Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah

Kompas.com, 7 Mei 2026, 16:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sungai Ciliwung mengalami degradasi ekosistem sistemik yang menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup (D3TLH) secara ilmiah.

Urbanisasi dan kebiasaan menjadikan Sungai Ciliwung sebagai tempat pembuangan limbah domestik mendorongnya melampaui D3TLH-nya, sehingga tidak berfungsi sebagai ekosistem.

"(Sungai) Ciliwung itu ibaratnya tempat pembuangan sampah, ada limbah limbah domestik, limbah, bahkan mmm limbah rumah sakit. Kami pernah menemukan mmm sisa bekas-bekas sampah-sampah jarum suntik, bekas infus, alat bedah di sungai ini (selama mengikuti program Ciliwung Bersih tahun 2015 lalu)," ujar Dosen Fakutas Sains dan Teknologi Universitas Al-Azhar Indonesia, Dewi Elfidasari dalam webinar, Kamis (7/5/2026).

Baca juga: Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia

Limbah industri dengan berbagai kandungan logamnya menjadi sumber pencemaran Sungai Ciliwung paling berbahaya. Berdasarkan penelitian terhadap ikan sapu-sapu yang ditangkap pada 2015, ditemukan 57 jenis logam dalam dagingnya.

Dari total tersebut, sebanyak tiga di antaranya logam berat berbahaya, yaitu kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan timbal (Pb). Logam-logam tersebut terakumulasi di dalam sedimen Sungai Ciliwung dan konsentrasinya di dalam tubuh ikan sapu-sapu terus meningkat selama periode tahun 2015-2018.

Ikan sapu-sapu merupakan bioindikator biologis untuk ekosistem yang rusak. Ikan ini akan mendominasi sungai yang tercemar dan berkontribusi dalam penurunan populasi maupun keragaman jenis ikan. Invasivitas ikan sapu-sapu semakin menguat dalam kondisi ekstrem.

"Riset dari kami mengindentifikasi beberapa gen, termasuk HSP (Heat Shock Protein, salah satu pengontrol stres pada ikan sapu-sapu) yang menunjukkan hasil bahwa semakin stres, kemampuan (ikan sapu-sapu) menyerap logamnya semakin tinggi," tutur Dewi.

Berdasarkan hasil identifikasi pertama keragaman spesies di Sungai Ciliwung pada 1910, sapu-sapu menjadi salah satu dari 187 jenis ikan yang terdeteksi. Faktor biologi morfologi memungkinkan ikan sapu-sapu dapat beradaptasi di Sungai Ciliwung.

Pertama, mulut penghisap yang berada di bagian bawah kepala, dengan fungsi menempel pada batu, kayu, atau substrat sungai. Mulut penghisap memudahkan ikan sapu-sapu mencari makan, seperti alga dan detritus, meski arus deras atau air keruh.

Kedua, tubuh berlapis sisik keras yang melindungi ikan sapu-sapu dari predator. Sisik keras membuat ikan sapu-sapu lebih tahan terhadap benturan dan kondisi lingkungan ekstrem.

"Siripnya yang keras dan besar membuatny menjadi penguasa di kawasan perairan tawar," ucapnya.

Ketiga, bentuk kepala pipih yang memudahkan ikan sapu-sapu menempel di dasar sungai, serta efisien untuk hidup di perairan dangkal dan berlumpur.

Keempat, labirin pernapasan dengan struktur tambahan pada saluran respirasi yang memungkinkan ikan sapu-sapu bernapas dalam air berkadar oksigen rendah. Ini adalah keunggulan utama ikan sapu-sapu dibandingkan spesies lokal yang lebih membutuhkan air bersih.

"Ada insang dan ada labirin yang memberi kemampuan untuk hidup diperairan berkadar oksigen minim, bahkan ikan sapu-sapu yang dibiarkan saja di darat enggak akan mati dan setelah dimasukkan ke air, hidup kembali, karena mempunyai organ labirin saluran pernapasan tambahan," ujar Dewi.

Baca juga: Kenapa Sungai di Jakarta Jadi Tempat Sempurna bagi Perkembangan Ikan Sapu-Sapu?

Kelima, ikan sapu-sapu memiliki usus 5,9 kali lebih panjang dari tubuhnya. Ini memungkinkan ikan sapu-sapu adaptasi herbivora untuk mencerna alga dan bahan organik. Jadi, ikan sapu-sapu bisa memanfaatkan sumber makanan yang melimpah di sungai yang tercemar.

Ikan sapu-sapu berevolusi

Menurut Dewi, ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung tidak berevolusi secara morfologis. Ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung berwarna gelap karena berada di dalam air yang pekat akibat kontaminasi limbah. Kulit ikan sapu-sapu yang lengket juga kemungkinan disebabkan terlalu banyak terkontaminasi limbah di Sungai Ciliwung.

"Kalau evolusi secara morfologi rasanya tidak, tapi kami menduga evolusinya adalah fisiologi karena ikan sapu-sapu yang awalnya hidup di air jernih, kemudian mampu bertahan hidup di air yang sangat-sangat kotor, bahkan mengandung limbah dalam jumlah yang berat," tutur Dewi.

Bahkan, hasil uji toksisitas akut dalam riset pada 2022-2023, ikan sapu-sapu baru bisa mati jika konsentrasi Pb di atas 5.900 ppm.

"Kemampuan letal dosisnya itu ternyata sangat tinggi. Sementara ikan lain mungkin nggak akan sanggup hidup di situ," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
Pemerintah
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Pemerintah
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
BUMN
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pemerintah
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemerintah
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Pemerintah
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
LSM/Figur
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau