Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota

Kompas.com, 9 April 2026, 19:09 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Peneliti dari University of Manchester di Inggris menunjukkan penggunaan kendaraan sehari-hari ternyata berperan dalam meningkatkan suhu udara di perkotaan.

Dalam studinya, mereka menemukan cara untuk mengukur bagaimana lalu lintas membuat suhu kota semakin panas.

Melansir Phys, Rabu (8/4/2026) para peneliti menciptakan sebuah sistem baru berbasis fisika. Sistem ini memungkinkan panas yang dihasilkan kendaraan di jalanan dimasukkan langsung ke dalam model iklim dunia (CESM).

Itu merupakan salah satu alat canggih yang paling sering digunakan di dunia untuk meramal perilaku iklim bumi.

Dengan memasukkan data panas dari lalu lintas ke dalam model komputer, tim peneliti berhasil membuktikan bahwa kendaraan secara nyata menaikkan suhu kota. Mereka juga menunjukkan bagaimana panas tersebut berpindah-pindah di antara jalanan, gedung, dan udara di sekitarnya.

Baca juga: Pohon di Kota Serap Lebih Banyak CO2 Dibanding Emisi Kendaraan

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Advances in Modeling Earth Systems ini menggunakan data lalu lintas asli dari otoritas transportasi di Manchester (Inggris) serta data terbuka lainnya untuk menguji keakuratan model di kota Manchester dan Toulouse (Prancis).

"Selama ini, penelitian tentang panas di perkotaan biasanya hanya fokus pada bangunan, bahan material seperti aspal, dan permukaan tanah. Namun, panas langsung yang dihasilkan oleh kendaraan seperti dari mesin, knalpot, dan proses pengereman ternyata jarang diperhatikan dalam model iklim skala besar," terang ketua penulis penelitian, Dr. Zhonghua Zheng dari University of Manchester.

"Model kami akan memungkinkan para ilmuwan untuk menyimulasikan bagaimana panas yang dikeluarkan oleh kendaraan berinteraksi dengan jalanan, bangunan, dan atmosfer di sekitarnya," katanya.

Bukti Nyata Kenaikan Suhu

Di Manchester, hasil penelitian menunjukkan bahwa panas dari lalu lintas menaikkan suhu udara sekitar 0,16 derajat C saat musim panas dan 0,35 derajat C saat musim dingin. Para ilmuwan mengatakan bahwa meski angka kenaikan ini terlihat kecil, dampaknya bisa sangat terasa ketika terjadi gelombang panas ekstrem.

Studi ini juga menemukan bahwa panas kendaraan tidak hanya memengaruhi suhu di luar ruangan, tapi juga di dalam ruangan. Panas yang dilepaskan di jalanan bisa merambat masuk ke dalam gedung, sehingga orang-orang jadi lebih sering menyalakan AC di musim panas.

Baca juga: Konsumsi BBM Diprediksi Turun karena Peralihan ke Kendaraan Listrik

Lebih lanjut, berbeda dengan metode lama, model baru dalam penelitian ini bisa menghitung panas dari berbagai jenis kendaraan mulai dari mobil bensin, diesel, hibrida, hingga mobil listrik. Sistem ini juga bisa menyesuaikan dengan perubahan pola lalu lintas dan kondisi cuaca.

Artinya, para ilmuwan dan pemerintah bisa memprediksi bagaimana perubahan sistem transportasi seperti peralihan ke mobil listrik akan mengubah jumlah panas yang dihasilkan oleh lalu lintas di kota.

Penelitian ini pun dapat membantu pemerintah kota memahami bagaimana kebijakan transportasi dan peralihan ke kendaraan ramah lingkungan memengaruhi ketahanan iklim di masa depan.

"Kami ingin menekankan betapa pentingnya memasukkan faktor transportasi saat merencanakan cara mendinginkan kota dan strategi untuk mencapai target bebas emisi," tambah Yuan Sun, penulis utama laporan ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Pemerintah
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau