KOMPAS.com - Ikan sapu-sapu dikonsumsi di beberapa negara Amerika Latin, terutama di wilayah yang dialiri Sungai Amazon, habitat aslinya. Di sana, ikan sapu-sapu dimanfaatkan untuk konsumsi karena perairannya relatif bersih.
Pertimbangan larangan mengonsumsi sapu-sapu lebih ke tempat hidupnya ketimbang statusnya sebagai ikan.
Ikan sapu-sapu dari perairan di Indonesia tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan untuk dikonsumsi. Ikan sapu-sapu bukanlah alternatif pangan, meski sebenarnya jumlahnya melimpah dan kandungan proteinnya lumayan bagus.
"Jika ingin mengonsumsi sapu-sapu, dipilih dari perairan yang relatif bersih, seperti sungai-sungai di perdesaan dan (dari) budi daya. Tentu, ibu hamil, anak-anak, dan lansia ya lebih baik hindari sama sekali, jangan makan sama sekali untuk keamanan yang lebih maksimal lagi," ujar pakar spesies akuatik invasif dari IPB Univesity, Surya Gentha Akmal dalam sebuah webinar, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: Debit Air di Bekasi Tinggi, 5 Warga Cikarang Cari Ikan Sapu-sapu ke Sungai di Jakarta
Sebagai pemakan dasar perairan (benthic feeder), ikan sapu-sapu menyerap polutan organik dan logam berat dari sedimen sungai, terutama di perairan perkotaan yang tercemar. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sekitar 70,7 persen titik sungai di Indonesia tercemar logam berat.
Dengan buruknya kualitas air di perairan Indonesia, ikan sapu-sapu menjadi bioakumulasi atau mahkluk hidup dengan racun yang menumpuk di tubuhnya, karena menyedot lumpur lumpur di dasar sungai, tempat logam berat mengendap.
Sebagai ikan yang tahan polusi air, sapu-sapu menyimpan racun, seperti merkuri, timbal, dan kadmium, dan arsenik, ke dalam tubuhnya.
Merkuri dapat menyebabkan kerusakan sistem kerusakan sistem saraf pusat, gangguan ginjal, serta gangguan perkembangan otak janin. Sedangkan timbal bisa mengakibatkan anemia, gangguan perkembangan anak, hipertensi, serta kerusakan ginjal. Sementara itu, kadmium mampu merusak ginjal, serta menimbulkan penyakit tulang dan karsinogenik.
Kandungan logam berat di atas ambang batas aman SNI dan WHO yang terakumulasi dalam daging ikan sapu-sapu dapat berpindah ke ternak atau manusia lewat mekanisme rantai makanan. Kandungan logam berat tersebut hanya berpindah dan tidak menghilang.
Baca juga: Diam-diam Mendominasi, Ikan Sapu-sapu Disebut “Bersarang” di Kali Bekasi
Bahkan, kadmium yang disedot ikan sapu-sapu dari dasar sungai tercemar bisa menetap dalam tubuh manusia selama 30 tahun pasca dikonsumsi.
"Tercemar logam berat 12 kali lipat di ambang batasnya (ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung), (kandungan) E. coli 100 kali lipat ya dan racun kimia tetap menetap di tubuh puluhan tahun. Nah, kalau dimakan pun juga sayang ya, menjadi penyakit," tutur Gentha.
Upaya meminimalisir kerusakan akibat invasi ikan sapu-sapu dapat dilakukan dengan kombinasi empat pendekatan.
Pendekatan dimaksud yaitu, pencegahan dengan berhenti membuang ikan hias ke sungai, penangkapan massal untuk menekan populasi, pemanfaatan secara aman untuk produk non-pangan, serta perbaikan kualitas sungai melalui pengelolan limbah industri dan pertanian.
Saat ini, penangkapan massal ikan sapu-sapu masih menimbulkan dilema lantaran opsi pemanfaatannya secara aman belum tersedia dan efektivitasnya yang rendah.
"Di media sosial sering viral ya masyarakat atau komunitas menangkap 20 sampai 30 ribu ekor sapu-sapu dalam satu hari itu ya. Lalu, dimusnahkan di tempat sampah sampai berton-ton, dikubur hidup-hidup begitu kan. Nah, apakah ini efektif? Secara biologis dalam jangka panjang tentu tidak karena reproduksinya terlalu cepat," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya