JAKARTA, KOMPAS.com - PT The Siam Cement Group (SCG) Indonesia terus mencari cara untuk menekan emisi gas rumah kaca (GRK) dari proses produksi semen yang dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi terbesar di sektor industri.
"Kami sedang berusaha mengecilkan karbon di proses produksi semen. Sekarang masih proses, tetapi sudah banyak karbon dari proses produksi semen yang bisa kami kurangi," ujar President Director PT SCG Indonesia, Pattaraphon Charttongkum di Jakarta, Senin (24/11/2025).
Upaya dekarbonisasi tersebut dilakukan melalui penggunaan energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus menekan emisi proses produksi.
Sejak 2021, PT Semen Jawa—anak usaha SCG Indonesia—telah memanfaatkan biomassa sekam padi untuk mengurangi konsumsi batu bara hingga 30 persen. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi perusahaan untuk memproduksi semen rendah karbon.
Perusahaan juga memperbesar porsi energi alternatif dengan mengonversi sampah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF). Pada Juli 2025, PT Semen Jawa membangun fasilitas RDF di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cimenteng, Kabupaten Sukabumi, dengan investasi Rp 110 miliar. Kapasitasnya kini mampu menampung dua kali lipat volume sampah harian Kabupaten Sukabumi yang mencapai 200 ton per hari.
Baca juga: Dari Norwegia ke India, Industri Semen Tangkap Karbon untuk Jawab Tantangan Iklim
Untuk mengoptimalkan pemanfaatan RDF, PT Semen Jawa menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur serta mengincar sejumlah TPA lain di Jawa Barat yang berlokasi dalam radius 10–15 kilometer dari pabriknya.
"Kami sekarang sedang menjajaki dengan (pemerintah) Kabupaten Cianjur dan mudah-mudahan dalam waktu dekat ini (sudah ada kesepakatan). Kami juga sudah beberapa kali presentasi. Kami punya kesempatan," tutur Government Liason dan Community Relation Manager PT Semen Jawa, Indra Leksono.
Fasilitas RDF mampu mengolah beragam jenis sampah, termasuk cacahan kayu, serbuk gergaji, hingga limbah pabrik sepatu. PT Semen Jawa bekerja sama dengan sejumlah pabrik sepatu untuk mengolah limbah seperti rubber, foam, dan sol offcut menjadi bahan bakar alternatif.
Selain energi alternatif, perusahaan juga menekan emisi dengan mengurangi kandungan klinker dalam produksi semen. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan uap silika—residu dari produksi silikon—serta abu terbang atau fly ash yang merupakan produk sampingan dari pembakaran batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). PLTU Palabuhanratu, misalnya, pernah mengirim 450 ton fly ash untuk diolah PT Semen Jawa.
Untuk memastikan proses pencampuran fly ash dan uap silika berlangsung aman, perusahaan memasang teknologi Bag Filter. Fasilitas ini memastikan partikulat debu tersaring dan tercampur sempurna selama proses pembakaran pada produksi semen.
Seluruh fasilitas penunjang produksi semen tersebut telah mengantongi izin pengelolaan sampah dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Pemerintah, termasuk dinas lingkungan hidup tingkat kabupaten, rutin mengawasi prosesnya—mulai dari penggunaan fasilitas hingga tingkat emisi GRK yang dihasilkan.
"Tentunya pengawasan dari pemerintah, dalam hal ini kementerian, (bahkan) dari tingkat kabupaten saja, Dinas Lingkungan Hidup (juga ikut) mengawasi dan kami melaporkan secara rutin, bagaimana emisi yang keluar. Semuanya itu terkait dengan aturan," ucapnya.
Baca juga: China Terapkan Standar Energi Terbarukan Pertama untuk Sektor Baja dan Semen
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya