KOMPAS.com-Peneliti dari University of Manchester di Inggris menunjukkan penggunaan kendaraan sehari-hari ternyata berperan dalam meningkatkan suhu udara di perkotaan.
Dalam studinya, mereka menemukan cara untuk mengukur bagaimana lalu lintas membuat suhu kota semakin panas.
Melansir Phys, Rabu (8/4/2026) para peneliti menciptakan sebuah sistem baru berbasis fisika. Sistem ini memungkinkan panas yang dihasilkan kendaraan di jalanan dimasukkan langsung ke dalam model iklim dunia (CESM).
Itu merupakan salah satu alat canggih yang paling sering digunakan di dunia untuk meramal perilaku iklim bumi.
Dengan memasukkan data panas dari lalu lintas ke dalam model komputer, tim peneliti berhasil membuktikan bahwa kendaraan secara nyata menaikkan suhu kota. Mereka juga menunjukkan bagaimana panas tersebut berpindah-pindah di antara jalanan, gedung, dan udara di sekitarnya.
Baca juga: Pohon di Kota Serap Lebih Banyak CO2 Dibanding Emisi Kendaraan
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Advances in Modeling Earth Systems ini menggunakan data lalu lintas asli dari otoritas transportasi di Manchester (Inggris) serta data terbuka lainnya untuk menguji keakuratan model di kota Manchester dan Toulouse (Prancis).
"Selama ini, penelitian tentang panas di perkotaan biasanya hanya fokus pada bangunan, bahan material seperti aspal, dan permukaan tanah. Namun, panas langsung yang dihasilkan oleh kendaraan seperti dari mesin, knalpot, dan proses pengereman ternyata jarang diperhatikan dalam model iklim skala besar," terang ketua penulis penelitian, Dr. Zhonghua Zheng dari University of Manchester.
"Model kami akan memungkinkan para ilmuwan untuk menyimulasikan bagaimana panas yang dikeluarkan oleh kendaraan berinteraksi dengan jalanan, bangunan, dan atmosfer di sekitarnya," katanya.
Di Manchester, hasil penelitian menunjukkan bahwa panas dari lalu lintas menaikkan suhu udara sekitar 0,16 derajat C saat musim panas dan 0,35 derajat C saat musim dingin. Para ilmuwan mengatakan bahwa meski angka kenaikan ini terlihat kecil, dampaknya bisa sangat terasa ketika terjadi gelombang panas ekstrem.
Studi ini juga menemukan bahwa panas kendaraan tidak hanya memengaruhi suhu di luar ruangan, tapi juga di dalam ruangan. Panas yang dilepaskan di jalanan bisa merambat masuk ke dalam gedung, sehingga orang-orang jadi lebih sering menyalakan AC di musim panas.
Baca juga: Konsumsi BBM Diprediksi Turun karena Peralihan ke Kendaraan Listrik
Lebih lanjut, berbeda dengan metode lama, model baru dalam penelitian ini bisa menghitung panas dari berbagai jenis kendaraan mulai dari mobil bensin, diesel, hibrida, hingga mobil listrik. Sistem ini juga bisa menyesuaikan dengan perubahan pola lalu lintas dan kondisi cuaca.
Artinya, para ilmuwan dan pemerintah bisa memprediksi bagaimana perubahan sistem transportasi seperti peralihan ke mobil listrik akan mengubah jumlah panas yang dihasilkan oleh lalu lintas di kota.
Penelitian ini pun dapat membantu pemerintah kota memahami bagaimana kebijakan transportasi dan peralihan ke kendaraan ramah lingkungan memengaruhi ketahanan iklim di masa depan.
"Kami ingin menekankan betapa pentingnya memasukkan faktor transportasi saat merencanakan cara mendinginkan kota dan strategi untuk mencapai target bebas emisi," tambah Yuan Sun, penulis utama laporan ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya