Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang

Kompas.com, 7 Mei 2026, 17:17 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Logam berat pada sedimen Sungai Ciliwung yang disedot ikan sapu-sapu terakumulasi di dalam tubuh ikan dan bisa berpindah ke manusia melalui mekanisme rantai makanan.

Dari sedikitnya 57 jenis yang ditemukan dalam daging ikan sapu-sapu, sebanyak tiga di antaranya logam berat berbahaya, yaitu kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan timbal (Pb).

Dosen Fakutas Sains dan Teknologi Universitas Al-Azhar Indonesia, Dewi Elfidasari mengungkapkan, temuan risetnya menunjukkan konsentrasi Cd, Hg, dan Pb dalam daging ikan sapu-sapu secara konsisten naik selama periode tahun 2015-2018.

Baca juga: Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah

Hilir Sungai Ciliwung (Jakarta) menjadi kawasan dengan temuan kandungan logam berat berbahaya tertinggi dalam daging ikan sapu-sapu dibandingkan tengah (Depok) dan hulu (Bogor).

Kandungan Cd dalam daging ikan sapu-sapu di Jakarta pada riset tahun 2018 mencapai 0,68 ppm atau melebihi batas aman konsumsi menurut BSN 2009 sekitar 0,05 ppm, sedangkan kandungan Hg sebesar 1,12 ppm dan Pb 3,67 ppm atau juga melebihi batas aman konsumsi dengan masing-masing 0,50 ppm dan 0,30 ppm.

"Tentu, sangat berisiko bila dikonsumsi. Ketika sungai tercemar oleh logam berat Cd, Pb, Hg yang berasal dari baik limbah domestik rumah tangga maupun limbah industri yang langsung dibuang ke sungai ya, maka logam-logam itu akan mengendap di dalam sedimen, yang kemudian akan diserap oleh biota perairan, termasuk ikan sapu-sapu ya," ujar Dewi dalam webinar, Kamis (7/5/2026).

Namun, insang menjadi organ tubuh ikan sapu-sapu yang mengandung logam berat berbahaya. Selain daging dan insang, cemaran logam juga mengendap dalam tulang, hati, ginjal, serta organ ikan sapu-sapu lainnya.

Bahaya olahan dari daging sapu-sapu

Ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung banyak dimanfaatkan oleh penjual makanan untuk dijadikan sebagai bahan baku siomay, bakso ikan, abon, otak-otak, dan kerupuk.

"Ternyata, hasil penelitian sebeleumnya menginformasikan bahwa ikan sapu-sapu dijadikan sebagai bahan baku siomay, bakso, abon, otak-otak, bahkan kerupuk. Terakhir tuh 2019 ya, informasinya dibawa ke Cikarang, ke pabrik kerupuk, tapi itu yang belum sempat terlacak," ucapnya.

Dewi pernah mencoba untuk membuat produk olahan makanan dengan menggunakan daging ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung dan meneliti kandungan logam berat berbahaya di dalamnnya.

Hasilnya, abon, siomay, dan tepung tulang dari ikan sapu-sapu masih mengandung logam berat berbahaya yang melebihi ambang batas SNI Produk Perikanan.

Baca juga: Gubes IPB Sebut Ikan Sapu-sapu Bisa Jadi Pupuk Tanaman Hias

"Tepung tulang ikan ini kami dengan menggunakan tulang kepala, tulang ekor, tulang badan dan menguji perbandingannya ya dan hasilnya sama bahwa logam berat yang tertinggi adalah Pb," tutur Dewi.

Dampak mengonsumsi daging atau organ tubuh lain ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung tidak dalam jangka pendek. Kandungan logam yang terakumulasi dalam ikan sapu-sapu akan berpindah ke tubuh manusia dan pertandanya tidak instan usai memakannya.

"Tidak langsung pingsan, pusing, atau muntah-muntah karena kadar logamnya yang masuk pun tadi meskipun di ambang batas kelayakan atau keamanan manusia, tubuh manusia masih bisa menetralisir masuk ke dalam dan kemudian dampaknya akumulasi. Itu yang harus kita jaga jangan sampai terakumulasi di dalam organ-organ. Kalau di dalam ginjal nanti akan mempengaruhi fungsi ginjal. Kalau di dalam hati juga demikian karena itu tempat terkumpulnya residu-residu dari logam berat," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
LSM/Figur
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
Pemerintah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
LSM/Figur
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Pemerintah
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
LSM/Figur
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
LSM/Figur
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
Pemerintah
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
LSM/Figur
Hilirisasi Nikel Disebut Belum Dorong Penguatan SDM dan Industri Lokal
Hilirisasi Nikel Disebut Belum Dorong Penguatan SDM dan Industri Lokal
LSM/Figur
Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia
Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia
Pemerintah
BMKG Prediksi Jakarta Masuk Musim Kemarau Akhir Mei 2026
BMKG Prediksi Jakarta Masuk Musim Kemarau Akhir Mei 2026
Pemerintah
Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan
Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan
Swasta
Kalbe Gelar Pemeriksaan Gratis untuk Mata dan Diabetes di Kendari
Kalbe Gelar Pemeriksaan Gratis untuk Mata dan Diabetes di Kendari
Swasta
Menhut Sebut Angka Karhutla Turun karena Pencegahan Dini hingga Sanksi Pidana
Menhut Sebut Angka Karhutla Turun karena Pencegahan Dini hingga Sanksi Pidana
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau