JAKARTA, KOMPAS.com - Tim peneliti internasional mengidentifikasi sejumlah pertanyaan riset paling mendesak yang hingga kini masih belum terjawab terkait ekosistem gambut dunia. Studi yang dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment tersebut melibatkan 467 partisipan di 54 negara.
Di Indonesia, riset digelar bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Universitas Tanjungpura, Universitas Atmajaya, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Center for International Forestry Research (CIFOR).
“Meski perannya sangat penting, hingga kini dunia masih kekurangan pengetahuan mendasar mengenai bagaimana ekosistem gambut merespons perubahan iklim, bagaimana memulihkannya secara efektif, serta bagaimana melindunginya tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang bergantung pada ekosistem ini,” kata pakar gambut tropis dari Universitas Tanjungpura, Gusti Z Anshari dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Baca juga: 65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
Demi menjawab tantangan tersebut, para peneliti melakukan survei dengan meminta ilmuwan, praktisi, dan pembuat kebijakan mengidentifikasi pertanyaan riset paling mendesak terkait aspek ekologi, hidrologi, dan biogeokimia, serta ilmu iklim dan ilmu sosial.
“Pertanyaan-pertanyaan terpilih mencerminkan beragam kondisi gambut, mulai dari gambut boreal, temperate, hingga tropis, termasuk hutan rawa gambut Asia Tenggara dan tundra Arktik,” beber Gusti.
Isu utama yang diangkat dalam penelitian itu yakni seberapa luas dan bagaimana distribusi gambut global terutama di wilayah yang masih minim pemetaan di mana titik balik ekologis yang menyebabkan gambut berubah dari penyerap menjadi pelepas karbon.
Lainnya, bagaimana pengetahuan ekologi tradisional dan peran masyarakat adat dapat diintegrasikan secara efektif dalam pengelolaan dan restorasi gambut.
Baca juga: Sebagian Besar Emisi Pertanian Dunia Berasal dari Sawah dan Gambut
Studi ini juga menyoroti potensi pemanfaatan teknologi mutakhir, seperti penginderaan jauh dan kecerdasan buatan, untuk memperkuat sistem pemantauan gambut, serta menekankan pentingnya inisiatif global yang mampu mendorong pengelolaan gambut secara adil, inklusif, dan memberdayakan masyarakat lokal.
Indonesia, menjadi salah satu wilayah penting dalam penelitian ini karena memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia.
Melalui survei dan analisis pendapat para ahli gambut dunia, studi menyoroti kesenjangan pengetahuan kritis serta area riset yang berpotensi memberikan dampak terbesar bagi mitigasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan pengelolaan lahan berkelanjutan.
Lahan gambut di dunia hanya mencakup sekitar tiga persen permukaan daratan bumi atau sekitar 400 juta hektare, namun menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan seluruh hutan dunia.
Dalam kondisi sehat dan jenuh air, gambut mampu menyimpan karbon selama ribuan tahun. Namun ketika mengalami drainase, kebakaran, penambangan, atau alih fungsi lahan, karbon dalam gambut cepat melapuk, dan berubah menjadi emisi gas rumah kaca yang sangat besar.
Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim YKAN, Nisa Novita menjelaskan bahwa salah satu pertanyaan besar dalam studi adalah bagaimana cara Indonesia dapat memperkuat dan menjaga keberlanjutan sistem pemantauan gambut.
Tantangan ini sangat krusial mengingat gambut Indonesia sangat rentan terhadap alih fungsi lahan dan kebakaran utamanya pada musim kemarau.
Menurut Nisa, YKAN terus berupaya meningkatkan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) untuk stok karbon dan emisi gas rumah kaca di lahan gambut. Pemantauan emisi jangka panjang dan survei karbon intensif dilakukan khususnya di Kalimantan Barat.
“Kegiatan kami mencakup penggunaan metode closed chamber, pemasangan alat pemantauan fluks gas karbon dengan metode Eddy Covariance, serta restorasi gambut melalui pembangunan sekat kanal, pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis masyarakat, dan penanaman kembali,” papar Nisa.
Ia menegaskan, penguatan MRV menjadi fondasi penting bagi kebijakan terkait gambut yang berbasis sains.
“Data yang kuat dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar restorasi gambut benar-benar berdampak pada penurunan emisi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutur dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya