Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei: Kinerja Lingkungan Kini Jadi Pilar Inti Strategi Bisnis

Kompas.com, 19 Mei 2026, 18:09 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Survei global terbaru dari perusahaan solusi berkelanjutan Onterris mengungkapkan sebagian besar eksekutif bisnis menghubungkan kesuksesan bisnis mereka dengan seberapa baik kinerja mereka dalam menjaga lingkungan pada setiap kegiatan operasionalnya.

Melansir ESG Dive, Senin (18/5/2026) survei tersebut menemukan bahwa sebagian perusahaan yang memiliki program lingkungan lebih maju punya peluang tiga kali lebih besar untuk mencapai target mereka lebih cepat.

Mereka juga memiliki peluang dua kali lebih besar untuk lebih mudah mendapatkan modal usaha dan menjadi lebih kompetitif.

Sembilan puluh persen dari 500 pemimpin perusahaan senior yang disurvei mengatakan bahwa mereka lebih mudah mendapatkan modal selama lima tahun terakhir, dengan 43 persen di antaranya melaporkan keuntungan yang sangat besar.

Laporan tersebut menemukan bahwa bagi hampir 8 dari 10 pemimpin perusahaan, kinerja yang baik dalam menjaga lingkungan memberikan dampak positif bagi posisi persaingan perusahaan mereka di pasar.

Baca juga: 13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI

Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa kinerja lingkungan ini sangat membantu menjaga kesetiaan pelanggan agar tidak pindah ke tempat lain, atau menjadi pendorong utama untuk memenangkan persaingan dan memperbesar bisnis mereka.

Survei yang dilakukan pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 ini mengumpulkan jawaban dari 500 petinggi pengambil keputusan, termasuk para direktur utama perusahaan (C-suite).

Dari seluruh peserta, 60 persen mewakili perusahaan di Amerika Utara, 20 persen di Eropa, dan 20 persen di Australia serta Selandia Baru, dengan pendapatan perusahaan mulai dari 250 juta hingga 5 miliar dolar AS.

Perencanaan lingkungan

Hampir semua pemimpin yang disurvei mengatakan mereka sudah punya rencana atau panduan khusus untuk urusan lingkungan. Sebanyak 76 persen di antaranya telah membuat target yang jelas dan bisa diukur, dan 75 persen melaporkan bahwa mereka berjalan di jalur yang tepat untuk mencapai target tersebut.

Lebih dari separuh peserta (54 persen) menyebut kinerja lingkungan sebagai "pilar inti" dari strategi dan pertumbuhan jangka panjang mereka. Sebanyak 30 persen lainnya menganggap hal itu sebagai pendorong inovasi di pasar, sementara hanya 16 persen yang melihatnya sekadar sebagai kewajiban untuk mematuhi aturan pemerintah atau mengurangi risiko.

Perusahaan-perusahaan juga melaporkan adanya penghematan biaya berkat perencanaan lingkungan yang matang.

Baca juga: Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat

Sebagian besar dari mereka berhasil memangkas biaya pengelolaan dan pembuangan limbah, di mana 31 persen di antaranya melaporkan penurunan biaya yang cukup besar (10 persen atau lebih) dan 33 persen lainnya melaporkan penghematan yang lumayan (kurang dari 10 persen).

Jumlah bos perusahaan yang melaporkan penghematan besar dan lumayan pada biaya energi serta pengolahan air juga hampir sama.

Jika dilihat berdasarkan jenis industrinya, 80 persen peserta dari industri pembuatan bahan kimia mengaku sudah memiliki strategi lingkungan khusus dengan target yang jelas, sementara rata-rata untuk semua sektor gabungan adalah 76 persen.

Di sisi lain, sektor pengelolaan sampah dan limbah padat serta sektor manufaktur industri menjadi yang paling banyak menjawab bahwa penerapan program lingkungan mereka masih berada di tahap awal. Bahkan, lebih dari sepertiga bos perusahaan di sektor pengelolaan sampah mengaku bahwa mereka terlambat dalam mencapai target lingkungan mereka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau