Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia

Kompas.com, 25 April 2026, 21:49 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ikan sapu-sapu dikonsumsi di beberapa negara Amerika Latin, terutama di wilayah yang dialiri Sungai Amazon, habitat aslinya. Di sana, ikan sapu-sapu dimanfaatkan untuk konsumsi karena perairannya relatif bersih.

Pertimbangan larangan mengonsumsi sapu-sapu lebih ke tempat hidupnya ketimbang statusnya sebagai ikan.

Ikan sapu-sapu dari perairan di Indonesia tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan untuk dikonsumsi. Ikan sapu-sapu bukanlah alternatif pangan, meski sebenarnya jumlahnya melimpah dan kandungan proteinnya lumayan bagus.

"Jika ingin mengonsumsi sapu-sapu, dipilih dari perairan yang relatif bersih, seperti sungai-sungai di perdesaan dan (dari) budi daya. Tentu, ibu hamil, anak-anak, dan lansia ya lebih baik hindari sama sekali, jangan makan sama sekali untuk keamanan yang lebih maksimal lagi," ujar pakar spesies akuatik invasif dari IPB Univesity, Surya Gentha Akmal dalam sebuah webinar, Sabtu (25/4/2026).

Baca juga: Debit Air di Bekasi Tinggi, 5 Warga Cikarang Cari Ikan Sapu-sapu ke Sungai di Jakarta

Sebagai pemakan dasar perairan (benthic feeder), ikan sapu-sapu menyerap polutan organik dan logam berat dari sedimen sungai, terutama di perairan perkotaan yang tercemar. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sekitar 70,7 persen titik sungai di Indonesia tercemar logam berat.

Dengan buruknya kualitas air di perairan Indonesia, ikan sapu-sapu menjadi bioakumulasi atau mahkluk hidup dengan racun yang menumpuk di tubuhnya, karena menyedot lumpur lumpur di dasar sungai, tempat logam berat mengendap.

Logam Berat

Sebagai ikan yang tahan polusi air, sapu-sapu menyimpan racun, seperti merkuri, timbal, dan kadmium, dan arsenik, ke dalam tubuhnya.

Merkuri dapat menyebabkan kerusakan sistem kerusakan sistem saraf pusat, gangguan ginjal, serta gangguan perkembangan otak janin. Sedangkan timbal bisa mengakibatkan anemia, gangguan perkembangan anak, hipertensi, serta kerusakan ginjal. Sementara itu, kadmium mampu merusak ginjal, serta menimbulkan penyakit tulang dan karsinogenik.

Kandungan logam berat di atas ambang batas aman SNI dan WHO yang terakumulasi dalam daging ikan sapu-sapu dapat berpindah ke ternak atau manusia lewat mekanisme rantai makanan. Kandungan logam berat tersebut hanya berpindah dan tidak menghilang.

Baca juga: Diam-diam Mendominasi, Ikan Sapu-sapu Disebut “Bersarang” di Kali Bekasi

Bahkan, kadmium yang disedot ikan sapu-sapu dari dasar sungai tercemar bisa menetap dalam tubuh manusia selama 30 tahun pasca dikonsumsi.

"Tercemar logam berat 12 kali lipat di ambang batasnya (ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung), (kandungan) E. coli 100 kali lipat ya dan racun kimia tetap menetap di tubuh puluhan tahun. Nah, kalau dimakan pun juga sayang ya, menjadi penyakit," tutur Gentha.

Upaya meminimalisir kerusakan akibat invasi ikan sapu-sapu dapat dilakukan dengan kombinasi empat pendekatan.

Pendekatan dimaksud yaitu, pencegahan dengan berhenti membuang ikan hias ke sungai, penangkapan massal untuk menekan populasi, pemanfaatan secara aman untuk produk non-pangan, serta perbaikan kualitas sungai melalui pengelolan limbah industri dan pertanian.

Saat ini, penangkapan massal ikan sapu-sapu masih menimbulkan dilema lantaran opsi pemanfaatannya secara aman belum tersedia dan efektivitasnya yang rendah.

"Di media sosial sering viral ya masyarakat atau komunitas menangkap 20 sampai 30 ribu ekor sapu-sapu dalam satu hari itu ya. Lalu, dimusnahkan di tempat sampah sampai berton-ton, dikubur hidup-hidup begitu kan. Nah, apakah ini efektif? Secara biologis dalam jangka panjang tentu tidak karena reproduksinya terlalu cepat," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Pemerintah
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pemerintah
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Pemerintah
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau