Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2

Kompas.com, 7 Mei 2026, 11:46 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Limbah kulit kayu eucalyptus dapat dimanfaatkan untuk membantu membersihkan air yang tercemar, menyaring udara kotor, dan menangkap karbon dioksida (CO2).

Studi terbaru dari Universitas Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) mengungkapkan, limbah kulit kayu eucalyptus bisa diubah menjadi material karbon yang sangat berpori untuk memerangkap polutan saat air atau udara mengalir melewatinya.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Biomass and Bioenergy ini menunjukkan cara praktik mengubah produk sampingan kehutanan menjadi material lingkungan yang bermanfaat dengan memakai metode pemrosesan relatif sederhana.

Baca juga: Segudang Manfaat Daun Eucalyptus, Apa Saja Khasiatnya?

Sebenarnya, material karbon berpori sudah banyak dipakai sebagai filter air, pembersih udara, dan sistem pengolahan gas industri, dengan efektivitasnya berasal dari strukturnya, bukan asal sumber bahannya.

Bahan dari material karbon yang mengandung jaringan pori-pori mikroskopis dapat memerangkap molekul-molekul tidak diingin saat udara ataau air melintasinya.

"Biasanya biomassa dianggap sebagai limbah bernilai rendah, tetapi dengan proses sederhana kami mampu mengubahnya menjadi material berpori tinggi dengan kinerja adsorpsi yang kuat. Ini menunjukkan bagaimana biomassa yang selama ini diabaikan dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat," ujar peneliti yang memimpin studi tersebut, Pallavi Saini, dilansir dari Phys, Kamis (7/5/2026).

Pemanfaatan material karbon berbasis limbah tanaman dari pertanian, kehutanan, dan industri memang sedang dipelajari di seluruh dunia.

Kinerja tak terduga

Bahan untuk material karbon biasanya dinilai berdasarkan ketersediaan, keberlanjutan, kompleksitas pengolahan, dan kinerja. Limbah kulit kayu eucalyptus menunjukkan kinerja yang tidak terduga, dengan hasil baik pada beberapa ukurannya, meski pendekatannya sederhana.

Padahal, pengaplikasian material karbon dengan sumber biomassa lain masih perlu diproduksi melalui jalur multi-tahap yang lebih kompleks, dengan energi dan infrastruktur tambahan.

"Kami mengubah bahan limbah yang tersedia secara luas menjadi karbon fungsional dengan kinerja yang menjanjikan, tanpa bergantung pada langkah-langkah pemrosesan yang rumit. Hal ini menjadikannya sangat relevan untuk aplikasi lingkungan di dunia nyata," tutur salah satu peneliti, Deshetti Jampaiah.

Australia menjadi rumah bagi lebih dari 900 spesies pohon eucalyptus, sehingga para peneliti berencana bekerja sama dengan masyarakat adat dan organisasi berpengalaman untuk membantu mengidentifikasi yang paling cocok.

Baca juga: Perbedaan Eucalyptus dengan Kayu Putih, Kenali Ciri-cirinya

Ada potensi untuk lebih mengoptimalkan material karbon itu dengan memahami karakteristik kimia dan struktural spesifik spesies melalui bantuan analisis ilmiah serta pengetahuan ekologis yang telah lama ada.

Penggunaan kulit kayu eucalyptus tidak bersaing dengan produksi pangan, karena berasal dari kegiatan kehutanan. Bahkan, pemanfaatan kulit kayu eucalyptus selaras dengan tujuan ekonomi sirkular dan pengurangan limbah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan
Pemerintah Bakal Terbitkan Inpres Perlindungan Gajah Demi Cegah Kepunahan
Pemerintah
Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Imbas Cuaca Panas, Produksi Susu Merosot dan Kurang Bergizi
Pemerintah
BRIN Identfikasi Spesies Baru Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah
BRIN Identfikasi Spesies Baru Rhododendron yombuwurii di Sulawesi Tengah
Pemerintah
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
LSM/Figur
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Pemerintah
Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Pemerintah
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
LSM/Figur
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Pemerintah
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Pemerintah
'Langkah Membumi', Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
"Langkah Membumi", Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Swasta
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
LSM/Figur
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Pemerintah
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
LSM/Figur
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau