Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran

Kompas.com, 19 Mei 2026, 19:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru menunjukkan hutan tropis mendekati titik kritisnya seiring dengan makin sering dan meluasnya bencana kekeringan di wilayah tropis di seluruh dunia.

Penelitian tersebut menemukan pula bahwa ekosistem ini makin kesulitan untuk pulih dari kondisi kering yang berkepanjangan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa sebagian hutan nantinya bisa berubah fungsi, dari yang tadinya menyerap karbon dioksida menjadi malah melepaskannya kembali ke udara.

Melansir Phys, Senin (18/5/2026) studi yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, mengamati catatan iklim dan hasil pantauan satelit selama hampir 40 tahun di wilayah tropis Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara.

Kekeringan di wilayah tropis makin meluas

Dr. Shuai Cheng dari Eastern Institute of Technology China bersama rekan-rekannya kemudian menemukan bahwa kekeringan yang merusak tumbuh-tumbuhan tropis terus meningkat sejak awal tahun 1980-an, di mana dampak paling parah terlihat di hutan tropis Afrika.

Para ilmuwan sudah lama tahu bahwa hutan tropis punya peran yang sangat penting dalam mengatur iklim bumi.

Pohon-pohon menyerap karbon dioksida saat memasak melakukan fotosintesis, lalu menyimpan karbon tersebut dalam jumlah yang sangat besar di dalam batang, dahan, akar, hingga ke dalam tanah.

Baca juga: Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama

Bersama-sama, ekosistem tropis ini membuang miliaran ton karbon dioksida dari udara setiap tahunnya, sehingga membantu memperlambat laju pemanasan global. Namun, sistem pelindung alami ini sangat bergantung pada kondisi hutan yang harus tetap sehat agar bisa terus tumbuh.

Seiring dengan suhu bumi yang semakin naik dan pola hujan yang berubah-ubah, stres akibat kekeringan menjadi ancaman yang terus membesar bagi keseimbangan tersebut.

Dalam studinya ini, peneliti tidak hanya mengandalkan catatan curah hujan melainkan membuat sebuah metode baru untuk melihat bagaimana tumbuh-tumbuhan itu sendiri merespons kondisi kekeringan.

Dengan menggunakan hasil pantauan satelit jangka panjang tentang aktivitas tanaman serta data iklim dari tahun 1982 hingga 2019, mereka berhasil menemukan periode-periode di mana tanaman tropis menunjukkan tanda-tanda stres fisik yang disebabkan oleh kurangnya air di dalam tanah dan kondisi udara yang kering.

Penelitian tersebut menemukan bahwa gabungan dari tekanan-tekanan ini semakin parah di sebagian besar wilayah tropis. Lebih dari setengah peningkatan kekeringan pada tanaman berhubungan dengan berkurangnya air di dalam tanah, yang sebagian besar disebabkan oleh suhu bumi yang semakin panas dan udara yang semakin kering.

Afrika menjadi wilayah yang mengalami perluasan kekeringan tanaman paling parah, meskipun peningkatan yang cukup besar juga terlihat di hutan Amazon dan Asia Tenggara.

Para peneliti mengatakan bahwa tren ini menunjukkan ekosistem tropis kini menghadapi masa-masa kekurangan air yang lebih lama dan lebih luas dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya.

Efek domino

Bagi hutan tropis, kekeringan yang terjadi terus-menerus bisa menyebabkan efek domino yang merusak. Saat kekurangan air, pohon-pohon akan menutup lubang-lubang kecil pada daunnya demi menghemat air agar tidak kering.

Meskipun cara ini bisa menyelamatkan mereka dari kehabisan cairan, dampaknya pohon jadi tidak bisa menyerap banyak karbon dioksida untuk fotosintesis.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau