Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Air Tanah di Wilayah Pesisir Global Kian Menipis

Kompas.com, 17 April 2026, 15:25 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Air tanah yang tersimpan di dekat garis pantai dunia menjadi sumber air minum bagi banyak orang. Namun sebuah studi baru menunjukkan bahwa sumber daya tersebut semakin terancam.

Banyak wilayah pesisir mengalami perubahan besar pada permukaan air tanahnya, yang bisa menyebabkan air laut masuk ke daratan dan mencemari cadangan air bersih.

Melansir Earth, Rabu (15/4/2026) temuan ini berasal dari tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Robert Reinecke dan Annika Nolte dari Jerman.

Menurut para peneliti, gabungan antara penyedotan air tanah yang berlebihan dan naiknya permukaan air laut menciptakan situasi berbahaya bagi wilayah pesisir di seluruh dunia.

"Antara tahun 1990 dan 2024, lebih dari 20 persen wilayah pesisir yang kami teliti menunjukkan perubahan besar pada level air tanahnya. Di beberapa tempat, permukaan air tanah turun lebih dari 50 sentimeter setiap tahunnya,” kata Reinecke.

“Hal ini menunjukkan adanya pengambilan air yang berlebihan. Akibatnya, air laut bisa masuk ke daratan dan menyebabkan air tanah menjadi asin (salinisasi)," terangnya.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Ancam Kualitas Air Tanah

Pemetaan air tanah pesisir di seluruh dunia

Dalam studinya, peneliti mengumpulkan informasi dari sekitar 480.000 sumur di berbagai negara. Ini adalah kumpulan data pengukuran air tanah pesisir terbesar di dunia sejauh ini. Dengan data yang luas ini, tim peneliti bisa membandingkan kondisi air tanah di berbagai wilayah yang berbeda secara akurat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa permukaan air tanah tidak berubah dengan cara yang sama di semua tempat. Di beberapa lokasi, permukaannya naik, sementara di lokasi lain justru turun.

Namun, secara keseluruhan, polanya menjadi lebih mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Para peneliti menemukan bahwa sejak 2016, penurunan air tanah telah terjadi di wilayah yang semakin luas.

Penurunan paling parah terutama terlihat di sepanjang pantai Amerika Serikat dan Amerika Tengah, di sekitar Laut Tengah, di Afrika Selatan, India, dan Australia bagian selatan.

Di tempat-tempat inilah tanda-tanda bahaya sudah terlihat sangat jelas. Kekhawatirannya bukan hanya karena permukaan air tanah yang berubah, tetapi juga dampak buruk yang bisa dipicu oleh perubahan tersebut.

Ketika permukaan air tawar turun terlalu rendah, keseimbangan antara air tanah dan air laut menjadi mudah terganggu. Dalam kondisi tersebut, air asin dapat mulai masuk ke dalam cadangan air tawar di bawah tanah.

Studi ini menjelaskan bahwa interaksi ini sangat serius karena didorong oleh dua kekuatan sekaligus.

Penyedotan air tanah secara besar-besaran memperlemah sistem dari satu sisi, sementara perubahan iklim melalui naiknya permukaan laut menambah tekanan dari sisi lainnya.

Para peneliti juga melihat wilayah pesisir mana saja yang paling rentan terhadap masuknya air laut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Pemerintah
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
LSM/Figur
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
LSM/Figur
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Pemerintah
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
Pemerintah
Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam
Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam
Pemerintah
Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
LSM/Figur
Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik
Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik
Pemerintah
Potensi Lobster RI Melimpah, tapi Teknologi hingga Infrastruktur Belum Memadai
Potensi Lobster RI Melimpah, tapi Teknologi hingga Infrastruktur Belum Memadai
Pemerintah
Mengapa Benua Eropa Mengalami Pemanasan Paling Cepat di Dunia?
Mengapa Benua Eropa Mengalami Pemanasan Paling Cepat di Dunia?
Pemerintah
Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Pemerintah
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
LSM/Figur
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
BUMN
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau