Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Literasi AI di Indonesia Masih Terbatas dan Perlu Diperluas

Kompas.com, 4 Mei 2026, 15:44 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia memiliki potensi besar dengan jumlah angkatan kerja yang besar dan relatif muda. Namun, akses terhadap pendidikan AI yang praktis dan relevan secara lokal masih terbatas, sehingga perlu diperluas.

Hal itu disampaikan pendiri lembaga pengembangan literasi AI, Nusantara AI Institute, Oliver Tedja saat menggelar dialog perdana di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York, Amerika Serikat, sebagai bagian dari peluncuran inisiatif nirlaba di bidang teknologi pendidikan.

Kegiatan yang berlangsung beberapa waktu lalu itu menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Sandiaga Uno, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O. Blake Jr., serta Duta Besar David N. Merrill.

Baca juga: 5 Anak Muda Luncurkan Inovasi AI untuk Lawan Stunting

Dialog ini juga melibatkan pemimpin Indonesia, pakar global, dan komunitas diaspora untuk membahas peran kecerdasan buatan (AI) dalam mendorong pembangunan nasional.

Pendiri Nusantara AI Institute, Oliver Tedja, mengatakan AI kini menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing global, kekuatan ekonomi, hingga pengaruh geopolitik suatu negara.

“Negara yang memimpin di bidang ini akan membentuk masa depan, sementara yang tertinggal berisiko menjadi bergantung,” ujar Oliver dikutip dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).

Ia menambahkan, inisiatif ini bertujuan memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi tersebut.

Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar dengan jumlah angkatan kerja yang besar dan relatif muda. Namun, akses terhadap pendidikan AI yang praktis dan relevan secara lokal masih terbatas, sehingga perlu diperluas.

Dalam forum tersebut, Sandiaga Uno menekankan bahwa literasi AI akan menjadi keterampilan dasar yang penting di masa depan, setara dengan kemampuan membaca dan menulis.

“Ini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan. Literasi AI akan membuka peluang karier baru di berbagai sektor,” ujar Sandiaga.

Baca juga: Kekerasan Daring terhadap Jurnalis Perempuan Meningkat akibat AI

Nusantara AI Institute sendiri berfokus pada pengembangan literasi AI di Indonesia melalui berbagai program pendidikan. Hingga kini, lembaga tersebut telah menyediakan lebih dari 20 kursus gratis yang mencakup literasi AI, penerapan AI untuk bisnis, serta aspek teknis AI.

Sementara itu, Robert O. Blake Jr. menilai kemampuan di bidang AI menjadi semakin penting, baik di sektor pekerjaan tradisional maupun yang sedang berkembang. Menurut dia, pemanfaatan AI memungkinkan otomatisasi pekerjaan rutin dan mendorong peningkatan produktivitas.

Ia juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih banyak ditopang oleh jumlah penduduk yang besar, sehingga peningkatan keterampilan teknis, termasuk di bidang AI, menjadi kebutuhan mendesak ke depan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau