KOMPAS.com - Hampir 60 negara tergabung dalam konferensi yang digelar di Santa Marta, Kolombia untuk membahas peralihan dari energi fosil menjadi energi terbarukan.
Konferensi bertajuk Transisi dari Bahan Bakar Fosil itu menunjuk Kolombia sebagai tuan rumah, dengan puluhan negara lain bertekad untuk melonggarkan cengkeraman negara-negara penghasil minyak terhadap masa depan dunia.
“Ini adalah awal dari demokrasi iklim global yang baru,” ujar Menteri Lingkungan Hidup Kolombia sekaligus ketua konferensi, Irene Velez Torres dilansir dari The Guardian, Sabtu (2/5/2026).
Baca juga: Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT
Pertemuan berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap perubahan iklim dan gejolak harga energi. Diketahui, lonjakan harga minyak dan gas dipicu konflik geopolitik, termasuk serangan AS-Israel terhadap Iran, serta dampak berkepanjangan dari perang Rusia-Ukraina.
Kondisi tersebut menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian global, mulai dari kenaikan biaya energi dan pangan hingga lonjakan inflasi.
Pada akhirnya, banyak negara menyadari bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil membuat mereka terperangkap dalam kekuatan geopolitik yang tak terkendali.
Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol menilai krisis energi saat ini bahkan melampaui gabungan krisis minyak sebelumnya. Ia menyoroti kerentanan sistem energi global yang masih bergantung pada jalur distribusi sempit seperti Selat Hormuz.
Namun, dunia memiliki alternatif energi yang lebih layak seperti pembangkit listrik tenaga angin dan matahari didukung pesatnya teknologi baterai, kendaraan listrik, serta pompa panas. Birol memprediksi krisis energi tersebut akan menjadi titik balik permanen dalam industri energi global.
Baca juga: Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
“Pemerintah akan meninjau strategi energi mereka. Akan ada peningkatan signifikan pada energi terbarukan dan tenaga nuklir serta pergeseran lebih lanjut menuju masa depan yang lebih terlistrik, dan ini akan mengurangi pasar utama untuk minyak," jelas Birol.
Sementara itu, Kepala Urusan Iklim PBB, Simon Stiell menyatakan krisis biaya energi fosil kini menekan ekonomi global dan mendorong pemerintah mempercepat investasi di sektor energi terbarukan.
“Mereka yang selama ini berjuang untuk menjaga dunia tetap bergantung pada bahan bakar fosil secara tidak sengaja justru mempercepat pertumbuhan energi terbarukan global," beber dia.
Berdasarkan analisis lembaga think tank Ember, bauran energi baru terbarukan (EBT) global meningkat menjadi 33,8 persen dibandingkan batu bara sebesar 33 persen. Penggunaan panel surya dan baterai melonjak di Pakistan dan Inggris sejak konflik AS-Israel versus Iran.
“Pemerintah mendorong rencana energi terbarukan secara maksimal untuk memulihkan keamanan nasional, stabilitas ekonomi, daya saing, otonomi kebijakan, dan kedaulatan dasar," sebut Steill.
Meski demikian, negara penghasil minyak dan gas masih mempertahankan dan meningkatkan produksi energi fosil. Amerika Serikat, Rusia, hingga beberapa negara Eropa tetap mengandalkan sektor ini demi kepentingan ekonomi ataupun geopolitik.
Selain itu, peralihan menuju energi terbarukan membutuhkan biaya awal yang besar. Negara-negara produsen energi fosil memerlukan dukungan pendanaan untuk beralih ke sektor energi bersih tanpa kehilangan pendapatan utama.
Konferensi Santa Marta tidak secara khusus membahas komitmen pendanaan baru.
Beberapa pilihan pendanaan muncul dalam forum, yakni pengalihan subsidi bahan bakar fosil global yang mencapai sekitar 1,5 triliun dolar AS (Rp 23.250 triliun) per tahun, serta penerapan pajak atas keuntungan besar perusahaan energi.
Negara-negara peserta diharapkan menyusun peta jalan nasional untuk penghapusan bahan bakar fosil sebelum konferensi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Tuvalu awal tahun 2027.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya