KOMPAS.com - Logam berat pada sedimen Sungai Ciliwung yang disedot ikan sapu-sapu terakumulasi di dalam tubuh ikan dan bisa berpindah ke manusia melalui mekanisme rantai makanan.
Dari sedikitnya 57 jenis yang ditemukan dalam daging ikan sapu-sapu, sebanyak tiga di antaranya logam berat berbahaya, yaitu kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan timbal (Pb).
Dosen Fakutas Sains dan Teknologi Universitas Al-Azhar Indonesia, Dewi Elfidasari mengungkapkan, temuan risetnya menunjukkan konsentrasi Cd, Hg, dan Pb dalam daging ikan sapu-sapu secara konsisten naik selama periode tahun 2015-2018.
Baca juga: Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
Hilir Sungai Ciliwung (Jakarta) menjadi kawasan dengan temuan kandungan logam berat berbahaya tertinggi dalam daging ikan sapu-sapu dibandingkan tengah (Depok) dan hulu (Bogor).
Kandungan Cd dalam daging ikan sapu-sapu di Jakarta pada riset tahun 2018 mencapai 0,68 ppm atau melebihi batas aman konsumsi menurut BSN 2009 sekitar 0,05 ppm, sedangkan kandungan Hg sebesar 1,12 ppm dan Pb 3,67 ppm atau juga melebihi batas aman konsumsi dengan masing-masing 0,50 ppm dan 0,30 ppm.
"Tentu, sangat berisiko bila dikonsumsi. Ketika sungai tercemar oleh logam berat Cd, Pb, Hg yang berasal dari baik limbah domestik rumah tangga maupun limbah industri yang langsung dibuang ke sungai ya, maka logam-logam itu akan mengendap di dalam sedimen, yang kemudian akan diserap oleh biota perairan, termasuk ikan sapu-sapu ya," ujar Dewi dalam webinar, Kamis (7/5/2026).
Namun, insang menjadi organ tubuh ikan sapu-sapu yang mengandung logam berat berbahaya. Selain daging dan insang, cemaran logam juga mengendap dalam tulang, hati, ginjal, serta organ ikan sapu-sapu lainnya.
Ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung banyak dimanfaatkan oleh penjual makanan untuk dijadikan sebagai bahan baku siomay, bakso ikan, abon, otak-otak, dan kerupuk.
"Ternyata, hasil penelitian sebeleumnya menginformasikan bahwa ikan sapu-sapu dijadikan sebagai bahan baku siomay, bakso, abon, otak-otak, bahkan kerupuk. Terakhir tuh 2019 ya, informasinya dibawa ke Cikarang, ke pabrik kerupuk, tapi itu yang belum sempat terlacak," ucapnya.
Dewi pernah mencoba untuk membuat produk olahan makanan dengan menggunakan daging ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung dan meneliti kandungan logam berat berbahaya di dalamnnya.
Hasilnya, abon, siomay, dan tepung tulang dari ikan sapu-sapu masih mengandung logam berat berbahaya yang melebihi ambang batas SNI Produk Perikanan.
Baca juga: Gubes IPB Sebut Ikan Sapu-sapu Bisa Jadi Pupuk Tanaman Hias
"Tepung tulang ikan ini kami dengan menggunakan tulang kepala, tulang ekor, tulang badan dan menguji perbandingannya ya dan hasilnya sama bahwa logam berat yang tertinggi adalah Pb," tutur Dewi.
Dampak mengonsumsi daging atau organ tubuh lain ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung tidak dalam jangka pendek. Kandungan logam yang terakumulasi dalam ikan sapu-sapu akan berpindah ke tubuh manusia dan pertandanya tidak instan usai memakannya.
"Tidak langsung pingsan, pusing, atau muntah-muntah karena kadar logamnya yang masuk pun tadi meskipun di ambang batas kelayakan atau keamanan manusia, tubuh manusia masih bisa menetralisir masuk ke dalam dan kemudian dampaknya akumulasi. Itu yang harus kita jaga jangan sampai terakumulasi di dalam organ-organ. Kalau di dalam ginjal nanti akan mempengaruhi fungsi ginjal. Kalau di dalam hati juga demikian karena itu tempat terkumpulnya residu-residu dari logam berat," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya