JAKARTA, KOMPAS.com - Kesenjangan antara kesadaran tentang kerugian akibat krisis iklim dan adaptasi untuk meminimalisir risikonya masih tinggi.
Berdasarkan salah satu riset peserta program KONEKSI, sekitar 85 persen responden menyadari adanya kerugian akibat krisis iklim. Sebesar 56 persen responden di antaranya merasakan dampaknya terhadap kesehatan.
Namun, pada tingkat adaptasi krisis iklim, upaya meminimalisir risiko kesehatan masih tergolong rendah atau di bawah 20 persen. Bahkan, hanya sekitar 35 persen responden yang menyadari kerentanan individu dengan penyakit kronis.
Baca juga: Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
"Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman masyarakat terhadap risiko belum sepenuhnya komprehensif," ujar Lia Herna dari PREDIKT dalam acara Knowledge and Innovation Exchange, Rabu (29/4/2026).
Temuan ini diperoleh survei cross-sectional terhadap 959 responden di tiga kota pesisir di Indonesia, yaitu Banda Aceh, Mataram, dan Ambon.
Data yang dikumpulkan mencerminkan keragaman karakteristik masyarakatnya dan dianalisis menggunakan perspektif GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) untuk melihat sejauh mana inklusivitas terhadap kelompok rentan telah terintegrasi dalam upaya adaptasi krisis iklim.
Kesadaran risiko yang tidak merata akan berdampak pada perlindungan yang tidak setara. Kelompok yang paling membutuhkan justru berpotensi tidak mendapatkan intervensi yang tepat. Tanpa pendekatan yang inklusif, upaya adaptasi berisiko memperlebar ketimpangan yang sudah ada.
Oleh karena itu, riset ini menekankan pentingnya strategi adaptasi kesehatan iklim yang inklusif, dengan tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga memastikan bahwa seluruh kelompok, —terutama yang paling rentan —, terlindungi secara adil.
"Pendekatan ini menjadi kunci dalam pembangunan ketahanan kesehatan masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks," ucapnya.
Riset peserta program KONEKSI lainnya mengungkapkan, lebih dari 70 persen responden sebenarnya sudah memiliki kesadaran adanya risiko krisis iklim. Namun, hanya sedikit responden yang sudah melakukan aksi adaptasi krisis iklim.
Baca juga: Perencana Kota Berpeluang Tarik Investas untuk Pendanaan Iklim
Riset mengadopsi system thinking approach dan melakukan survei terhadap lebih dari 600 rumah tangga petani di empat wilayah peri-urban di Jawa, yaitu Bogor, Bandung, Yogya, dan Sidoarjo. Riset juga melakukan in-depth interview dan group model building untuk memahami perbedaan strategi adaptasi antara laki-laki dan perempuan.
Laki-laki lebih memilih strategi adaptasi krisis iklim yang bersifat padat modal, seperti pompa air. Sedangkan perempuan memilih yang berbiaya rendah (low-cost). Misalnya, pemilihan varietas yang tahan kering atau pengelolaan waktu tanam.
"Hal ini again merefleksikan betapa adanya diskrepansi dalam akses terhadap resources di dalam rumah tangga itu sendiri. Kemudian, kegiatan-kegiatan penyuluhan juga belum sepenuhnya itu mengakomodir kebutuhan perempuan. Kapan penyuluhan itu sebaiknya dilakukan, siapa fasilitatornya, dan bagaimana metode-metode penyuluhan itu sendiri," tutur Nurul Hilmiati dari Universitas Mataram.
Diketahui, KONEKSI adalah inisiatif kolaboratif Australia–Indonesia di sektor pengetahuan dan inovasi, yang menerima lebih dari 600 proposal proyek riset Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (ECC). Dari jumlah tersebut, 38 proposal proyek riset ECC dipilih berdasarkan kebutuhan dan permintaan, bukan hanya tentang selera.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya