih dari 80 persen. Peningkatan ini mencerminkan ketersediaan obat kanker yang lebih stabil, sesuai dengan daftar obat esensial untuk anak dari WHO.

Ketimpangan penanganan kanker anak

Kendati peningkatan kesembuhan kanker anak naik, tetap masih ada ketimpangan yang terjadi pada tingkat kesembuhan terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.

Keterlambatan diagnosis, penghentian pengobatan di tengah jalan, dan sistem kesehatan yang lemah terus menjadi penyebab rendahnya tingkat kesembuhan di negara-negara tersebut.

Ketimpangan besar juga terjadi pada jumlah tenaga medis. Negara miskin hanya memiliki 0,09 dokter spesialis kanker per 100.000 penduduk, sementara negara maju memiliki 1,6 dokter untuk jumlah penduduk yang sama.

Baca juga: Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak

Akses terhadap terapi radiasi juga menunjukkan kesenjangan serupa, dari hanya 17 persen di negara miskin hingga 93 persen di negara maju.

Di Afrika bagian sub-Sahara, tindakan mendesak sangat dibutuhkan untuk menangani beban kanker yang terus meningkat. Tanpa campur tangan cepat, kematian akibat kanker diperkirakan melonjak dari sekitar 520 ribu di tahun 2020 menjadi satu juta orang per tahun pada 2030. Padahal, wilayah tersebut masih kekurangan sistem pendataan kanker penduduk yang memadai.

Kanker anak tetap menjadi penyebab kematian ke-8 pada anak-anak di seluruh dunia. Data Global Burden of Disease memperkirakan ada 377.000 anak yang terkena kanker pada tahun 2023. Sekitar 85 persen kasus dan 94 persen kematian terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Wilayah Pasifik Barat (WHO) dan Afrika mencatat jumlah kasus tertinggi pada tahun 2023. Wilayah Afrika memiliki angka kematian terbanyak, yang melonjak hampir 56 persen antara tahun 1990 hingga 2023.

“Sebagian besar anak penderita kanker tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di sana, keterlambatan diagnosis, sulitnya akses obat-obatan penting, serta berbagai keterbatasan sistem kesehatan menjadi penyebab utama timpangnya beban penyakit kanker pada anak,” ujar Lisa Force, penulis utama penelitian ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau