Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan

Kompas.com, 29 April 2026, 18:12 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kesenjangan antara kesadaran tentang kerugian akibat krisis iklim dan adaptasi untuk meminimalisir risikonya masih tinggi.

‎‎Berdasarkan salah satu riset peserta program KONEKSI, sekitar 85 persen responden menyadari adanya kerugian akibat krisis iklim. Sebesar 56 persen responden di antaranya merasakan dampaknya terhadap kesehatan.

Namun, pada tingkat adaptasi krisis iklim,  upaya meminimalisir risiko kesehatan masih tergolong rendah atau di bawah 20 persen. ‎‎Bahkan, hanya sekitar 35 persen responden yang menyadari kerentanan individu dengan penyakit kronis. 

Baca juga: Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia

‎"Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman masyarakat terhadap risiko belum sepenuhnya komprehensif," ujar Lia Herna dari PREDIKT dalam acara Knowledge and Innovation Exchange, Rabu (29/4/2026).

‎Temuan ini diperoleh survei cross-sectional terhadap 959 responden di tiga kota pesisir di Indonesia, yaitu Banda Aceh, Mataram, dan Ambon.

Data yang dikumpulkan mencerminkan keragaman karakteristik masyarakatnya dan dianalisis menggunakan perspektif GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) untuk melihat sejauh mana inklusivitas terhadap kelompok rentan telah terintegrasi dalam upaya adaptasi krisis iklim.

Risiko Tidak Merata

‎Kesadaran risiko yang tidak merata akan berdampak pada perlindungan yang tidak setara. Kelompok yang paling membutuhkan justru berpotensi tidak mendapatkan intervensi yang tepat. Tanpa pendekatan yang inklusif, upaya adaptasi berisiko memperlebar ketimpangan yang sudah ada.

‎Oleh karena itu, riset ini menekankan pentingnya strategi adaptasi kesehatan iklim yang inklusif, dengan tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga memastikan bahwa seluruh kelompok, —terutama yang paling rentan —, terlindungi secara adil.

‎"Pendekatan ini menjadi kunci dalam pembangunan ketahanan kesehatan masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks," ucapnya.

Beda Kesadaran Laki-laki dan Perempuan

‎Riset peserta program KONEKSI lainnya mengungkapkan, lebih dari 70 persen ‎responden sebenarnya sudah memiliki kesadaran adanya risiko krisis iklim. Namun, hanya sedikit responden yang sudah melakukan aksi adaptasi krisis iklim.

Baca juga: Perencana Kota Berpeluang Tarik Investas untuk Pendanaan Iklim

‎Riset mengadopsi system thinking approach dan melakukan survei terhadap lebih dari 600 rumah tangga petani di empat wilayah peri-urban di Jawa, yaitu Bogor, Bandung, Yogya, dan Sidoarjo. Riset juga melakukan in-depth interview dan group model building untuk memahami perbedaan strategi adaptasi antara laki-laki dan perempuan.

‎Laki-laki lebih memilih strategi adaptasi krisis iklim yang bersifat padat modal, seperti pompa air. Sedangkan perempuan memilih yang berbiaya rendah (low-cost). Misalnya, pemilihan varietas yang tahan kering atau pengelolaan waktu tanam.

‎"Hal ini again merefleksikan betapa adanya diskrepansi dalam akses terhadap resources di dalam rumah tangga itu sendiri. Kemudian, kegiatan-kegiatan penyuluhan juga belum sepenuhnya itu mengakomodir kebutuhan perempuan. Kapan penyuluhan itu sebaiknya dilakukan, siapa fasilitatornya, dan bagaimana metode-metode penyuluhan itu sendiri," tutur Nurul Hilmiati dari Universitas Mataram.

‎Diketahui, KONEKSI adalah inisiatif kolaboratif Australia–Indonesia di sektor pengetahuan dan inovasi, yang menerima lebih dari 600 proposal proyek riset Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (ECC). Dari jumlah tersebut, 38 proposal proyek riset ECC dipilih berdasarkan kebutuhan dan permintaan, bukan hanya tentang selera.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau