Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia

Kompas.com, 18 Mei 2026, 08:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perubahan iklim selama ini banyak dipahami sebagai ancaman bagi lingkungan dan ekonomi.

Namun, penelitian baru dari Universitas Sydney menunjukkan bahwa perubahan iklim juga merupakan krisis sosial yang terus berkembang, karena melemahkan hubungan antarmanusia yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Melansir Phys, Kamis (15/5/2026) penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behaviour tersebut menemukan bahwa perubahan iklim merusak hubungan sosial justru di saat ikatan tersebut paling dibutuhkan.

Hal ini menciptakan lingkaran setan, di mana rusaknya hubungan sosial membuat orang-orang semakin sulit untuk beradaptasi dan bangkit dari bencana.

"Perubahan iklim bukan sekadar sesuatu yang terjadi di luar sana. Melainkan juga mengubah cara kita hidup, cara kita berhubungan, dan pada akhirnya, menentukan siapa saja yang bisa mendapatkan bantuan saat situasi menjadi buruk," kata penulis utama Dr. Marlee Bower dari Matilda Center untuk Penelitian Kesehatan Mental dan Penggunaan Zat.

Baca juga: Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia

Bagaimana perubahan iklim merusak hubungan sosial?

Penelitian ini mengumpulkan berbagai bukti dari seluruh dunia yang menunjukkan bahwa tekanan iklim mengurangi kesempatan kita untuk mengobrol dan berkumpul sehari-hari.

Gelombang panas dan polusi udara memaksa orang-orang tetap tinggal di dalam rumah dan menjauh dari tempat umum seperti taman atau lapangan. Selain itu, terganggunya kegiatan sekolah dan kerja membuat hubungan pertemanan jadi lebih sulit dijaga.

Bukti dari China dan Tuvalu menunjukkan bahwa tekanan-tekanan ini bisa menurunkan aktivitas sosial, meningkatkan stres atau depresi, dan dalam beberapa kasus, membuat orang benar-benar menarik diri dari kehidupan bermasyarakat.

Ketika bencana seperti banjir, angin topan, dan kebakaran hutan melanda, dampaknya terasa sangat cepat. Banyak orang harus mengungsi, rumah serta tempat-tempat umum rusak, dan kegiatan sehari-hari pun menjadi berantakan.

Sementara studi kasus di Republik Dominika dan Jepang menunjukkan bahwa meskipun pindah tempat tinggal membuat fisik mereka lebih aman, hal itu justru bisa membuat banyak orang merasa lebih terasing secara sosial dan mengalami penurunan kesehatan.

Di pedesaan Australia, kekeringan yang berkepanjangan terbukti membuat warga semakin jarang ikut serta dalam kegiatan masyarakat dan merasa makin kesepian.

Selain itu, masalah keuangan, kekurangan makanan, dan maraknya berita bohong membuat orang-orang semakin sulit untuk saling terhubung dan percaya satu sama lain.

Penelitian ini menemukan bahwa dampak-dampak tersebut tidak dirasakan secara merata. Orang-orang yang sudah menghadapi kesulitan seperti mereka yang berpenghasilan rendah, tinggal di rumah yang tidak layak, penyandang disabilitas, atau dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan lebih rentan terhadap risiko iklim dan lebih sulit untuk tetap saling terhubung dengan orang lain.

Baca juga: Mengapa Aksi Perubahan Iklim Bergerak Lambat?

"Banyak orang menghadapi beban ganda. Mereka lebih rentan terhadap dampak iklim karena lokasi dan kondisi tempat tinggal mereka, sekaligus memiliki lebih sedikit bantuan sosial dan keuangan yang bisa diandalkan," kata Dr. Bower.

Seiring bertambahnya tekanan-tekanan ini, para peneliti menggambarkan adanya "kesenjangan kesehatan sosial" yang semakin melebar antara orang-orang yang tetap terhubung dengan baik dan mereka yang menjadi semakin terasing.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau