Editor
Director of Agriculture New Forests, Bruce King, mengatakan minat terhadap investasi pertanian berkelanjutan terus meningkat.
Menurut dia, kebun makadamia tidak hanya menghasilkan komoditas bernilai tinggi, tetapi juga menggunakan air lebih efisien dan membuka peluang pendapatan tambahan dari manfaat lingkungan.
Di Australia, perusahaan dapat memperoleh satu Australian Carbon Credit Unit (ACCU) untuk setiap ton emisi karbon dioksida ekuivalen yang berhasil diserap atau dicegah.
Namun, hingga kini belum ada metodologi resmi yang secara khusus mengatur kredit karbon untuk tanaman hortikultura tahunan seperti makadamia.
Meski begitu, investor tetap optimistis karena tanaman ini dinilai memiliki jejak emisi yang relatif rendah serta mampu menyimpan karbon di biomassa dan tanah.
Penelitian University of Tasmania yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology pada 2025 menunjukkan kebun makadamia di Australia secara umum berfungsi sebagai penyerap karbon bersih (carbon sink).
Baca juga: Trump Tarik AS dari Perjanjian Paris, Investasi Hijau Bisa Lari ke Negara Lain
Profesor Richard Eckard, yang terlibat dalam pengembangan perangkat akuntansi karbon Australia, menilai hingga kini belum ada dorongan kuat dari industri agar pemerintah menyusun metodologi kredit karbon khusus untuk kebun buah.
Meski demikian, meningkatnya minat investor global menunjukkan pertanian berbasis alam kian dipandang sebagai instrumen penting dalam strategi bisnis rendah karbon.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya