Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air

Kompas.com, 21 April 2026, 18:38 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber trellis

KOMPAS.com - GlobeScan menemukan bahwa selain ingin perusahaan mengelola penggunaan air dengan benar, masyarakat juga berharap perusahaan besar menggunakan pengaruhnya untuk mendukung perlindungan kualitas air yang lebih ketat.

Hal ini sejalan dengan temuan terbaru bahwa polusi air dianggap sebagai masalah lingkungan paling serius di dunia menurut konsumen.

Melansir Trellis, Senin (20/4/2026) secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan besarnya kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas air. Konsumen memiliki harapan tinggi agar perusahaan segera bertindak, seiring dengan makin pentingnya isu air dalam agenda kebijakan global dan dunia bisnis.

Baca juga: Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia

Secara global, hampir semua konsumen di setiap wilayah setuju bahwa perusahaan besar bertanggung jawab mendorong pemerintah untuk lebih melindungi air.

Di Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia-Pasifik, hampir 9 dari 10 konsumen berpendapat bahwa perusahaan harus mendesak pemerintah untuk bertindak.

Hal ini dikarenakan wilayah-wilayah tersebut sering mengalami kelangkaan air, air yang tidak aman, dan polusi, yang menjadi ancaman langsung bagi kesehatan, ketersediaan pangan, dan mata pencaharian mereka.

Di Eropa dan Amerika Utara, dukungan terhadap hal tersebut juga kuat meski sedikit lebih rendah. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa konsumen di negara-negara kaya merasa lebih aman karena memiliki infrastruktur dan aturan yang lebih baik, walaupun mereka tetap mengakui pentingnya masalah air.

Yang terpenting, konsumen di semua wilayah menyadari bahwa masalah air adalah masalah besar yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Perusahaan besar dianggap sebagai pihak berpengaruh yang memiliki kemampuan serta tanggung jawab untuk mendorong perlindungan yang lebih kuat ketika sistem pemerintah dirasa kurang maksimal.

Baca juga: Venesia Terancam akan Direlokasi Akibat Kenaikan Air Laut

Temuan ini menunjukkan adanya dukungan sosial yang kuat bagi perusahaan untuk menyuarakan perlindungan air.

Bagi bisnis, ini membawa peluang sekaligus risiko. Jika perusahaan hanya diam atau cuma fokus pada penghematan air di internal mereka, konsumen mungkin akan merasa kecewa, terutama di daerah yang krisis airnya sangat terlihat.

Dengan mendorong perlindungan publik yang lebih kuat, perusahaan bisa menunjukkan tanggung jawab bersama sesuai harapan konsumen. Hal tersebut akan memperkuat kepercayaan dan kredibilitas perusahaan, mengingat isu air kini menjadi bagian terpenting dalam keberlanjutan lingkungan.

sumber https://trellis.net/article/consumers-expect-companies-to-advocate-for-stronger-water-protection-policies/

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Pemerintah
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
LSM/Figur
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Pemerintah
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
LSM/Figur
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Pemerintah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Swasta
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Pemerintah
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
LSM/Figur
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
LSM/Figur
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
Swasta
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Pemerintah
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau