Pendorong dari dalam perusahaan untuk membuat rencana lingkungan meliputi pengelolaan risiko yang lebih baik dan perencanaan ketahanan bisnis (47 persen), diikuti oleh kesempatan untuk membuat operasional kerja menjadi lebih hemat dan efisien (44 persen), serta kesempatan untuk beralih ke teknologi baru (40 persen).
Selain itu, lebih dari setengah pemimpin perusahaan mengatakan bahwa bonus atau gaji bagi para direktur utama di perusahaan mereka dikaitkan dengan kinerja lingkungan mereka.
Meskipun pencatatan nilai kinerja lingkungan sudah dilakukan secara meluas, tidak semua hal dianggap sama pentingnya.
Sebagai contoh, 84 persen perusahaan mencatat emisi gas rumah kaca langsung (Scope 1 dan 2), dan 80 persen mencatat penggunaan energi atau tingkat kehematan energi mereka.
Namun, laporan tersebut menyebutkan bahwa baru 35 persen perusahaan saja yang mencatat emisi scope 3 yaitu polusi tidak langsung yang dihasilkan oleh pihak luar seperti pemasok atau konsumen, karena data untuk bagian ini memang sangat sulit untuk dikumpulkan.
Baca juga: Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Lebih lanjut, hanya sekitar setengah dari para pemimpin perusahaan yang sangat yakin dengan keakuratan dan kekuatan data kinerja lingkungan utama mereka.
Selain itu, 49 persen di antaranya mengatakan bahwa investor dan pihak bank pemberi pinjaman sering kali mempertanyakan atau meragukan data lingkungan yang mereka umumkan.
Sebagian besar dari mereka yaitu 70 persen mengatakan bahwa investor menuntut rencana perubahan iklim yang sangat rinci, yang menjelaskan bagaimana target pengurangan polusi akan dicapai.
“Kinerja lingkungan telah mencapai titik balik yang sangat penting,” kata Direktur Operasional Onterris, James Laws.
“Hal yang dulunya hanya dianggap sebagai kewajiban mematuhi aturan pemerintah, sekarang menjadi faktor yang sangat menentukan dalam cara perusahaan bekerja, mengatur modal uang, dan bersaing," paparnya lagi.
Tahap berikutnya adalah pelaksanaan nyata. Perusahaan-perusahaan yang bisa mengukur, membuktikan, dan bertindak berdasarkan data lingkungan akan menjadi yang terbaik dalam hal penghematan biaya, pengelolaan risiko, dan kepemimpinan pasar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya