Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jerman Jadi Pengeskpor Sampah Plastik Terbesar di Dunia, Indonesia Tujuan Utamanya

Kompas.com, 4 Mei 2026, 10:38 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Analisis terbaru menyebutkan, Jerman menjadi pengekspor limbah plastik terbesar di dunia pada 2025 dengan total lebih dari 810.000 ton limbah dikirim ke luar negeri.

Disusul Inggris yang mengeskpor lebih dari 675.000 ton sampah, angka tertinggi dalam delapan tahun terakhir menurut Watershed Investigations dan Basel Action Network.

Dilansir dari The Guardian, Senin (4/5/2026), kedua negara mengekspor sebagian besar limbah ke Turki, Malaysia, dan Indonesia. Berdasarkan hasil investigasi, industri daur ulang plastik Inggris dan Jerman berkaitan dengan kerusakan lingkungan, pembuangan dan pembakaran ilegal, serta pelanggaran hak pekerja.

"Pantai Mediterania Turki adalah yang paling tercemar di seluruh wilayah itu akibat limbah plastik dari pabrik daur ulang. Ada sangat banyak mikroplastik, kadang orang bahkan tidak bisa masuk ke laut karena banyaknya sampah," ungkap ahli biologi kelautan Turki, Sedat Gundogdu.

Baca juga: BRIN Ubah Sampah menjadi Bahan Bakar Alternatif Petasol

Di sisi lain, Amerika Serikat dan China dilaporkan mengekspor lebih sedikit limbah plastik lantaran sebagiannya telah dikelola di dalam negeri melalui sistem penimbunan, pembakaran, atau daur ulang.

Negara-negara tersebut juga tidak berada di bawah tekanan target daur ulang yang sama seperti Eropa dan Inggris, di mana ekspor dapat dihitung sebagai bagian dari tingkat daur ulang resmi.

AS berada di urutan kelima sebagai pengekspor sampah terbesar yakni 385.000 ton pada 2025, sementara China berada di posisi ke-18 di tahun 2024.

Sejauh ini, Uni Eropa telah melarang ekspor limbah plastik ke negara yang bukan anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mulai November 2026.

Namun, dikhawatirkan ekspor akan dialihkan ke negara OECD seperti Turki, serta ke beberapa wilayah Eropa Timur yang belum memiliki kapasitas untuk menangani volume sampah lebih besar. Padahal, menurut Gundogdu, infrastruktur pengelolaan limbah Turki sudah kewalahan.

Baca juga: KLH: Beban Sampah Bantargebang 8.000 Ton, Jakarta Wajib Transformasi

"Negara ini menghasilkan 3,3 juta ton limbah plastik domestik, lebih dari dua kali kapasitas daur ulang kami," tutur dia.

Tanggung Jawab Uni Eropa

Anggota Parlemen Eropa European Free Alliance, Sara Matthieu menilai larangan ekspor menandakan Eropa mulai bertanggung jawab atas limbahnya sendiri. Menurut dia, serangan terhadap kebijakan hijau oleh kelompok konservatif dan sayap kanan mengurangi kapasitas daur ulang domestik Uni Eropa hingga 1 juta ton dalam beberapa tahun terakhir.

“Masalah utamanya adalah plastik baru masih jauh lebih murah dibandingkan bahan daur ulang. Kegagalan pasar ini sudah lama diketahui, tetapi Komisi Eropa belum cukup serius menangani akar masalahnya,” jelas Matthieu.

Inggris turut berkomitmen melarang ekspor plastik ke negara non-OECD dalam Environment Act 2021, meski masih dalam tahap konsultasi. Pada 2025, sekitar seperlima ekspor limbah plastik Inggris masih menuju negara non-OECD, dengan pengiriman ke Malaysia meningkat hampir 60 persen sejak 2024.

Alhasil, Inggris memperketat aturan ekspor limbah dan daur ulang termasuk meningkatkan transparansi dan menindak pengiriman ilegal plastik yang tidak dapat didaur ulang. Pengekspor dan pengolah limbah wajib mendaftar serta membuktikan bagaimana limbah ditangani.

Baca juga: Inovasi Ilmuwan, Ubah Sampah Plastik Laut Menjadi Aspal Jalanan

Sistem pelacakan digital yang akan berlaku pada 2026 mengharuskan pencatatan pergerakan limbah secara elektronik. Meski langkah ini disambut baik oleh aktivis lingkungan, mereka menilai kebijakan tersebut belum cukup dan belum menyentuh akar persoalan.

Environmental Investigation Agency, Amy Youngman menyebut limbah akan terus terkirim ke negara OECD seperti Turki jika produksi plastik terus terjadi. Ia memperingatkan Inggris bisa menjadi tujuan limbah plastik dari Uni Eropa.

“Kekhawatiran lain adalah meningkatnya ekspor dari UE ke Inggris, yang kemudian bisa diekspor ulang ke negara ketiga, termasuk negara non-OECD seperti Malaysia. Otoritas berusaha mencegah hal ini, tetapi Inggris membutuhkan perubahan kebijakan yang lebih besar dan menyeluruh," beber Amy.

Merespons hal itu, Juru bicara Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan Inggris menyatakan pihaknya tengah menunjau data terkait pengelolaan limbah plastik di luar negeri untuk memastikan penanganannya tepat.

“Rencana pertumbuhan ekonomi sirkular kami akan menjelaskan bagaimana kami membangun sistem yang lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada ekspor limbah plastik," sebut dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Pemerintah
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pemerintah
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Pemerintah
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau