Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Peneliti Dunia Identifikasi Pertanyaan terkait Riset Ekosistem Gambut

Kompas.com, 4 Mei 2026, 16:39 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tim peneliti internasional mengidentifikasi sejumlah pertanyaan riset paling mendesak yang hingga kini masih belum terjawab terkait ekosistem gambut dunia. Studi yang dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment tersebut melibatkan 467 partisipan di 54 negara.

Di Indonesia, riset digelar bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Universitas Tanjungpura, Universitas Atmajaya, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Center for International Forestry Research (CIFOR).

“Meski perannya sangat penting, hingga kini dunia masih kekurangan pengetahuan mendasar mengenai bagaimana ekosistem gambut merespons perubahan iklim, bagaimana memulihkannya secara efektif, serta bagaimana melindunginya tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat lokal dan masyarakat adat yang bergantung pada ekosistem ini,” kata pakar gambut tropis dari Universitas Tanjungpura, Gusti Z Anshari dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Baca juga: 65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI

Demi menjawab tantangan tersebut, para peneliti melakukan survei dengan meminta ilmuwan, praktisi, dan pembuat kebijakan mengidentifikasi pertanyaan riset paling mendesak terkait aspek ekologi, hidrologi, dan biogeokimia, serta ilmu iklim dan ilmu sosial.

“Pertanyaan-pertanyaan terpilih mencerminkan beragam kondisi gambut, mulai dari gambut boreal, temperate, hingga tropis, termasuk hutan rawa gambut Asia Tenggara dan tundra Arktik,” beber Gusti.

Isu utama yang diangkat dalam penelitian itu yakni seberapa luas dan bagaimana distribusi gambut global terutama di wilayah yang masih minim pemetaan di mana titik balik ekologis yang menyebabkan gambut berubah dari penyerap menjadi pelepas karbon.

Lainnya, bagaimana pengetahuan ekologi tradisional dan peran masyarakat adat dapat diintegrasikan secara efektif dalam pengelolaan dan restorasi gambut.

Baca juga: Sebagian Besar Emisi Pertanian Dunia Berasal dari Sawah dan Gambut

Studi ini juga menyoroti potensi pemanfaatan teknologi mutakhir, seperti penginderaan jauh dan kecerdasan buatan, untuk memperkuat sistem pemantauan gambut, serta menekankan pentingnya inisiatif global yang mampu mendorong pengelolaan gambut secara adil, inklusif, dan memberdayakan masyarakat lokal.

Indonesia, menjadi salah satu wilayah penting dalam penelitian ini karena memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia.

Melalui survei dan analisis pendapat para ahli gambut dunia, studi menyoroti kesenjangan pengetahuan kritis serta area riset yang berpotensi memberikan dampak terbesar bagi mitigasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan pengelolaan lahan berkelanjutan.

Sistem MRV Perkuat Ekosistem Gambut

Lahan gambut di dunia hanya mencakup sekitar tiga persen permukaan daratan bumi atau sekitar 400 juta hektare, namun menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan seluruh hutan dunia.

Dalam kondisi sehat dan jenuh air, gambut mampu menyimpan karbon selama ribuan tahun. Namun ketika mengalami drainase, kebakaran, penambangan, atau alih fungsi lahan, karbon dalam gambut cepat melapuk, dan berubah menjadi emisi gas rumah kaca yang sangat besar.

Senior Manager Karbon Kehutanan dan Iklim YKAN, Nisa Novita menjelaskan bahwa salah satu pertanyaan besar dalam studi adalah bagaimana cara Indonesia dapat memperkuat dan menjaga keberlanjutan sistem pemantauan gambut.

Tantangan ini sangat krusial mengingat gambut Indonesia sangat rentan terhadap alih fungsi lahan dan kebakaran utamanya pada musim kemarau.

Menurut Nisa, YKAN terus berupaya meningkatkan sistem pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) untuk stok karbon dan emisi gas rumah kaca di lahan gambut. Pemantauan emisi jangka panjang dan survei karbon intensif dilakukan khususnya di Kalimantan Barat.

“Kegiatan kami mencakup penggunaan metode closed chamber, pemasangan alat pemantauan fluks gas karbon dengan metode Eddy Covariance, serta restorasi gambut melalui pembangunan sekat kanal, pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis masyarakat, dan penanaman kembali,” papar Nisa.

Ia menegaskan, penguatan MRV menjadi fondasi penting bagi kebijakan terkait gambut yang berbasis sains.

“Data yang kuat dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar restorasi gambut benar-benar berdampak pada penurunan emisi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutur dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Pemerintah
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pemerintah
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Pemerintah
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau