Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konferensi Santa Marta: 60 Negara Bahas Peralihan Energi Fosil ke Energi Terbarukan

Kompas.com, 2 Mei 2026, 09:03 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hampir 60 negara tergabung dalam konferensi yang digelar di Santa Marta, Kolombia untuk membahas peralihan dari energi fosil menjadi energi terbarukan.

Konferensi bertajuk Transisi dari Bahan Bakar Fosil itu menunjuk Kolombia sebagai tuan rumah, dengan puluhan negara lain bertekad untuk melonggarkan cengkeraman negara-negara penghasil minyak terhadap masa depan dunia.

“Ini adalah awal dari demokrasi iklim global yang baru,” ujar Menteri Lingkungan Hidup Kolombia sekaligus ketua konferensi, Irene Velez Torres dilansir dari The Guardian, Sabtu (2/5/2026).

Baca juga: Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT

Pertemuan berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap perubahan iklim dan gejolak harga energi. Diketahui, lonjakan harga minyak dan gas dipicu konflik geopolitik, termasuk serangan AS-Israel terhadap Iran, serta dampak berkepanjangan dari perang Rusia-Ukraina.

Kondisi tersebut menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian global, mulai dari kenaikan biaya energi dan pangan hingga lonjakan inflasi.

Pada akhirnya, banyak negara menyadari bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil membuat mereka terperangkap dalam kekuatan geopolitik yang tak terkendali.

Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol menilai krisis energi saat ini bahkan melampaui gabungan krisis minyak sebelumnya. Ia menyoroti kerentanan sistem energi global yang masih bergantung pada jalur distribusi sempit seperti Selat Hormuz.

Namun, dunia memiliki alternatif energi yang lebih layak seperti pembangkit listrik tenaga angin dan matahari didukung pesatnya teknologi baterai, kendaraan listrik, serta pompa panas. Birol memprediksi krisis energi tersebut akan menjadi titik balik permanen dalam industri energi global.

Baca juga: Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB

“Pemerintah akan meninjau strategi energi mereka. Akan ada peningkatan signifikan pada energi terbarukan dan tenaga nuklir serta pergeseran lebih lanjut menuju masa depan yang lebih terlistrik, dan ini akan mengurangi pasar utama untuk minyak," jelas Birol.

Sementara itu, Kepala Urusan Iklim PBB, Simon Stiell menyatakan krisis biaya energi fosil kini menekan ekonomi global dan mendorong pemerintah mempercepat investasi di sektor energi terbarukan.

“Mereka yang selama ini berjuang untuk menjaga dunia tetap bergantung pada bahan bakar fosil secara tidak sengaja justru mempercepat pertumbuhan energi terbarukan global," beber dia.

Bauran EBT Meningkat

Berdasarkan analisis lembaga think tank Ember, bauran energi baru terbarukan (EBT) global meningkat menjadi 33,8 persen dibandingkan batu bara sebesar 33 persen. Penggunaan panel surya dan baterai melonjak di Pakistan dan Inggris sejak konflik AS-Israel versus Iran.

“Pemerintah mendorong rencana energi terbarukan secara maksimal untuk memulihkan keamanan nasional, stabilitas ekonomi, daya saing, otonomi kebijakan, dan kedaulatan dasar," sebut Steill.

Meski demikian, negara penghasil minyak dan gas masih mempertahankan dan meningkatkan produksi energi fosil. Amerika Serikat, Rusia, hingga beberapa negara Eropa tetap mengandalkan sektor ini demi kepentingan ekonomi ataupun geopolitik.

Selain itu, peralihan menuju energi terbarukan membutuhkan biaya awal yang besar. Negara-negara produsen energi fosil memerlukan dukungan pendanaan untuk beralih ke sektor energi bersih tanpa kehilangan pendapatan utama.

Konferensi Santa Marta tidak secara khusus membahas komitmen pendanaan baru.

Beberapa pilihan pendanaan muncul dalam forum, yakni pengalihan subsidi bahan bakar fosil global yang mencapai sekitar 1,5 triliun dolar AS (Rp 23.250 triliun) per tahun, serta penerapan pajak atas keuntungan besar perusahaan energi.

Negara-negara peserta diharapkan menyusun peta jalan nasional untuk penghapusan bahan bakar fosil sebelum konferensi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Tuvalu awal tahun 2027.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
Pemerintah
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Pemerintah
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
BUMN
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pemerintah
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemerintah
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Pemerintah
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
LSM/Figur
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau