Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan

Kompas.com, 15 Mei 2026, 20:44 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Gejolak harga energi akibat konflik di Timur Tengah dinilai menjadi pengingat bahwa ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil membuat ketahanan energi nasional rentan terhadap guncangan global.

Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga Tenny Elfrida mengatakan, krisis energi global saat ini menunjukkan bahwa peralihan ke energi terbarukan tidak bisa lagi ditunda.

“Ini kami baru melihat terlambat ya kita shifting ke arah green energy,” ujar Tenny dalam webinar, Rabu (16/5/2026).

Baca juga: INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU

Menurut dia, selama ini transisi energi berjalan lambat karena investasi di sektor energi bersih dianggap mahal dan belum ekonomis. Namun, lonjakan harga minyak dunia membuktikan bahwa biaya ketergantungan pada energi fosil justru lebih besar.

Kenaikan harga minyak mentah global telah menekan anggaran negara melalui subsidi energi yang membengkak. Dampaknya juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok.

Butuh Dukungan Pemerintah

Tenny menjelaskan, pengembangan energi baru terbarukan seperti *sustainable aviation fuel* (SAF), bioetanol, dan hidrogen membutuhkan investasi besar dan riset jangka panjang, sehingga sulit jika sepenuhnya dibebankan kepada pelaku usaha.

Ia menilai pemerintah perlu membangun ekosistem yang mendukung, baik melalui insentif maupun regulasi yang membuat proyek energi bersih menjadi layak secara ekonomi.

“Kalau Indonesia mau mencapai net zero emission, kami juga membutuhkan dukungan untuk mengembangkan bioetanol, SAF, hidrogen, dan energi alternatif lainnya,” kata Tenny.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Unggul Priyanto, mengatakan Indonesia tertinggal dalam pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin untuk mengurangi impor BBM.

Menurut dia, pengembangan bioetanol tidak secepat biodiesel berbasis minyak sawit yang telah berkembang melalui program mandatori pencampuran solar.

“Bioetanol harus dipercepat. Kalau menunggu produksi dalam negeri, akan terlalu lama, terutama dalam situasi krisis,” ujar Unggul.

Baca juga: Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima

Ia mendorong penerapan mandatori E20 atau pencampuran 20 persen bioetanol ke dalam bensin. Selain itu, elektrifikasi sektor transportasi melalui penggunaan kendaraan listrik juga dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Nuklir Dibutuhkan sebagai Beban Dasar

Selain energi terbarukan seperti surya dan angin, Unggul menilai Indonesia juga perlu mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk menjamin pasokan listrik yang stabil.

Menurut dia, energi nuklir bersama panas bumi dan tenaga air dapat menggantikan peran pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara sebagai sumber listrik beban dasar (base load).

Pandangan serupa disampaikan Lektor Kepala Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung Retno Gumilang Dewi. Ia menilai pengalaman Iran menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber energi, termasuk pemanfaatan energi nuklir, untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau