KOMPAS.com - Kombinasi dari empat ciri khas utama ikan sapu-sapu yang menjadikannya super survivor, bahkan di perairan tercemar di mana spesies lokal lain tidak bisa bertahan.
Pertama, tubuh berlapis zirah, dengan kulit keras bertutul bak baju besi yang melindunginya dari predator. Kedua, mulut penghisap yang memungkinkan ikan sapu-sapu beradaptasi dengan menempel di dasar dan menyedot alga atau detrius. Ketiga, sirip punggung menyerupai layar, dengan 9-14 duri.
Keempat, organ pernapasan tambahan, dengan lambung dimodifikasi untuk bertahan di perairan minim oksigen.
Baca juga: Pakar IPB: Kerugian Tahunan Invasi Ikan Sapu-Sapu di RI Capai Rp 2,72 Triliun
"Ini yang paling menakjubkan secara biologis, lambungnya itu sudah berevolusi menjadi organ pernapasan tambahan ya. Ini bisa menghirup udara dan bertahan di air dengan oksigen yang sangat rendah sekali, bahkan bisa bertahan di lumpur," ujar pakar spesies akuatik invasif dari IPB Univesity, Surya Gentha Akmal dalam sebuah webinar, Sabtu (25/4/2026).
Ikan sapu-sapu begitu sukses menginvasi perairan Indonesia lantaran bisa menghasilkan sekitar 19.000 telur per siklus reproduksi, dengan fekunditas ekstrem, yang mana betina bereproduksi beberapa kali per tahun. Ikan sapu-sapu mampu berkembang biak secara sangat luar biasa, yang mana jantan bisa bereproduksi dengan dua betina atau berpotensi berlipat ganda.
Ikan sapu-sapu dapat menggali lubang sarang di tebing sungai, waduk, atau danau hingga kedalaman 1 meter dan lebar 25 cm, yang digunakannya untuk bertelur sekaligus menjaga anak-anaknya.
"Karena sapu-sapu termasuk ikan yang parental care, jadi jantan akan memelihara anak-anaknya. Kedalaman liang sarangnya ini bukan lubang cacing, tapi terowongan. Jadi, kalau ada banyak ikan sapu-sapu membuat liang di bawah, maka struktur sungai itu juga akan terganggu, akan rusak dinding-dinding sungainya," tutur Gentha.
Liang sarang ikan sapu-sapu dapat meruntuhkan tebing sungai, waduk, atau danau, serta memperparah pendangkalan dan sedimentasi karena material galian dari perilaku spesies invasif ini.
Baca juga: Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu Jadi Alarm Pencemaran Sungai Ciliwung
Menurut Gentha, limbah biologis yang diekskresikan oleh ikan sapu-sapu sangat tinggi, yang memperburuk beban sedimen di dasar sungai. Imbasnya, kapasitas daya tampung sungai semakin menurun dan meningkatkan risiko banjir di perkotaan, seperti Jakarta.
"Dampak (ikan sapu-sapu) ini menjadi lapisan baru dari masalah banjir di Jakarta yang sudah kronis. Sudah banjir akibat kiriman datang dari Bogor, karena limpasan yang luar biasa besar, karena debit air yang besar, dan kemudian ditambah juga dengan masalah ikan sapu-sapu yang merusak dinding-dinding sungai," ucapnya.
Metabolisme dari ikan sapu-sapu memperparah kualitas air di sungai-sungai tercemar dengan menyuburkan bakteri dan menurunkan kadar oksigen terlarut, yang pada gilirannya menguatkan dominasinya dengan bertahap dalam kondisi ekstrem. Ini mengingat, spesies ikan lokal yang membutuhkan kadar oksigen tinggi tidak dapat hidup di sungai-sungai dengan kualitas air buruk.
Proses pemusnahan Ikan sapu-sapu di Waduk Kaja, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (24/4/2026).Populasi ikan sapu-sapu akan mendominasi perairan dengan cemaran tinggi atau sekitar 80 persen, dengan spesies lokal akan tersingkirkan secara biologis. Semakin kotor perairan, justru bertambah kuat dominasinya menjadi paradoks ikan sapu-sapu.
Toleransi terhadap BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) justru menjadi keunggulan sapu-sapu di sungai-sungai urban yang tercemar, dengan kondisi sangat mematikan bagi spesies lokal, seperti wader, tawes, serta gabus.
Baca juga: Tangkap Ikan Sapu-sapu untuk Dijual, 5 Pria di Pasar Baru Jakpus Diamankan Satpol PP
Ketika spesies lokal mati atau menyingkir dari perairan tercemar, ikan sapu-sapu malah memanfaatkan lambung tambahannya untuk menghirup udara, sehingga bisa terus bereproduksi dengan kondisi lingkungan yang ekstrem. Polusi air justru menciptakan itu justru menjadi ruang sempurna bagi ikan sapu-sapu untuk dapat bertahan hidup.
Di sisi lain, tidak ada predator alami di perairan Indonesia yang mampu memangsa ikan sapu-sapu dengan tubuh zirah dan berduri tajam. "Ikan-ikan predator lokal enggan untuk memakannya karena tidak didesain secara morfologis untuk memangsa ikan sapu-sapu.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya