KOMPAS.com - Jepang meluncurkan program baru untuk mengembangkan dan menguji teknologi rendah karbon bagi pusat data. Langkah ini diambil karena Jepang ingin menekan kenaikan emisi akibat pesatnya perluasan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI) generatif.
Melansir Eco Business, Jumat (15/5/2026) Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa inisiatif ini dirancang untuk mendukung target pengurangan emisi negara tersebut pada tahun fiskal 2030, 2035, dan 2040, serta tujuan mencapai bebas emisi karbon pada tahun 2050.
Pihak kementerian menambahkan bahwa kebutuhan akan pusat data diperkirakan akan meningkat seiring percepatan digitalisasi dan penggunaan AI generatif di Jepang.
“Mempercepat digitalisasi dan penggunaan AI generatif sangat mendesak dilakukan untuk memperkuat daya saing industri, mengurangi risiko bencana melalui penyebaran pusat data ke berbagai wilayah, menghidupkan kembali ekonomi lokal, mengatasi masalah penurunan jumlah penduduk, serta melindungi lingkungan,” ujar kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
Baca juga: Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Program ini akan mendanai proyek-proyek yang fokus pada pengembangan dan uji coba teknologi lingkungan untuk mengurangi emisi dari infrastruktur digital. Selain itu, program ini juga akan mempelajari tren pasar dan potensi penggunaannya agar teknologi tersebut bisa diterapkan secara luas di masyarakat.
Di bawah skema ini, proyek individu bisa mendapatkan dana hingga sekitar 2 juta Dolar AS per tahun melalui kontrak kerja sama. Sementara itu, proyek yang berbasis subsidi bisa menerima hingga sekitar 1,6 juta Dolar AS, yang akan menanggung hingga setengah dari total biaya proyek.
Untuk proyek gabungan antara kontrak dan subsidi, total bantuan bisa mencapai sekitar 3,2 juta Dolar AS. Proyek-proyek ini direncanakan berjalan selama empat tahun anggaran, mulai dari tahun 2026 hingga 2029.
Jepang, sama seperti banyak negara lainnya, sedang menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengelola dampak lingkungan dari pusat data karena melonjaknya kebutuhan komputasi berbasis AI.
Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa permintaan listrik dunia dari pusat data naik 17 persen pada tahun 2025. Sementara itu, konsumsi listrik dari fasilitas khusus AI melonjak drastis sebesar 50 persen.
Badan tersebut telah memperingatkan bahwa AI dan pusat data menjadi pendorong utama kenaikan kebutuhan listrik, terutama karena model AI generatif membutuhkan banyak unit pemroses grafis yang boros energi.
Di pusat data modern, server dan perangkat akselerator memakan sekitar 60 persen dari total kebutuhan listrik. Di Jepang sendiri, permintaan untuk pusat data yang siap menjalankan AI berkembang sangat pesat.
Lembaga riset pasar Research and Markets memperkirakan bahwa pasar pusat data Jepang dapat tumbuh dari 12,8 miliar Dolar AS pada tahun 2025 menjadi hampir 39 miliar Dolar AS pada tahun 2031, yang didorong oleh penggunaan AI generatif dan investasi besar-besaran.
Tokyo tetap menjadi pusat utama, meskipun wilayah seperti Hokkaido dan Kyushu semakin banyak menarik proyek-proyek baru karena ketersediaan lahan dan adanya dukungan dari pemerintah.
Ekspansi yang cepat ini juga meningkatkan kekhawatiran atas penggunaan listrik, konsumsi air, dan beban berat pada jaringan listrik.
Baca juga: Anak Perempuan Kurang Percaya Diri Hadapi Teknologi AI Dibandingkan Laki-Laki
Sebuah studi akademik terbaru memperkirakan bahwa kebutuhan listrik pusat data terkait AI di seluruh dunia bisa naik lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030, bahkan berpotensi mencapai hampir 1 persen dari total kebutuhan listrik dunia.
Selain itu, penumpukan infrastruktur AI di wilayah tertentu dapat memberikan beban berat pada sistem kelistrikan daerah tersebut. Para pembuat kebijakan dan perusahaan teknologi kini semakin fokus pada penggunaan pendingin cair, pengoptimalan energi, dan penggunaan energi terbarukan untuk mengurangi emisi dari sektor ini.
Sistem pendingin cair mulai banyak digunakan karena sistem pendingin udara biasa sudah tidak sanggup menangani panas yang dihasilkan oleh kerja AI yang sangat berat.
Perkiraan industri menunjukkan bahwa pasar pendingin cair di Jepang bisa tumbuh lebih dari enam kali lipat pada tahun 2032.
IEA juga menyatakan bahwa meskipun energi terbarukan diharapkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan listrik pusat data, bahan bakar fosil mungkin masih akan memasok lebih dari 40 persen tambahan kebutuhan listrik di sektor ini hingga tahun 2030, kecuali jika penggunaan energi bersih dipercepat lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya