Laut Aral bukan kasus terisolasi, mengingat danau-danau menyusut terjadi di seluruh dunia, dengan degradasi akibat krisis iklim, polusi, dan pengambilan air secara berlebihan. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperingatkan, penurunan permukaan air di ratusan danau di seluruh dunia akan mempengaruhi puluhan juta orang.
Pengambilan air secara berlebihan tetap menjadi salah satu pendorong paling signifikan dari penurunan kualitas danau, dengan Laut Aral secara luas dianggap sebagai contoh paling mencolok.
Baca juga: Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
Di sisi lain, krisis iklim meningkatkan penguapan dan mengubah pola curah hujan, serta memperburuk ketidakstabilan sistem air yang sudah rapuh. Polusi dari sumber-sumber seperti kota, pertanian, dan pabrik juga merusak kualitas air.
Kendati demikian, kebijakan terkoordinasi di tingkat DAS dan sistem pemantauan yang lebih kuat untuk mencegah keruntuhan lingkungan sebelum mencapai tingkat kritis dapat menjadi solusi.
“Kabar baiknya adalah kita memiliki pengetahuan dan teknologi untuk membalikkan situasi ini. Yang benar-benar kita butuhkan adalah kemauan untuk mulai memperlakukan semua danau kita seperti sumber daya berharga sebagaimana mestinya," tutur Dianna Kopansky dari program ekosistem air tawar UNEP pada tahun 2025.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya