KOMPAS.com - Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menilai sektor filantropi memiliki peluang semakin besar untuk berperan dalam menjawab tantangan pembangunan nasional di tengah menurunnya bantuan internasional dan meningkatnya kompleksitas persoalan sosial-ekonomi.
Hal itu disampaikan dalam Rapat Umum Anggota (RUA) 2026 yang digelar di Gedung IPMI, Jakarta.
PFI menyebut filantropi dapat menjadi katalisator perubahan melalui inovasi pendanaan sosial, pemanfaatan data, serta penguatan kemitraan lintas sektor.
Baca juga: PFI Luncurkan Chapter Surabaya untuk Perkuat Ekosistem Filantropi Jawa Timur
Ketua Badan Pengurus PFI Rizal Algamar mengatakan, sepanjang 2025 organisasinya berupaya memperkuat peran sebagai pusat kolaborasi filantropi nasional.
“Sepanjang tahun 2025, PFI memperkuat perannya sebagai Filantropi Hub melalui penguatan pembelajaran, pengembangan pengetahuan berbasis data, perluasan kolaborasi lintas sektor, serta kampanye publik yang mendorong praktik filantropi yang lebih terintegrasi dan berdampak,” ujar Rizal dalam keterangan tertulis, Senin (28/4/2026).
PFI mencatat jumlah anggotanya meningkat menjadi 252 organisasi pada 2025. Menurut organisasi tersebut, kenaikan jumlah anggota menunjukkan bertambahnya minat berbagai pihak untuk membangun kolaborasi filantropi di Indonesia.
Sepanjang tahun lalu, PFI juga menyelenggarakan lebih dari 24 forum diskusi reguler dan 32 forum dalam Filantropi Indonesia Festival 2025 (FIFest2025), yang melibatkan lebih dari 3.750 peserta.
Selain itu, organisasi tersebut menerbitkan tujuh publikasi strategis yang berisi analisis dan rekomendasi kebijakan terkait penguatan sektor filantropi.
Dari sisi komunikasi publik, PFI mencatat 171 liputan media dengan jangkauan lebih dari 3,4 juta audiens, serta memproduksi artikel dan opini terkait perkembangan filantropi di Indonesia.
PFI juga memperluas jaringan melalui penguatan chapter daerah, termasuk di Makassar dan Surabaya.
Langkah itu dilakukan agar kegiatan filantropi lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat di tingkat regional.
Selain itu, PFI meluncurkan Piagam Budaya Filantropi sebagai kerangka nilai bersama untuk mendorong praktik filantropi yang etis, transparan, dan sesuai konteks lokal.
Dalam menghadapi persoalan pembangunan yang semakin kompleks, PFI memperkuat kerja sama lintas sektor melalui Multi-Stakeholder Forum (MSF) yang melibatkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta.
Baca juga: Peran Filantropi Bangun Ketahanan Pangan dari Desa
Forum tersebut juga mendorong kolaborasi hingga tingkat desa sebagai pelaksana langsung berbagai program sosial.
Sepanjang 2025, MSF melibatkan tiga aliansi utama, yakni Perhimpunan Filantropi Indonesia, Forum Zakat, dan Humanitarian Forum Indonesia, serta didukung enam mitra pengetahuan dan 25 kolaborator.
PFI menilai model kolaborasi tersebut penting untuk meningkatkan efektivitas intervensi sosial dan memastikan dampak program lebih terukur.
Anton Rizki dari Center for Indonesian Policy Studies menilai PFI berperan sebagai ruang kolaborasi antarlembaga.
“PFI berperan sebagai platform kolaborasi, menyatukan berbagai organisasi untuk saling belajar dan memperkuat kapasitas, serta membuka akses ke jejaring strategis,” ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya