Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah

Kompas.com, 13 Mei 2026, 08:38 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mendorong sebagian konsumen menurunkan jenis BBM yang digunakan untuk kendaraannya, alih-alih mengurangi konsumsi bahan bakar.

Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga Tenny Elfrida mengatakan, fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya penggunaan BBM bersubsidi oleh konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi dengan kualitas lebih tinggi.

“Dampak yang mungkin tidak semua orang menyangka adalah masyarakat men-switch mobilnya, yang tadinya hanya mau dengan jenis BBM non-subsidi, sekarang merelakan mau memakai BBM subsidi,” ujar Tenny dalam webinar, Rabu (16/5/2026).

Menurut dia, lonjakan harga BBM non-subsidi tidak serta merta menurunkan konsumsi energi. Sebaliknya, sebagian pengguna kendaraan, termasuk pemilik mobil kelas premium, memilih menggunakan BBM dengan angka oktan lebih rendah karena harganya lebih murah.

“Faktanya memang tidak ada perubahan konsumsi. Yang tadinya memakai Pertadex, sekarang menurunkan standar,” kata Tenny.

Ia menyebut, hampir satu juta pengguna baru mendaftar akun MyPertamina untuk mendapatkan akses ke BBM bersubsidi.

Kenaikan Harga Dipicu Krisis Energi Global

Harga BBM non-subsidi telah naik dua kali dalam waktu kurang dari satu bulan, seiring kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Jika konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berlanjut lebih dari enam bulan, Indonesia dinilai perlu bersiap menghadapi tekanan lanjutan terhadap harga energi domestik.

Kenaikan harga minyak mentah global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan meningkatnya biaya operasional dapat mengurangi kemampuan pemerintah menahan lonjakan harga BBM.

Meski demikian, konsumsi bahan bakar masih tinggi, tercermin dari kondisi lalu lintas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang tetap padat.

Tenny mengatakan Pertamina tengah mengkaji pembatasan volume BBM subsidi yang dapat dibeli setiap konsumen.

“Kami sedang mengkaji pembatasan jumlah BBM subsidi untuk setiap konsumen,” ujarnya.

Kebijakan tersebut dinilai relevan di tengah meningkatnya perpindahan konsumen dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi.

Pengembangan Bahan Bakar Berkelanjutan

Untuk menjaga ketahanan energi nasional, Pertamina telah mendiversifikasi sumber impor minyak mentah, termasuk meningkatkan pasokan dari Afrika dan Amerika Serikat, meski Timur Tengah masih menjadi pemasok utama.

Perseroan juga menambah fasilitas penyimpanan terapung (*floating storage*) dan mengoptimalkan fleksibilitas operasi kilang untuk meningkatkan produksi bahan bakar yang paling dibutuhkan.

Selain itu, Pertamina terus mengembangkan bahan bakar berkelanjutan seperti *Sustainable Aviation Fuel* (SAF) atau bioavtur.

Menurut Tenny, Pertamina tengah menyiapkan campuran minyak jelantah (used cooking oil/UCO) sebesar 1-3 persen dalam SAF.

“Kalau berhasil, komposisi SAF memang masih didominasi 97 persen bahan bakar fosil, tetapi ini tetap menjadi salah satu langkah menuju energi yang lebih hijau,” ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Pemerintah
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau