KOMPAS.com-Kota Genoa di Italia baru-baru ini resmi bergabung dengan kota-kota di dunia yang melarang iklan produk penyebab polusi.
Keputusan ini disetujui oleh dewan kota dengan 23 suara mendukung dan 14 menolak. Larangan ini mencakup iklan produk berbasis bahan bakar fosil yang menghasilkan jejak karbon tinggi.
Langkah ini menyusul kota Florence yang sudah lebih dulu menerapkannya, dan menjadi titik balik bersejarah bagi kebijakan iklim di perkotaan Italia.
"Iklan memiliki peran besar dalam membentuk pandangan masyarakat dan kebiasaan konsumen. Mendukung gerakan ini berarti membebaskan tempat-tempat yang kita datangi setiap hari seperti halte bus dan stasiun kereta dari iklan yang menganggap normal praktik-praktik yang merusak kepentingan umum, kesehatan masyarakat, dan iklim," ujar Francesca Ghio, anggota Dewan Kota Genoa dan pengusul utama gerakan ini.
Baca juga: Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Melansir Earth.org, Kamis (23/4/2026) Andrea Sbarbaro, Presiden dari Cittadini Sostenibili, sebuah komunitas masyarakat di Italia yang aktif melawan iklan bahan bakar fosil, mengaku bangga dengan keputusan tersebut.
“Membebaskan ruang publik dari iklan bahan bakar fosil bukan sekadar simbolis. Ini adalah langkah penting untuk mempromosikan gaya hidup yang sejalan dengan keselamatan dan masa depan masyarakat kita,” katanya.
Sampai saat ini, lebih dari 50 kota yang kebanyakan di Eropa telah membatasi iklan produk penyebab polusi atau sedang menyusun aturan untuk membatasinya.
Beberapa kota termasuk beberapa kota di Belanda, Stockholm, Edinburgh, dan Sydney bahkan sudah melarangnya sama sekali.
Den Haag, ibu kota administratif Belanda, menjadi kota pertama di dunia yang melarang iklan layanan berkarbon tinggi seperti kapal pesiar dan perjalanan udara pada tahun 2024.
Sementara itu, Spanyol bisa segera menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan larangan ini secara nasional. Tahun lalu, pemerintah Spanyol menyetujui rancangan undang-undang yang akan melarang iklan untuk produk berbasis bahan bakar fosil, kendaraan berbahan bakar bensin, dan penerbangan jarak pendek jika sudah tersedia pilihan kereta api yang lebih ramah lingkungan.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, sebelumnya telah meminta negara-negara untuk melarang iklan produk berbasis bahan bakar fosil, sama seperti mereka membatasi iklan rokok.
Baca juga: Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
“Banyak pihak di industri bahan bakar fosil tanpa malu melakukan greenwashing, padahal mereka berusaha menunda aksi iklim melalui lobi, ancaman hukum, dan kampanye iklan besar-besaran. Perusahaan iklan dan PR juga justru memperparah ini,” ujar Guterres dalam pidatonya tahun 2024.
Pemimpin PBB tersebut mengatakan bahwa agensi iklan, media berita, dan perusahaan teknologi turut membantu kerusakan planet ini. Ia mendesak mereka untuk berhenti mempromosikan bahan bakar fosil dan melepaskan klien-klien mereka saat ini.
"Melarang iklan bahan bakar fosil dan memaksa sektor humas untuk memutuskan hubungan dengan perusahaan-perusahaan pencemar lingkungan adalah hal yang sangat perlu dilakukan demi masa depan yang lebih bersih dan adil," ujar Johnny White, pengacara dari ClientEarth.
"Kita punya dua pilihan: beralih dengan cepat meninggalkan bahan bakar fosil, atau membiarkan pengaruh industri tersebut terus merusak upaya penanganan perubahan iklim. Kita tidak bisa memilih keduanya," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya