Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air

Kompas.com, 5 Mei 2026, 13:07 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laut Aral, yang dulunya menjadi danau terbesar ke-4 di dunia, kini menyusut kurang dari sepersepuluh ukurannya usai pengalihan aliran sungai pada era Soviet.

Dikutip dari aa.com, Selasa (5/5/2026), danau tersebut menyisakan kapal-kapal berkarat, pelabuhan-pelabuhan terbengkalai, dan gurun beracun tertutup garam.

Program Pembangunan PBB (United Nations Development Programme UNDP) atau Program Pembangunan PBB menggambarkan situasi di Laut Aral sebagai bencana paling mengerikan di abad ke-20.

Dahulu, Laut Aral menyediakan sekitar seperenam dari seluruh ikan yang dikonsumsi di Uni Soviet. Namun, secara bertahap terpecah menjadi badan air yang terisolasi, dengan dasar lautnya yang terbuka telah berubah menjadi gurun termuda di dunia, Gurun Aralkum.

Baca juga: Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air

Krisis bermula pada tahun 1960-an, ketika para perencana Soviet mengalihkan aliran sungai Amu Darya dan Syr Darya untuk mengairi ladang kapas di seluruh wilayah tersebut. Tanpa sungai-sungai itu, penguapan alami laut tidak lagi diimbangi, dan permukaan air mulai menurun secara terus-menerus.

Pemulihan Laut Aral

Meski mayoritas Laut Aral telah hilang, bagian utaranya di Kazakhstan mengalami pemulihan untuk sebagian. Laut Aral Utara dipisahkan dari cekungan selatan oleh Bendungan Kokaral, yang selesai dibangun pada tahun 2005 dengan dukungan Bank Dunia, telah mengalami peningkatan permukaan air dan kembalinya stok ikan.

Presiden Asosiasi Publik Aral Oasis dan anggota Dewan Pusat Lingkungan Regional untuk Asia Tengah, Zauresh Alimbetova mengatakan, restorasi sebagian Laut Aral Utara telah secara signifikan meningkatkan kondisi sosial-ekonomi.

“Lapangan kerja baru tercipta, dan orang-orang mulai kembali ke daerah penangkapan ikan tradisional mereka setelah banyak yang sebelumnya pergi. Ini membawa harapan untuk masa depan," ujar Alimbetova, dilansir dari Anadolu Ajansi.

Baca juga: Air Tanah di Wilayah Pesisir Global Kian Menipis

Selain itu, penanaman pohon saxaul di seluruh dasar danau Laut Aral yang terbuka juga telah membantu menstabilkan tanah, serta mengurangi badai debu beracun yang membawa garam dan bahan kimia pertanian.

Proyek bersama antara Kazakhstan dan Bank Dunia untuk meninggikan Bendungan Kokaral sebesar dua meter (6,5 kaki) diproyeksikan bisa meningkatkan volume Laut Aral Utara dari 27 menjadi 34 kilometer kubik (6,4 hingga 8,1 mil kubik) dalam waktu empat hingga lima tahun.

“Bagi kami, sebagai penduduk wilayah ini, hal terpenting adalah pengembangan perikanan dan pengurangan pengangguran, sehingga masyarakat dapat terus tinggal di daerah asal mereka,” tutur Alimbetova, seraya mencatat bahwa banyak keluarga nelayan terpaksa pindah untuk mencari pekerjaan setelah runtuhnya Uni Soviet.

Di tengah krisis lingkungan berkepanjangan ini, para pemimpin Asia Tengah berkumpul pekan lalu di ibu kota Kazakhstan, Astana, untuk membahas cara mengelola sumber daya air bersama demi mencegah kerusakan lebih lanjut.

Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev memperingatkan, risiko lingkungan lebih cepat ketimbang upaya mitigasi, meski telah ada kemajuan dalam memulihkan sebagian ekosistem.

“Konsumsi air terus meningkat. Lebih dari 80% dari seluruh sumber daya air digunakan di bidang pertanian, sementara kehilangan air dalam sistem irigasi masih sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan solusi yang terkoordinasi dan jangka panjang,” ujar Tokayev.

Di dalam pertemuan yang dihadiri presiden Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan, Tokayev menyerukan air sebagai isu bersama yang mendesak bagi negara-negara Asia Tengah dan mengusulkan untuk membentuk konvensi regional tentang pengelolaan air.

Laut Aral contoh paling mencolok

Laut Aral bukan kasus terisolasi, mengingat danau-danau menyusut terjadi di seluruh dunia, dengan degradasi akibat krisis iklim, polusi, dan pengambilan air secara berlebihan. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperingatkan, penurunan permukaan air di ratusan danau di seluruh dunia akan mempengaruhi puluhan juta orang.

Pengambilan air secara berlebihan tetap menjadi salah satu pendorong paling signifikan dari penurunan kualitas danau, dengan Laut Aral secara luas dianggap sebagai contoh paling mencolok.

Baca juga: Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel

Di sisi lain, krisis iklim meningkatkan penguapan dan mengubah pola curah hujan, serta memperburuk ketidakstabilan sistem air yang sudah rapuh. Polusi dari sumber-sumber seperti kota, pertanian, dan pabrik juga merusak kualitas air.

Kendati demikian, kebijakan terkoordinasi di tingkat DAS dan sistem pemantauan yang lebih kuat untuk mencegah keruntuhan lingkungan sebelum mencapai tingkat kritis dapat menjadi solusi.

“Kabar baiknya adalah kita memiliki pengetahuan dan teknologi untuk membalikkan situasi ini. Yang benar-benar kita butuhkan adalah kemauan untuk mulai memperlakukan semua danau kita seperti sumber daya berharga sebagaimana mestinya," tutur Dianna Kopansky dari program ekosistem air tawar UNEP pada tahun 2025.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau